Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

AI Early Warning System, Masa Depan untuk Penyelamatan Terumbu Karang Dunia

Media Indonesia
10/2/2026 21:22
AI Early Warning System, Masa Depan untuk Penyelamatan Terumbu Karang Dunia
Ilustrasi(Dok Freepik)

KECERDASAN buatan (AI) kini melampaui sekadar asisten digital atau pengolah teks. Di kedalaman samudra, teknologi ini menjadi garda terdepan dalam menghadapi krisis iklim. Penelitian terbaru dari University of Miami Rosenstiel School mengungkapkan bahwa algoritma AI kini mampu memprediksi tekanan panas (heat stress) pada terumbu karang dengan akurasi yang melampaui metode pemantauan tradisional.

Melampaui Pemantauan Tradisional

Selama dekade terakhir, para ilmuwan mengandalkan satelit untuk memantau suhu permukaan laut secara real-time. Namun, metode ini bersifat reaktif. Para ahli baru mengetahui ancaman saat suhu air sudah mencapai titik kritis. Teknologi AI terbaru mengubah pola ini dengan beralih ke sistem prediktif.

Dengan menggunakan model machine learning bernama XGBoost, para peneliti melatih algoritma menggunakan data lingkungan selama 40 tahun terakhir. Hasilnya, AI mampu memberikan peringatan dini hingga enam minggu sebelum gelombang panas laut menyerang titik koordinat tertentu. Kemampuan ini sangat krusial karena pemutihan karang (coral bleaching) sering kali terjadi sangat cepat setelah suhu air meningkat secara konsisten.

Prediksi Spesifik Lokasi

Salah satu hambatan terbesar dalam konservasi laut adalah variasi kondisi lingkungan di setiap wilayah. Tidak semua bagian terumbu karang bereaksi sama terhadap peningkatan suhu. AI mampu memproses variabel yang kompleks, mulai dari kecepatan arus hingga interaksi suhu udara, untuk menghasilkan laporan yang spesifik pada satu titik lokasi.

Pendekatan ini dikenal sebagai Explainable AI (XAI). Dengan metode ini, ilmuwan tidak hanya menerima hasil 'prediksi panas', tetapi juga memahami faktor pemicu utamanya di lokasi tersebut. Apakah itu karena sirkulasi air yang statis atau intensitas cahaya matahari yang berlebih. Informasi detail ini memungkinkan manajer taman laut mengambil keputusan berbasis data yang jauh lebih efektif.

Transformasi Konservasi Menjadi Proaktif

Adanya jeda waktu enam minggu dari prediksi AI memberikan kesempatan bagi tim konservasi untuk melakukan langkah mitigasi fisik. Di beberapa wilayah, waktu tersebut digunakan untuk memasang jaring peneduh sementara di atas pembibitan karang yang sensitif atau memindahkan fragmen karang langka ke laboratorium daratan yang lebih dingin.

Langkah ini menandai pergeseran besar dalam konservasi lingkungan. Fokus utama tidak lagi hanya pada pencatatan kerusakan, melainkan pada pemanfaatan komputasi tingkat tinggi untuk mencegah kerusakan tersebut terjadi. Integrasi AI dalam ekologi laut membuktikan bahwa teknologi mutakhir adalah kunci utama untuk menjaga biodiversitas bawah laut tetap bertahan di tengah pemanasan global yang kian agresif. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya