Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
MUSIM gugur di Ohio kini masih membawa senja yang datang lebih awal, tetapi musim dinginnya tak lagi sedingin dulu. Perubahan ini ternyata bisa menjadi bencana bagi satwa liar seperti katak pohon abu-abu (gray tree frog), yang menandai perubahan musim bukan dari suhu, melainkan dari lamanya paparan cahaya matahari.
Penelitian terbaru dari Case Western Reserve University mengungkap katak jenis ini mempersiapkan diri menghadapi musim dingin berdasarkan panjang siang hari, bukan suhu udara. Dalam iklim yang makin hangat, mekanisme ini bisa membuat mereka membuang energi berharga untuk menghadapi dingin yang mungkin tak pernah datang.
Katak pohon abu-abu dikenal luar biasa tahan terhadap dingin ekstrem. Menjelang musim dingin, mereka mengubah cadangan glikogen dalam hati menjadi gliserol, semacam “antibeku” alami yang melindungi sel-sel tubuh saat mereka membeku sepenuhnya. Saat musim semi tiba, katak mencair dan hidup kembali seolah tak terjadi apa-apa.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa pemicu perubahan fisiologis ini bukan suhu, melainkan berkurangnya panjang siang hari. Karena panjang siang tak berubah meski suhu global meningkat, katak bisa “salah waktu” dalam beradaptasi, bersiap membeku padahal udara masih hangat.
Profesor biologi Michael Benard, penulis senior studi ini, menjelaskan, “Katak mungkin mengalokasikan sumber energi untuk bertahan di musim dingin yang sebenarnya tidak diperlukan. Ini membuat mereka lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim.”
Eksperimen dilakukan dengan memanipulasi lama paparan cahaya pada berudu dan katak muda sambil menjaga suhu tetap stabil. Hasilnya mengejutkan: katak yang terpapar jadwal cahaya menyerupai musim gugur menimbun glikogen hingga 14 kali lebih banyak dibanding kelompok lain, membuat ukuran hati mereka membesar tiga hingga empat kali lipat.
Namun, efek sampingnya fatal. Katak yang “siap musim dingin” tumbuh lebih lambat dan berukuran lebih kecil, karena energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan justru diubah menjadi cadangan antibeku.
“Ketika musim dingin tidak datang, mereka tetap makan sedikit dan energi dialihkan ke penyimpanan glikogen, bukan pertumbuhan otot atau tulang,” jelas peneliti utama Troy Neptune.
Meski populasi katak pohon abu-abu masih stabil, pola salah waktu ini bisa menjadi bencana bagi spesies lain dengan sumber energi terbatas. Gangguan kecil pada siklus adaptasi dapat memengaruhi waktu kawin, migrasi, dan kelangsungan hidup, dengan dampak berantai bagi seluruh ekosistem.
Para peneliti menegaskan perubahan iklim telah memutus sinkronisasi antara cahaya dan suhu, menciptakan “jebakan ekologis” bagi banyak spesies. Bagi pengelola konservasi, memahami kesalahan waktu akibat perubahan musim ini penting untuk menyelamatkan satwa liar dari ancaman tak terlihat.
Langit tidak akan mengubah jam biologisnya. Namun iklim kita sudah berubah drastis. Studi ini menjadi peringatan penting keseimbangan alam kini benar-benar sedang bergeser. (Earth/Z-2)
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Studi terbaru mengungkap tanaman tropis mengalami pergeseran waktu berbunga hingga 80 hari. Fenomena ini mengancam rantai makanan dan kelangsungan hidup hewan.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Peneliti menemukan pola kadar garam (salinitas) di Pasifik Barat saat musim semi dapat memperkuat intensitas El Niño hingga 20%.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved