Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Sekolah Lapang Gempa Bumi 2025, BMKG Perkuat Budaya Siaga Bencana di Medan

Ficky Ramadhan
22/11/2025 13:50
Sekolah Lapang Gempa Bumi 2025, BMKG Perkuat Budaya Siaga Bencana di Medan
Ilustrasi : peserta sekolah lapang gempa bumi(ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyelenggarakan Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) 2025 di Balai Besar MKG Wilayah I Medan, guna melindungi masyarakat dari ancaman gempa bumi dan tsunami. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat edukasi kebencanaan bagi masyarakat Sumatra Utara, khususnya Kota Medan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, wilayah Sumatra Utara memiliki potensi dan risiko kegempaan karena letaknya yang berada di dekat zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia, serta keberadaan sesar aktif seperti Sesar Sumatra.

Berbagai peristiwa gempa bumi besar pernah terjadi di wilayah ini, termasuk gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 di Aceh, getarannya juga turut dirasakan hingga Kota Medan.

"Meskipun tidak berada tepat di garis sesar, Kota Medan tetap rentan terhadap dampak guncangan. Intensitas getaran dapat memengaruhi infrastruktur, terutama bangunan yang tidak tahan gempa," kata Faisal dalam keterangannya, Sabtu (22/11).

Karena itu, SLG menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi secara berkelanjutan. BMKG juga terus memperkuat edukasi kebencanaan melalui program lain seperti Sekolah Lapang Iklim (SLI), Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), dan BMKG Goes To School.

"Program-program tersebut bertujuan untuk membentuk kesadaran, kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan kapasitas demi mewujudkan masyarakat siaga dan tangguh," ungkapnya.

Faisal juga menegaskan peran strategis Balai Besar MKG dan seluruh UPT BMKG di daerah sebagai garda terdepan dalam pelaksanaan edukasi kebencanaan. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik itu Komisi V DPR RI, pemerintah daerah, media, hingga sektor swasta, untuk bersama-sama memperkuat kapasitas mitigasi dan patuh pada informasi peringatan dini BMKG.

"Semoga para peserta SLG dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik dan dapat berkontribusi dalam mewujudkan Masyarakat Siaga Gempa bumi di Kota Medan," tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas menyampaikan apresiasi dan mengingat kembali pengalaman merasakan guncangan besar pada 2004 di Aceh dan 2006 di Nias.

"Kalau tidak dilakukan secara naluriah, kita bisa panik ketika gempa datang tiba-tiba. SLG ini sangat bermanfaat sebagai bekal pengetahuan," ucapnya.

Rico juga menyoroti perlunya standar keselamatan di seluruh fasilitas publik. Ia berencana mendorong penerbitan surat edaran agar setiap gedung di Medan memiliki SOP keselamatan yang jelas, termasuk jalur evakuasi dan titik kumpul. Edukasi kebencanaan, menurutnya, harus mulai diperkenalkan sejak sekolah dasar.

"Kalau anak-anak sudah tahu apa yang harus dilakukan, budaya siaga akan terbentuk. Ini investasi keselamatan jangka panjang," tegasnya.

Dukungan serupa datang dari Anggota Komisi V DPR RI, Musa Rajekshah, yang menilai SLG sebagai program strategis untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. "Indonesia berada di wilayah rawan bencana. Edukasi seperti ini sangat penting agar masyarakat lebih siap," ujarnya.

Melalui SLG 2025, BMKG berharap masyarakat semakin memahami langkah penyelamatan diri dan mampu mengambil keputusan cepat saat terjadi gempa bumi, sehingga budaya siaga bencana semakin kuat di Kota Medan dan sekitarnya.(M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya