Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
HIU putih besar atau great white shark, selama ini, dikenal sebagai predator puncak lautan. Namun, sebuah studi global terbaru mengungkap misteri besar dalam genetikanya yang hingga kini belum bisa dijelaskan para ilmuwan.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan hal janggal. DNA inti hiu putih di berbagai belahan dunia relatif seragam, tetapi DNA mitokondria justru berbeda-beda.
Awalnya, ilmuwan menduga hal ini disebabkan oleh perilaku hiu betina yang cenderung kembali ke tempat asal untuk berkembang biak (philopatry), sementara jantan lebih sering berkelana. Namun, setelah diuji dengan data genetik yang lebih luas, teori ini tidak terbukti.
Tim peneliti mencoba berbagai kemungkinan lain. Pertama, dugaan bahwa hanya sedikit betina yang berkontribusi pada generasi berikutnya (reproductive skew). Namun, hipotesis ini juga tidak sesuai dengan data.
Kemungkinan lain adalah seleksi alam. Jika benar, berarti ada tekanan evolusi yang sangat kuat hingga hanya DNA mitokondria tertentu yang bisa bertahan hidup. Namun, hal ini dianggap janggal mengingat populasi hiu putih yang kecil biasanya lebih dipengaruhi oleh faktor acak (genetic drift) daripada seleksi alam.
Salah satu peneliti studi ini, sekaligus direktur Florida Program for Shark Research, Gavin Naylor, mengatakan jika jika seleksi alam benar-benar berperan, maka tekanannya harus “sangat mematikan” sehingga hanya individu dengan DNA mitokondria tertentu yang mampu bertahan.
“Jawaban ilmiah yang jujur adalah kami belum tahu,” ujar Gavin seperti dikutip dari Science Daily.
Untuk saat ini, misteri genetik hiu putih masih belum terpecahkan. Para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk memahami bagaimana predator laut ikonik ini mampu bertahan dari ancaman kepunahan ribuan tahun lalu hingga kini tetap menjadi penguasa lautan.
Penelitian menunjukkan bahwa populasi hiu putih pernah nyaris punah pada zaman es terakhir, sekitar 25.000 tahun lalu, ketika permukaan laut turun hingga 40 meter.
Habitat mereka menyusut drastis dan populasi terkonsentrasi di perairan Indo-Pasifik selatan. Setelah es mencair sekitar 10.000 tahun lalu, hiu putih mulai menyebar lagi dan jumlahnya meningkat berkat melimpahnya makanan, terutama anjing laut.
“Jumlah mereka sangat sedikit ketika permukaan laut berada di titik terendah. Lalu, populasinya meningkat dan bergerak ke utara seiring mencairnya es. Kami menduga mereka bertahan di perairan utara karena menemukan sumber makanan yang konsisten,” ujar Gavin.
Kini, jumlah hiu putih diperkirakan hanya sekitar 20.000 ekor di seluruh dunia. Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan serangga di kota besar mana pun. Populasinya terbagi menjadi tiga kelompok utama, di belahan bumi selatan (sekitar Australia dan Afrika Selatan), Atlantik Utara, serta Pasifik Utara. (Science Daily/Z-1)
UNTUK pertama kalinya di Indonesia, para peneliti mengonfirmasi temuan neonatal atau bayi hiu paus di alam liar. Bayi hiu paus tersebut berukuran hanya sekitar 135–145 sentimeter.
Penelitian terbaru mengungkap gunung-gunung bawah laut atau seamount menjadi pusat kumpulan hiu dan predator besar. Namun habitat unik ini terancam overfishing dan trawl dasar.
Penangkapan ikan berlebihan, polusi, dan rusaknya habitat laut telah mendorong sepertiga dari 500 spesies hiu di dunia ke ambang kepunahan.
Penelitian terbaru mengungkap asidifikasi laut akibat CO2 dapat merusak gigi hiu, memengaruhi kemampuan berburu, dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
Studi terbaru mengungkap megalodon, hiu purba raksasa yang menguasai lautan jutaan tahun lalu, bisa mencapai panjang hingga 24,3 meter.
Penelitian besar Mayo Clinic menemukan pedoman skrining genetik saat ini gagal mengidentifikasi hampir 90% penderita familial hypercholesterolemia.
Penelitian genom dua perempuan Takarkori ungkap garis keturunan Afrika Utara purba dan pola migrasi manusia Sahara 7.000 tahun lalu.
Kehamilan adalah proses alami yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari gaya hidup hingga genetik. Beberapa kondisi kehamilan ternyata bisa diturunkan dari keluarga.
DUNIA kecantikan selalu berkembang dengan berbagai metode yang mengakomodasi kebutuhan tubuh. Salah satunya adalah Prossi Gene, metode diet yang menggunakan analisa genetik.
Cara yang lebih tepat untuk menjelaskannya adalah, teka-teki membantu menunda timbulnya dan memburuknya gejala demensia.
Temuan ini mengindikasikan bahwa varian gen tertentu yang cukup umum di masyarakat dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terserang ME/CFS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved