Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Menilik Ketahanan Psikologis Penyintas Banjir: Mengapa Warga Desa dan Kota Berbeda?

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 07:35
Menilik Ketahanan Psikologis Penyintas Banjir: Mengapa Warga Desa dan Kota Berbeda?
Ilustrasi--Sejumlah warga beristirahat di posko pengungsian aula Gedung DPRD Kabupaten Kudus, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (18/1/2026).(ANTARA/Aprillio Akbar)

BENCANA banjir yang melanda Aceh Tamiang menyisakan dampak mendalam bagi para penyintas. Di balik kerusakan fisik, ada dimensi psikologis yang menjadi sorotan penting. 

Psikolog klinis sekaligus relawan Tim Cadangan Kesehatan (TCK) dari Kementerian Kesehatan RI, Anna Aulia, mengungkapkan adanya perbedaan pola ketahanan mental antara warga desa dan warga kota dalam menghadapi situasi tersebut.

Anna menjelaskan bahwa selama mendampingi penyintas di berbagai kecamatan, ia mengamati bahwa warga di wilayah desa terpencil cenderung lebih cepat menerima kondisi pascabencana.

“Di desa, mereka fokus bagaimana bisa bertahan hidup lagi. Kalau rumah hilang, mereka bilang akan bangun lagi dan cari pekerjaan lagi,” ujar Anna, dikutip Rabu (25/2). 

Menurutnya, perbedaan ini berkaitan erat dengan cara pandang masyarakat terhadap kehilangan. Warga desa yang terbiasa hidup dengan keterbatasan dinilai lebih mudah beradaptasi saat harus kehilangan harta benda.

Sebaliknya, warga yang tinggal di kawasan pusat kota yang lebih berkembang cenderung menunjukkan guncangan emosional yang lebih intens. 

Hilangnya aset, usaha, serta pekerjaan menjadi beban psikologis yang membuat proses pemulihan bagi warga kota sering kali berlangsung lebih lama.

Kendati demikian, Anna menegaskan bahwa setiap individu memiliki respons yang unik terhadap bencana. 

Menurutnya, besarnya dampak tidak sekadar ditentukan oleh lokasi geografis tempat tinggal. 

“Setiap individu memiliki respons yang berbeda. Selain lokasi, ini juga ditentukan oleh pengalaman kehilangan dan dukungan sosial yang dimiliki,” tambahnya.

Guna menangani hal tersebut, relawan TCK melakukan penyaringan awal untuk mengidentifikasi penyintas yang menunjukkan indikasi trauma berat. 

Pendekatan yang dilakukan difokuskan pada pemulihan trauma serta layanan psikososial, yang bertujuan membantu para penyintas untuk kembali terhubung dengan lingkungan sekitar.

Anna menekankan bahwa proses pemulihan psikologis membutuhkan waktu dan tidak bisa berlangsung instan. Oleh karena itu, kehadiran dukungan sosial menjadi elemen paling krusial. 

“Yang paling penting adalah mereka merasa tidak sendiri dan tetap memiliki dukungan dari lingkungan,” tegasnya.

Penerjunan relawan TCK di Aceh merupakan bagian dari program pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI untuk memperkuat layanan kesehatan pascabencana. 

Selain memastikan akses layanan kesehatan dasar tetap berjalan, pemerintah berkomitmen memberikan dukungan kesehatan mental bagi masyarakat terdampak guna memastikan pemulihan yang komprehensif bagi seluruh penyintas. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya