Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Banjir Sumatra, Pakar UGM Soroti Kerusakan Habitat Gajah Sumatera Akibat Alih Fungsi Lahan Sawit

Ardi Teristi Hardi
02/12/2025 14:29
Banjir Sumatra, Pakar UGM Soroti Kerusakan Habitat Gajah Sumatera Akibat Alih Fungsi Lahan Sawit
Gajah Sumatera di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (2019)(Dok. Istimewa)

BENCANA tanah longsor dan banjir di Sumatra membuat satwa ikut menjadi korban, termasuk gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) 
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo mengatakan banjir disebabkan oleh alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit.

“Jadi, hilangnya habitat karena ulah manusia itu dengan sendirinya juga, flora dan faunanya juga ikut menjadi korban,” papar dia dalam siaran pers, Selasa (2/12). 

Menurut Wisnu, banjir bandang yang disebabkan oleh alih fungsi lahan perkebunan sawit tersebut tentu mengakibatkan gajah-gajah menjadi terfragmentasi dan menjadi semakin terjepit. Tidak hanya kelapa sawit, habitat asli dari gajah juga dialihfungsikan menjadi pertambangan, pembuatan jalan, permukiman, dan perladangan. 

Selain gajah yang menjadi korban, bentang alam pun kian menyusut akibat dari ulah manusia. Hal tersebut membuat gajah terseret ke pemukiman warga.

“Padahal untuk seekor gajah itu perlu tempat untuk sosialisasi, berkumpul bersama dengan kelompok gajah, dengan kawanan gajah yang lain," ungkap dia. Kemudian dia sudah memiliki jalur misalnya untuk mandi, mencari makan, berkembang biak di habitat yang nyaman, sehingga populasinya bisa semakin meningkat.

Namun, dengan adanya kondisi seperti ini, itu akan membuat mereka itu juga semakin terjepit dan terpaksa terseret ke pemukiman,” jelas Wisnu.

Wisnu sendiri menilai bahwa untuk mencegah hal yang serupa tersebut tentu perlu dilakukan konservasi dengan cara menjaga habitat asli dari para gajah. 

Menurutnya habitat paling baik bagi mereka terdapat di tanah Sumatera, oleh karena itu pelarangan membuka pertambangan atau pembangunan infrastruktur jalan yang membelah hutan perlu diterapkan. Namun, bagi Wisnu ‘pembunuh utama’ dari gajah tersebut adalah alih fungsi lahan menjadi kelapa sawit.  

“Nah, khusus untuk di Aceh ini mestinya ya segera dibuat ketentuan bahwa tidak boleh ada lagi pembukaan lahan untuk kelapa sawit,” terang dia.

Wisnu menegaskan bahwa bencana yang terjadi di Sumatera ini merupakan ulah dari manusia melalui penebangan hutan, penanaman kelapa sawit, dan membuka lahan untuk pertambangan. Hal ini tentu tidak hanya memberi dampak pada manusia, tetapi juga satwa liar. 

“Nah ini yang harus diingat, kita harus berbagi ruang antara satwa liar dan flora. Jadi harus berbagi ruang, kalau enggak nanti akan menjadikan malapetaka-malapetaka selanjutnya,” tutup dia. (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya