Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA UKK Respirologi IDAI Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp Resp(K) mengatakan kecepatan penanganan pneumonia pada anak menjadi faktor penentu kesembuhan dan mencegah risiko kematian.
Nastiti menjelaskan faktor kecepatan penanganan pneumonia sering kali terhambat karena akses ke fasilitas kesehatan yang jauh sehingga tidak bisa cepat sampai di rumah sakit dan keterbatasan alat kesehatan untuk membantu pertolongan pertama seperti oksigen.
"Memang faktor kecepatan pertolongan itu sangat mempengaruhi, teman-teman di daerah mohon maaf yang mungkin akses kesehatannya agak lama, menempuh jarak yang cukup jauh ke rumah sakit, keterbatasan oksigen, obat dan yang lain itu bisa menyebabkan angka kematian pada pneumonia tidak turun-turun," kata Nastiti, dikutip Senin (24/11).
Nastiti mengatakan setiap 43 detik anak meninggal karena pneumonia yang disebabkan berbagai jenis bakteri maupun virus. Bakteri yang paling sering menyebabkan pneumonia adalah streptococcus pneumonia atau pneumococcus, yang lainnya dari virus seperti hemovirus influenza, pertusis, klebsiella, RSV, rinovirus dan parainfluenza.
Apa yang terjadi di negara berkembang, kematian anak akibat pneumonia disebabkan karena keterlambatan dibawa ke rumah sakit yang disebabkan banyak faktor dan ketidaktahuan orangtua untuk mengenali gejala dan tanda bahaya pneumonia.
Pneumonia diawali dengan gejala seperti selesma atau common cold infeksi saluran pernapasan atas, dengan batuk pilek, dan demam. Namun gejala bisa berkembang menjadi pneumonia jika napas anak sudah terlihat cepat, sesak napas, lesu, lemah sampai kesadarannya menurun.
"Kalau dicermati pernapasannya itu di bagian dadanya ada tarikan dinding dada ke dalam yang menandakan anak itu sedang meningkatkan usaha nafas untuk mengatasi kekurangan oksigen yang ada di dalam tubuh. Kalau sampai berat, bisa sampai biru kemudian kejang dan penurunan kesadaran," ujar Nastiti.
Nastiti mengatakan pengetahuan untuk mengenali tanda awal pneumonia harus diketahui mulai dari posyandu, tenaga kesehatan di Puskesmas hingga kader, dengan cara menghitung napas anak selama satu menit tidak boleh lebih dari 60 kali per menit pada usia kurang dari 2 bulan.
Pada anak dua bulan sampai satu tahun frekuensi pernapasan tidak boleh 50 kali per menit dan di atas satu tahun batasannya 40 kali per menit. Saturasi oksigen juga perlu diperhatikan tidak di bawah 95%.
Kematian pada anak karena pneumonia juga bisa disebabkan karena gizi buruk dan malnutrisi berat. Maka itu penting pemberian ASI eksklusif untuk menambah antibodi pada bayi dan menurunkan risiko pneumonia. (Ant/Z-1)
Edukasi seksual ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Gangguan hormon yang tidak ditangani sejak dini dapat menghambat perkembangan organ reproduksi secara optimal.
Proses grooming biasanya dimulai dengan upaya halus untuk menumbuhkan rasa percaya.
Child grooming adalah proses manipulatif ketika pelaku, biasanya orang dewasa, membangun hubungan emosional dengan seorang anak.
Child grooming adalah proses sistematis untuk mempersiapkan anak menjadi korban pelecehan.
Dunia pernikahan menuntut kesiapan mental yang jauh lebih kompleks, seperti kemampuan mengelola konflik dan tanggung jawab rumah tangga yang besar.
Anak yang memiliki penyakit penyerta atau mengonsumsi obat-obatan tertentu memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi berat akibat influenza.
Pertolongan pertama dan penanganan yang tepat sangat krusial untuk dilakukan, termasuk hal-hal sederhana yang bisa dilakukan di rumah saat anak mengalami pneumonia.
Salah satu yang bisa tingkatkan risiko pneumonia pada anak adalah asap rokok. Namun, selain asap rokok, juga terdapat hal-hal lain yang bisa tingkatkan risiko pneumonia pada anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved