Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Antisipasi Penyakit Pascabencana Banjir dan Tanah longsor Sumatra

M Iqbal Al Machmudi
30/11/2025 15:44
Antisipasi Penyakit Pascabencana Banjir dan Tanah longsor Sumatra
Sejumlah warga berjalan di antara potongan kayu gelondongan yang bertumpuk di pantai Air Tawar, Padang, Sumatra Barat(ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

MUSIBAH banjir besar yang melanda Sumatra menyebabkan ratusan korban meninggal dan puluhan ribu warga mengungsi dan kerusakan infrastruktur yang luas di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Pada umumnya setelah bencana banjir akan diikuti dengan berbagai penyakit

Masyarakat yang sedang mengalami kebanjiran sebagian besar tinggal di pengungsian, mereka akan berisiko untuk terjadinya penurunan daya tahan tubuh.

"Kenapa hal ini terjadi? Mereka dalam kondisi stres akibat kehilangan harta benda, istirahat yang kurang dan makan minum ala kadarnya," kata Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Ari F Syam, dalam keterangannya, Minggu (30/11). 

Kondisi itu akan menyebabkan daya tahan tubuh masyarakat menurun. Di satu sisi mereka akan terpapar dengan berbagai penyakit infeksi termasuk infeksi saluran pernafasan atas bahkan sampai terjadi infeksi paru sampai pneumonia.

Selain itu, masyarakat yang terdampak banjir umumnya tinggal dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat. karena pascabanjir berisiko untuk terinfeksi oleh infeksi saluran pencernaan antara lain diare atau demam tifoid. 

Faktor lainnya yakni kondisi lingkungan bekas banjir juga bisa menimbulkan berbagai infeksi tetanus dan leptospirosis. 

"Infeksi tetanus terjadi jika masyarakat yang kebetulan sedang membersihkan lokasi pascabanjir dan tertusuk paku yang berpotensi masuknya bakteri clostridium tetani yang banyak dijumpai pada debu dan kotoran hewan," ujar dia.

"Bakteri lebih mudah masuk melalui terinjak benda tajam. Kita masih ingat bahwa setelah Tsunami di Aceh dilaporkan banyak kasus masyarakat yang terinfeksi tetanus. Pasien tetanus biasanya terjadi setelah 4-21 hari setelah masuknya kuman ke dalam tubuh. Pasien akan mengalami kekakuan tangan, badan, tengkuk, dan terasa sakit. Pasien mengalami kaku kuduk," sambungnya.

Selain penyakit tetanus penyakit yang perlu diantisipasi jika berhubungan dengan pembersihan lokasi banjir adalah penyakit leptospirosis. Penyakit ini sering kali muncul setelah banjir. 

Leptospirosis atau juga dikenal dengan penyakit demam kuning terjadi karena pasien tertular melalui paparan dengan kotoran tikus. Orang dengan leptospirosis  mengalami demam tinggi, menggigil, mual, muntah, serta buang air kecil berwarna kuning. Karena infeksi menyerang liver maka sering disebut hepatitis non virus. 

"Yang menjadi masalah lain adalah komplikasi leptospirosis dapat menyebabkan terjadi gagal ginjal akut, pankreatitis, meningitis dan perdarahan jika infeksi setelah berlangsung sistemis," ucapnya.

Ari mengingatkan bahwa pascabencana banjir dampaknya masih terus berlanjut. Sehingga segera mungkin masyarakat yang sedang mengalami musibah banjir ini harus dibantu. Mereka harus dilengkapi dengan alat pelindung diri saat membersihkan bekas banjir, misal dengan sepatu bot, masker, sarung tangan pelindung kepala dan mata. 

Mengingat bakteri ini bisa masuk dari luka pada kaki dan tangan atau tertelan. Disinfektan juga harus didistribusikan kepada masyarakat yang akan membersihkan lokasi pasca banjir. 

"Untuk para pengungsi harus dijaga bahwa para pengungsi tetap dijaga makan dan minumnya, selimut dan alas tidur yang memadai dan berbagai fasilitas protokol Kesehatan seperti, masker dan sabun atau hand sanitizer untuk menekan penularan infeksi," pungkasnya. (Iam/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik