Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Warisan Saparinah Sadli: Dari Kampus ke Kebijakan, Merawat Nilai dan Kemanusiaan

Despian Nurhidayat
08/11/2025 14:52
Warisan Saparinah Sadli: Dari Kampus ke Kebijakan, Merawat Nilai dan Kemanusiaan
Saparinah Sadli(UI)

Pagi itu, sinar matahari menembus pepohonan di lingkungan Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Beberapa orang tampak menunggu dengan penuh antusias. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti, dan dari dalamnya turun sosok perempuan berbusana daster sederhana. Tubuhnya memang tak lagi muda, namun tatapannya masih tajam dan senyumnya menenangkan.

Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia. Hari itu, civitas akademika Fakultas Psikologi UI memberikan penghormatan dengan mengabadikan namanya dalam ruang baru hasil renovasi, Lobby Saparinah Sadli. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar penamaan ruang, melainkan penghargaan atas nilai, dedikasi, dan keteladanan yang ia wariskan.

“Saya bersyukur, sudah tua tapi masih diingat, masih dianggap,” ucapnya lirih, disambut tawa hangat dari rekan-rekan dan para mahasiswa yang menunggunya.

Kini di usia hampir satu abad, Saparinah menjalani hari dengan sederhana, bangun pagi, menikmati kopi hitam tanpa gula, membaca, lalu berbincang ringan dengan asisten rumah tangganya yang sudah menemani bertahun-tahun.

“Saya hidup apa adanya. Apa yang ada, itu yang saya makan. Tidak ada pantangan. Saya tidak memaksa diri,” tuturnya dengan senyum lembut.

Kesederhanaan ini adalah cerminan pandangan hidupnya: kebahagiaan lahir dari penerimaan, bukan keistimewaan. Ia bersyukur masih bisa mandiri, tinggal di rumah sendiri, dan dikelilingi orang-orang yang memperlakukannya bak keluarga. Ketenangan hidup Saparinah menjadi contoh nyata dari konsep successful aging menua dengan makna, rasa syukur, dan relasi yang tulus.

Hari Apresiasi dan Warisan Kehidupan

Peresmian Lobby Saparinah Sadli berlangsung penuh haru dan kebanggaan. Para dosen senior, alumni, dan sahabat lama berkumpul untuk merayakan sosok yang telah menginspirasi generasi.

Di antara tamu hadir Suratna, Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial sekaligus alumni Fakultas Psikologi UI dan mantan mahasiswa Saparinah. Ia menyampaikan kekaguman atas semangat sang guru besar yang tetap hadir dan berinteraksi di usia senja.

“Dari kegiatan ini kami melihat peluang kolaborasi besar dengan Fakultas Psikologi UI,” ujar Suratna.

Menurutnya, berbagai program Kemensos seperti asistensi sosial dan penyediaan makanan bergizi bagi lansia bisa diperkuat dengan pendekatan psikologi sosial.

“Lansia patut mendapat cinta dan perhatian. Kami ingin mengajak generasi muda menjadi teman dan pendamping mereka, seperti yang dicontohkan Ibu Saparinah,” tambahnya.

Suratna menilai Saparinah sebagai simbol nyata bahwa lanjut usia bukan beban, melainkan sumber inspirasi dan kebijaksanaan. “Beliau tetap mandiri, produktif, bahagia. Bukti bahwa usia bukan halangan untuk berdaya,” ucapnya.

Ruang Inklusif dan Ramah Lansia

Wakil Dekan Fakultas Psikologi UI, Herta Napitupulu, menjelaskan bahwa peresmian Lobby Saparinah Sadli juga menjadi simbol komitmen kampus terhadap inklusivitas dan aksesibilitas bagi semua kalangan.

“Kami ingin menciptakan ruang yang bisa diakses siapa pun. Inklusi adalah nilai yang hidup di Fakultas Psikologi,” ujarnya.

Menurut Herta, sosok Saparinah merepresentasikan inklusi itu sendiri — lansia yang tetap aktif, berdaya, dan bahagia di lingkungannya. Fakultas juga berencana memperkuat kerja sama dengan Kemensos, terutama di bidang psikologi sosial dan klinis, untuk program pendampingan lansia.

“Mahasiswa bisa belajar langsung di lapangan bersama program Kemensos. Ini bentuk kolaborasi yang saling menguatkan, akademisi mendapat pengalaman nyata, sementara Kemensos memperoleh dukungan ilmiah,” jelas Herta.

Saat ditanya rahasia panjang umurnya, Saparinah tersenyum dan menjawab ringan, “Tidak ada rahasia. Saya hanya tidak pernah memaksa diri.”

Jawaban sederhana itu menyimpan filosofi mendalam: kesejahteraan lansia bukan hanya soal materi, tapi rasa diterima, dihargai, dan dicintai. Kemensos kini mengadopsi semangat itu dalam program rehabilitasi sosial lansia, membangun dukungan komunitas, mengajak generasi muda terlibat, dan menciptakan lingkungan yang ramah hati.

“Lansia bahagia bukan hanya karena makanan bergizi, tapi karena merasa punya teman, punya tempat, dan masih dianggap berarti,” tutur Suratna.

Meski jarang keluar rumah, Saparinah tetap aktif dalam komunitas lansia di kawasan Prapanca, Jakarta, tempat mereka rutin berkumpul untuk senam, bernyanyi, dan berbagi cerita.

“Kami hanya bersenam atau ngobrol santai, tergantung siapa yang datang,” katanya.

Baginya, aktivitas sederhana itu sudah cukup untuk menjaga semangat hidup dan makna kebersamaan.

Warisan Intelektual dan Moral

Sepanjang hidupnya, Saparinah Sadli memegang keyakinan sederhana, yakni manusia harus terus berpikir dan berbuat baik, tanpa memandang usia.

Ia pernah melewati masa perjuangan, menjadi pendidik di masa transisi, dan kini menikmati ketenangan masa tua dengan rasa syukur.

“Saya bersyukur, dulu banyak dibantu orang. Sekarang saya hanya ingin hidup dengan tenang,” ujarnya.

Namun di balik ketenangan itu, tersimpan warisan besar, bahwa menjadi tua bukan berarti berhenti, melainkan saatnya berbagi kebijaksanaan.

Kolaborasi Akademik dan Kebijakan Sosial

Peresmian Lobby Saparinah Sadli juga membuka babak baru kerja sama antara dunia akademik dan pembuat kebijakan. Fakultas Psikologi UI bersama Kemensos berkomitmen menjalin kolaborasi berkelanjutan, mulai dari riset terapan, kegiatan lapangan mahasiswa, hingga pembentukan komunitas pendamping lansia.

“Kami ingin teori dan kebijakan saling memperkuat. Temuan di lapangan bisa diuji secara ilmiah, dan hasil riset bisa diterapkan dalam program sosial,” kata Suratna.

Fakultas Psikologi UI menilai kolaborasi ini sangat penting di tengah fenomena aging society di Indonesia — meningkatnya populasi lansia yang membutuhkan perhatian multidisiplin.

“Fakultas Psikologi UI memiliki tanggung jawab sosial. Kami ingin mahasiswa belajar bahwa sains psikologi bukan hanya untuk memahami manusia, tapi juga untuk menolongnya,” tutup Herta.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik