Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

BRIN Perkuat Mitigasi Siklon Tropis Berbasis Riset dan Kesiapsiagaan Nasional

Atalya Puspa    
10/12/2025 09:48
BRIN Perkuat Mitigasi Siklon Tropis Berbasis Riset dan Kesiapsiagaan Nasional
Bibit siklon diprediksi akan terjadi dalam waktu dekat(Dok: BMKG)

BENCANA yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dalam beberapa waktu terakhir tidak terjadi secara tiba-tiba. Fenomena siklon tropis yang dipengaruhi oleh perubahan iklim global telah meningkatkan intensitas hujan ekstrem dan angin kencang, sehingga memperbesar risiko banjir bandang, longsor, serta kerusakan infrastruktur.

Menurut Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin, sejak dekade 1980-an peningkatan suhu muka laut dan perubahan pola sirkulasi atmosfer telah menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya siklon tropis maupun badai skala menengah hingga besar. Di wilayah Sumatra, peningkatan hujan ekstrem dan angin kencang terjadi secara bersamaan sehingga memperbesar tingkat kerusakan.

“Banjir bandang dan longsor tidak hanya disebabkan oleh hujan lebat sesaat, tetapi oleh hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari. Kondisi ini menyebabkan tanah jenuh air, debit sungai meningkat, dan lereng kehilangan kestabilannya,” jelas Erma.

Ia menambahkan, potensi kemunculan siklon tropis sebenarnya dapat terdeteksi beberapa hari hingga bulan sebelumnya melalui pemodelan cuaca. BRIN telah mengembangkan berbagai perangkat prediksi cuaca dan iklim untuk menangkap sinyal awal penguatan hujan dan angin ekstrem. Namun, tantangan utama masih terletak pada optimalisasi pemanfaatan hasil prediksi tersebut dalam sistem mitigasi dan kesiapsiagaan.

“Peringatan dini menjadi kunci utama untuk menekan risiko korban jiwa dan kerusakan. Tantangannya adalah memastikan informasi tersebut dapat ditindaklanjuti secara cepat dan tepat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, pakar kebencanaan Universitas Indonesia, Jan Sopaheluwakan, menekankan pentingnya penguatan kesiapsiagaan berbasis komunitas dalam menghadapi ancaman siklon tropis. Menurutnya, Indonesia perlu mengembangkan konsep Cyclone Ready Community sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.

“Ancaman siklon tropis bersifat berulang dan berfrekuensi tinggi. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan,” ujarnya.

Jan menilai bahwa sistem peringatan dini di Indonesia telah berkembang dengan baik dari sisi teknis. Namun, ia menekankan perlunya penguatan koordinasi lintas lembaga serta peningkatan pemahaman dan kesiapan di tingkat daerah agar informasi peringatan dini dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan mitigasi yang lebih strategis dan terintegrasi dalam kebijakan pembangunan. Menurutnya, investasi pada penguatan ketahanan dan mitigasi bencana merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan pembangunan.

“Mitigasi dan ketahanan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mengurangi risiko dan kerugian akibat bencana,” tuturnya.(M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya