Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Tiga Komoditas Mewah Dunia Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim

Thalatie K Yani
07/11/2025 09:24
Tiga Komoditas Mewah Dunia Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim
Ilustrasi(Unsplash)

PERUBAHAN iklim kini mengancam masa depan tiga komoditas mewah dunia, kopi, cokelat, dan anggur, yang menjadi bagian penting dari kehidupan jutaan orang di berbagai negara. Dari kebun kakao di Ghana hingga kebun anggur di Prancis, naiknya suhu global dan perubahan pola curah hujan mulai mengganggu panen serta mata pencaharian petani.

Sebuah studi terbaru dari Colorado State University (CSU) mengungkapkan upaya untuk mendinginkan suhu bumi tidak selalu mampu melindungi tanaman-tanaman bernilai tinggi tersebut. Dari 18 wilayah penghasil utama yang dianalisis, hanya enam wilayah yang menunjukkan peningkatan kondisi setelah diterapkan metode pendinginan.

Penelitian tentang Komoditas Mewah dan Pendinginan Iklim

Tim peneliti yang dipimpin Dr. Ariel L. Morrison mempelajari dampak perubahan iklim pada tanaman “komoditas mewah”. Tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti kopi, kakao, teh, dan vanili. Tanaman-tanaman ini membutuhkan kondisi lingkungan yang sangat spesifik, seperti suhu, curah hujan, dan ketinggian tertentu, sehingga sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Metode yang diuji dalam penelitian ini disebut stratospheric aerosol injection (SAI), yaitu teknik penyebaran partikel reflektif di atmosfer untuk menurunkan suhu permukaan bumi. Namun, hasil simulasi menunjukkan bahwa meski suhu menurun, perubahan curah hujan dan kelembapan tetap dapat mengganggu kestabilan pertanian.

“Menurunkan suhu dengan SAI saja tidak cukup,” ujar Dr. Morrison. “Sebagai contoh, tanaman kakao yang lebih tahan panas dibanding kopi dan anggur justru sangat rentan terhadap hama dan penyakit yang disebabkan kombinasi suhu tinggi, curah hujan, dan kelembapan.”

Pendinginan Tak Selalu Menyelamatkan

Peneliti menemukan bahwa perubahan pola hujan sering kali meniadakan manfaat pendinginan. Di wilayah sabuk kakao, curah hujan tinggi memicu penyakit jamur yang merusak buah, sementara kebun anggur menghadapi risiko frost akibat perubahan suhu yang tidak menentu.

Beberapa wilayah kopi di Brasil menunjukkan hasil yang fluktuatif,  terkadang mendapat curah hujan stabil, namun di musim lain justru mengalami kekeringan. Ketidakpastian ini menyulitkan petani dalam merencanakan produksi jangka panjang.

Dr. Morrison menegaskan, “Intervensi iklim seperti SAI mungkin memberikan keringanan sementara dari kenaikan suhu, tetapi bukan solusi pasti untuk tantangan pertanian global.” Ia menambahkan, adaptasi lokal, investasi pada praktik pertanian tangguh, serta kerja sama global menjadi kunci dalam menyelamatkan tanaman-tanaman ini.

Adaptasi Sebelum Terlambat

Langkah adaptasi dapat berbeda di setiap wilayah, mulai dari mengganti varietas tanaman, mengubah waktu panen, hingga menanam pohon pelindung dan meningkatkan sistem drainase. Namun, tidak semua risiko dapat dikendalikan. Misalnya, irigasi bisa membantu saat kekeringan, tetapi tak ada teknologi yang mampu mencegah hujan berlebihan yang memicu penyakit tanaman.

Kesimpulannya, perubahan iklim bukan sekadar mengubah cuaca. Tetapi juga mengubah peta pertanian dunia, mengancam masa depan kopi, cokelat, dan anggur yang selama ini menjadi bagian dari budaya dan ekonomi global. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik