Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
ALIANSI Perempuan Indonesia menolak tegas rencana pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada mantan Presiden Soeharto. Mereka menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk pengingkaran sejarah serta penghinaan terhadap para korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di masa Orde Baru.
Perwakilan Marsinah.id Dian Septi menyebut upaya tersebut sebagai pengkhianatan terhadap hati nurani bangsa. Ia menilai pemberian gelar kepada Soeharto sama dengan membenarkan kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan yang pernah terjadi.
“Banyak pelanggaran HAM berat yang belum dituntaskan. Sejarah coba ditutupi dengan mengangkat Soeharto sebagai pahlawan. Ini sinyal bahwa pelanggaran HAM bisa dilupakan dan dibenarkan oleh bangsa ini,” ujar Dian dalam konferensi pers, Minggu (2/11).
Dian menilai, pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan merupakan penghinaan terhadap sosok-sosok yang menjadi korban kekuasaan Orde Baru seperti Marsinah.
Ia menegaskan bahwa negara belum pernah meminta maaf atau mengadili pelaku pelanggaran HAM masa lalu secara terbuka dan transparan.
“Menempatkan Soeharto sejajar dengan tokoh seperti Marsinah adalah penghinaan terhadap nurani bangsa dan perempuan yang sampai hari ini masih berjuang melawan kekerasan di dunia kerja,” tambahnya.
Perwakilan YAPPIKA dan Forum Penguatan Perempuan Indonesia (FPPI) Sari Wijaya menekankan bahwa penolakan ini bukan karena kebencian pribadi terhadap Soeharto, melainkan karena ingatan terhadap sejarah kelam bangsa.
Ia mengingatkan bahwa rezim Orde Baru dibangun di atas kekerasan, penindasan, dan kebohongan yang menelan ratusan ribu korban.
“Menjadikan Soeharto pahlawan sama saja menghapus jejak darah di tanah air ini. Pahlawan bukan penindas, bukan koruptor, bukan pembungkam. Kami menolak politik pelupaan yang kini disusun oleh segelintir elit,” kata Sari.
Ia menyebut tragedi-tragedi kemanusiaan seperti pembunuhan massal 1965, Tanjung Priok, Talangsari, Aceh, Timor Timur, hingga Mei 1998 sebagai catatan pelanggaran yang tidak pernah dituntaskan.
Menurutnya, langkah pemerintah justru akan menghianati perjuangan reformasi 1998 yang berupaya mengakhiri otoritarianisme.
“Memberi gelar pahlawan pada Soeharto berarti menertawakan perjuangan jutaan rakyat yang turun ke jalan demi keadilan dan demokrasi,” ujarnya. (H-4)
ADA sejumlah kalangan, terutama aktivis hak-hak asasi manusia, sangat kecewa dengan sikap Muhammadiyah yang menyetujui pemberian gelar pahlawan pada mantan Presiden Soeharto.
Gelar Pahlawan Nasional yang diterima kedua tokoh tersebut merupakan kebanggaan sekaligus pengingat bagi generasi muda untuk terus meneladani perjuangan mereka.
Idrus menegaskan bahwa momentum ini sebaiknya dijadikan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan reformasi dan memperbaiki kekurangan.
Titiek Soeharto menilai pro-kontra penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan hal wajar. Ia membantah ada campur tangan keluarga Cendana dalam penetapan gelar Pahlawan Soeharto
Paguyuban Persaudaraan Trisakti 12 Mei 1998 menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait keputusan pemerintah yang memberikan Gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh.
Pada Hari Pahlawan, 10 November 2025, Pemerintah Republik Indonesia kembali menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada dua tokoh penting dari kalangan NU
Tangkapan layar beredar percakapan diduga dari Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, di grup WhatsApp internal partai meminta jajaran PDIP menolak gelar pahlawan nasional soeharto
BEM Universitas Sunan Drajat (Unsuda) Lamongan mendukung usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
KETUA PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menjelaskan alasan pihaknya mendukung pemberian gelar Pahlawan Naisonal untuk Presiden ke-2 Soeharto. Soeharto disebut 'kader' Muhammadiyah
MUSTASYAR PBNU Gus Mus mengatakan orang NU yang setuju Soeharto sebagai pahlawan menunjukkan kurangnya pemahaman sejarah.
Langkah itu dinilai sebagai kebijakan yang buta sejarah dan membangkang aturan, sekaligus bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi 1998.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved