Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah studi global memperingatkan penangkapan ikan yang berlebihan mendorong hiu terumbu karang menuju kepunahan. Kondisi ini menandakan bahaya yang jauh lebih besar bagi makhluk pemangsa laut itu daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Menurut para peneliti keberadaan hiu karang penting bagi manusia karena spesies ini bertindak sebagai pengelola ekosistem laut. Ia menjaga rantai makanan tetap seimbang yang menjadi tempat bergantung ratusan juta orang.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science, pada Kamis (15/5) ini, merupakan hasil dari proyek Global FinPrint, yang mengumpulkan lebih dari 22.000 jam rekaman video dari terumbu karang di seluruh Afrika, Timur Tengah, Asia, Australasia, dan Amerika.
Sebuah tim yang terdiri lebih dari 100 ilmuwan itu menemukan bahwa lima spesies hiu terumbu karang yang paling umum menurun 70% hingga 60%.
Data penipisan terumbu karang yang diteliti berasal dari model komputer yang memerkirakan seperti apa jumlah hiu tanpa tekanan manusia. Hiu itu ternyata sama sekali tidak ada di 14% terumbu karang yang pernah didokumentasikan sebelumnya.
Penulis utama Colin Simpfendorfer dari James Cook University dan University of Tasmania mengatakan kepada AFP bahwa sebelum penelitian, hiu terumbu karang (tidak seperti sepupu mereka yang lebih besar yang tinggal di lautan dalam), tidak dianggap buruk.
Rantai makanan
Temuan mengenai populasi hiu karang ini akan membantu memperbarui daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), sebagai spesies yang memenuhi syarat berstatus "terancam punah", dan menjadi sebuah langkah penting menuju tindakan konservasi.
Simpfendorfer menambahkan bahwa faktor terbesar dalam penurunan populasi hiu tersebut adalah penangkapan ikan yang berlebihan, baik yang menargetkan hiu untuk diambil sirip dan dagingnya, maupun secara tidak sengaja membunuh mereka sebagai hasil tangkapan sampingan.
Dari segi dampak, hilangnya hiu itu menyebabkan efek gangguan pada rantai makanan. Mangsa yang mereka makan bertambah jumlahnya, tetapi tingkat berikutnya menurun, dan seterusnya sehingga menciptakan gangguan yang membahayakan ketahanan pangan manusia.
Hiu karang juga mengendalikan herbivora. Ketika herbivora menjadi makin banyak, mereka memakan lebih banyak alga, yang menjebak karbon untuk digunakan dalam fotosintesis.
“Penyerapan karbon di terumbu karang tanpa hiu akan jauh lebih rendah daripada ketika ada ikan tersebut,” ujar Simpfendorfer. “Itu artinya ada dampak terhadap pemanasan global.”
Titik Harapan
Pendanaan untuk proyek ini berasal dari Yayasan Keluarga Paul G. Allen, yang juga menadanai penelitian untuk sensus gajah di Afrika.
Dalam studi tentang hiu karang ini, para ilmuwan menggunakan stasiun video bawah air jarak jauh (BRUVS) berumpan. Kamera dengan sejumlah kecil ikan yang digantung untuk menarik dan mengamati hiu.
Secara total, mereka mensurvei 391 terumbu karang di 67 negara dan wilayah menggunakan 22.756 kamera -- menghasilkan rekaman video mentah, yang dikumpulkan selama tiga tahun.
Tim penelti menemukan terumbu karang dengan populasi hiu yang lebih sehat cenderung berada di negara berpenghasilan tinggi dengan peraturan yang lebih ketat. Sementara negara berpenghasilan rendah umumnya memiliki terumbu karang yang lebih buruk.
Namun tim juga menemukan ‘titik harapan’ tertentu di negara berkembang, seperti Pulau Sipadan di Malaysia dan Karang Mercusuar di Belize."Di dalam dan di sekitar perairan mereka, hal-hal cukup terkuras - tetapi di daerah di mana Anda memiliki KKP (kawasan perlindungan laut) yang kuat dan cara yang sangat baik untuk menegakkan aturannya, Anda memiliki populasi hiu yang banyak," kata rekan penulis Michael Heithaus dari Florida International University kepada AFP.
Kondisi ini, kata dia, menawarkan harapan bahwa daerah yang sangat terkuras dapat dihuni kembali selama populasinya masih utuh dan program pengelolaan yang hati-hati tetap dipatuhi. (M-3)
UNTUK pertama kalinya di Indonesia, para peneliti mengonfirmasi temuan neonatal atau bayi hiu paus di alam liar. Bayi hiu paus tersebut berukuran hanya sekitar 135–145 sentimeter.
Penelitian terbaru mengungkap gunung-gunung bawah laut atau seamount menjadi pusat kumpulan hiu dan predator besar. Namun habitat unik ini terancam overfishing dan trawl dasar.
Penangkapan ikan berlebihan, polusi, dan rusaknya habitat laut telah mendorong sepertiga dari 500 spesies hiu di dunia ke ambang kepunahan.
Penelitian terbaru mengungkap asidifikasi laut akibat CO2 dapat merusak gigi hiu, memengaruhi kemampuan berburu, dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
DNA inti hiu putih di berbagai belahan dunia relatif seragam, tetapi DNA mitokondria justru berbeda-beda.
Studi terbaru mengungkap megalodon, hiu purba raksasa yang menguasai lautan jutaan tahun lalu, bisa mencapai panjang hingga 24,3 meter.
Studi terbaru mengungkap terumbu karang bertindak sebagai "konduktor" yang mengatur ritme harian mikroba laut, melampaui perubahan musiman.
PHE WMO melakukan konservasi terumbu karang melalui metode transplantasi karang menggunakan kubah beton berongga, yang merupakan modul pertama di Indonesia dan telah mendapatkan Hak Cipta.
Peneliti Universitas Queensland memperingatkan Great Barrier Reef akan mengalami penurunan terumbu karang yang cepat sebelum 2050 akibat pemanasan global.
Terumbu karang memiliki fungsi penting bagi keseimbangan ekosistem laut. Upaya PT IMIP dan CTC menjadi aksi nyata mendukung konservasi Pulau Sombori.
Laporan ilmiah terbaru menyebut Bumi telah mencapai titik kritis pertama dalam krisis iklim, yakni kematian massal terumbu karang.
Terumbu karang menopang seperempat kehidupan laut dan bernilai miliaran dolar bagi manusia. Jika hilang, dampaknya akan dirasakan secara global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved