Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
BUMI kini menghadapi “realitas baru” setelah mencapai salah satu titik kritis iklim yang paling berbahaya: kematian massal terumbu karang. Realita itu berdasarkan laporan terbaru yang disusun 160 ilmuwan dari berbagai negara.
Laporan tersebut menyebut, pembakaran bahan bakar fosil yang terus berlangsung telah memicu peningkatan suhu global, menyebabkan gelombang panas ekstrem, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang semakin parah. Namun, dampak yang lebih besar diperkirakan akan datang seiring terganggunya sistem penting Bumi seperti hutan Amazon dan lapisan es kutub, yang berisiko runtuh dan menimbulkan efek bencana global.
“Kita semakin mendekati banyak titik kritis sistem Bumi yang dapat mengubah dunia dengan konsekuensi menghancurkan bagi manusia dan alam,” kata Tim Lenton, profesor dari Global Systems Institute, Universitas Exeter, sekaligus penulis laporan yang dirilis Minggu (13/10).
Menurut laporan tersebut, terumbu karang tropis menjadi sistem pertama yang kolaps. Sejak 2023, lebih dari 80% terumbu karang dunia mengalami pemutihan massal akibat suhu laut yang mencapai rekor tertinggi. “Kita telah mendorong terumbu karang melampaui batas kemampuannya,” ujar Mike Barrett, penasihat ilmiah utama WWF Inggris dan salah satu penulis laporan.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika pemanasan global tidak dibalikkan, terumbu karang yang selama ini menjadi rumah bagi ribuan spesies laut dan pelindung alami pesisir dari badai akan hilang sepenuhnya.
Laporan itu juga menyoroti risiko runtuhnya sirkulasi arus laut Atlantik (AMOC), sistem arus laut penting yang mengatur iklim global. Jika kolaps, sebagian wilayah bisa mengalami pembekuan ekstrem, sementara lainnya justru memanas dan musim hujan menjadi kacau. “Ada risiko runtuhnya sistem ini bisa terjadi dalam masa hidup generasi yang ada sekarang,” kata Barrett.
Menurut Manjana Milkoreit dari Universitas Oslo, dunia belum siap menghadapi dampak dari melewati titik-titik kritis ini. “Kebijakan dan perjanjian internasional saat ini dirancang untuk perubahan bertahap, bukan perubahan mendadak dan tak dapat dipulihkan seperti ini,” ujarnya.
Para ilmuwan mendesak agar emisi gas rumah kaca segera ditekan dan teknologi penyerapan karbon diperluas. Meski dunia dipastikan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius, Lenton menegaskan pentingnya meminimalkan kenaikan suhu lebih lanjut dan menurunkannya secepat mungkin.
Laporan ini dirilis menjelang Konferensi Iklim PBB (COP30) di Brasil bulan depan, di mana negara-negara akan menetapkan target pengurangan emisi baru untuk dekade mendatang.
“Situasi suram ini harus menjadi alarm bagi kita semua,” ujar Barrett. “Jika kita tidak bertindak sekarang, bukan hanya terumbu karang yang hilang, tetapi juga hutan Amazon, lapisan es, dan arus laut vital, yang akan membawa bencana bagi seluruh umat manusia.” (CNN/Z-2)
Kerentanan di perairan Raja Ampat salah satunya karena ketidakakuratan peta navigasi elektronik global (ENC) yang sering gagal memotret profil terumbu karang yang dinamis.
Studi terbaru mengungkap terumbu karang bertindak sebagai "konduktor" yang mengatur ritme harian mikroba laut, melampaui perubahan musiman.
PHE WMO melakukan konservasi terumbu karang melalui metode transplantasi karang menggunakan kubah beton berongga, yang merupakan modul pertama di Indonesia dan telah mendapatkan Hak Cipta.
Peneliti Universitas Queensland memperingatkan Great Barrier Reef akan mengalami penurunan terumbu karang yang cepat sebelum 2050 akibat pemanasan global.
Terumbu karang memiliki fungsi penting bagi keseimbangan ekosistem laut. Upaya PT IMIP dan CTC menjadi aksi nyata mendukung konservasi Pulau Sombori.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved