Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kecepatan Penanganan Pneumonia pada Anak Tentukan Kesembuhan

Basuki Eka Purnama
24/11/2025 16:06
Kecepatan Penanganan Pneumonia pada Anak Tentukan Kesembuhan
Ilustrasi(Freepik)

KETUA UKK Respirologi IDAI Dr dr Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp Resp(K) mengatakan kecepatan penanganan pneumonia pada anak menjadi faktor penentu kesembuhan dan mencegah risiko kematian.

Nastiti menjelaskan faktor kecepatan penanganan pneumonia sering kali terhambat karena akses ke fasilitas kesehatan yang jauh sehingga tidak bisa cepat sampai di rumah sakit dan keterbatasan alat kesehatan untuk membantu pertolongan pertama seperti oksigen.

"Memang faktor kecepatan pertolongan itu sangat mempengaruhi, teman-teman di daerah mohon maaf yang mungkin akses kesehatannya agak lama, menempuh jarak yang cukup jauh ke rumah sakit, keterbatasan oksigen, obat dan yang lain itu bisa menyebabkan angka kematian pada pneumonia tidak turun-turun," kata Nastiti, dikutip Senin (24/11).

Nastiti mengatakan setiap 43 detik anak meninggal karena pneumonia yang disebabkan berbagai jenis bakteri maupun virus. Bakteri yang paling sering menyebabkan pneumonia adalah streptococcus pneumonia atau pneumococcus, yang lainnya dari virus seperti hemovirus influenza, pertusis, klebsiella, RSV, rinovirus dan parainfluenza.

Apa yang terjadi di negara berkembang, kematian anak akibat pneumonia disebabkan karena keterlambatan dibawa ke rumah sakit yang disebabkan banyak faktor dan ketidaktahuan orangtua untuk mengenali gejala dan tanda bahaya pneumonia.

Pneumonia diawali dengan gejala seperti selesma atau common cold infeksi saluran pernapasan atas, dengan batuk pilek, dan demam. Namun gejala bisa berkembang menjadi pneumonia jika napas anak sudah terlihat cepat, sesak napas, lesu, lemah sampai kesadarannya menurun.

"Kalau dicermati pernapasannya itu di bagian dadanya ada tarikan dinding dada ke dalam yang menandakan anak itu sedang meningkatkan usaha nafas untuk mengatasi kekurangan oksigen yang ada di dalam tubuh. Kalau sampai berat, bisa sampai biru kemudian kejang dan penurunan kesadaran," ujar Nastiti.

Nastiti mengatakan pengetahuan untuk mengenali tanda awal pneumonia harus diketahui mulai dari posyandu, tenaga kesehatan di Puskesmas hingga kader, dengan cara menghitung napas anak selama satu menit tidak boleh lebih dari 60 kali per menit pada usia kurang dari 2 bulan.

Pada anak dua bulan sampai satu tahun frekuensi pernapasan tidak boleh 50 kali per menit dan di atas satu tahun batasannya 40 kali per menit. Saturasi oksigen juga perlu diperhatikan tidak di bawah 95%.

Kematian pada anak karena pneumonia juga bisa disebabkan karena gizi buruk dan malnutrisi berat. Maka itu penting pemberian ASI eksklusif untuk menambah antibodi pada bayi dan menurunkan risiko pneumonia. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya