Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, dr Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, SpGK mengatakan protein berperan penting untuk asupan gizi yang seimbang khususnya dalam proses tumbuh dan kembang anak.
"Protein salah satu komponen nutrisi makro yang menjadi bagian dari gizi seimbang, jadi kehadiran protein suatu hal terpenting khususnya
pada anak-anak yang dalam masa fase tumbuh dan kembang," ujar dr Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, SpGK AIFO-K CISSN FACSM, dikutip Selasa 930/9).
Pande menjelaskan protein yang terbentuk dari rangkaian asam amino, merupakan komponen dalam proses pembentukan dan regenerasi sel tubuh khususnya otot rangka. Namun, asupan protein yang rendah pada anak justru bisa memicu terjadinya stunting.
"Kasus malnutrisi banyak terjadi pada anak dengan asupan protein yang rendah, dan memicu terjadinya stunting," kata dia.
Pande menjelaskan dalam mengonsumsi asupan protein juga memiliki batasannya. Sebab, jika berlebihan dapat memicu gangguan pada organ tubuh lainnya, khususnya ginjal.
"Karena protein tanpa komponen nutrisi makro lainnya tidak akan dapat berperan dengan sempurna," tutur dokter yang berpraktik di
Siloam Hospitals Mampang itu.
Menurut dia, asupan protein pada anak nantinya akan disesuaikan sesuai dengan umur dan berat badannya sesuai dengan rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan konsensus Internasional.
Sementara asupan protein untuk usia dewasa, lanjut Pande, rata-rata berada di 0,8-1,2 g/kgBB. Kemudian, pada individu dengan aktifitas fisik berat atau di olahragawan dapat dinaikkan hingga 1,6-1,8 g/kgBB.
"Riset yang pernah dilakukan oleh Prof Stuart dari McMaster University dan dari ACSM menunjukkan tidak ada manfaat dan hasil yang berbeda antara konsumsi protein 1,6-1,8 g/kgBB dengan asupan 1,8 g/kgBB, dan didapatkan pula potensi gangguan fungsi organ pada asupan
1,8 g/kgBB," jelas dia.
Pande menambahkan bahwa sumber protein terdapat pada pangan nabati bersumber dari ikan, telur, unggas, serta daging putih dan merah. Kemudian, pangan hewani bersumber dari ikan, telur, unggas, serta daging putih dan merah.
Pada kondisi tertentu, lanjut Pande, pangan hewani seperti bersumber dari makanan laut atau seafood dapat memicu kondisi alergi.
Pemicu alerginya terjadi karena komponen protein dari pangan laut tersebut seperti parvabulmin pada ikan bersirip tinggi, tropomyosin pada jenis crustaceans.
"Cukup banyak kasusnya seperti pangan laut dari jenis bercangkang atau crustacea dan jenis mollusca dan beberapa jenis ikan laut yang tersering tuna, tongkol dan salmon, bahkan ikan air tawar dan payau seperti jenis tilapia dan bandeng juga dapat memicu alergi," kata dia.
Beberapa jenis komponen asam amino lain, kata Pande, seperti arginine yang juga banyak ditemukan di kacang-kacangan, dapat menjadi salah satu faktor yang memicu alergi karena kacang-kacangan dan produk kedelai.
Menurut dia, protein hewani bisa diganti sepenuhnya dengan protein nabati terutama bagi mereka yang memilih pola makan vegetarian. Namun, bukan berarti pemberian protein nabati sepenuhnya tidak ada potensi alergi.
"Karena produk nabati juga ada dan pada beberapa kasus dapat memicu kematian karena terjadinya afiksia," ujar dia.
Lebih lanjut, Pande menyarankan penggunaan sumber protein untuk produk massal seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) disarankan penggunaan komponen yang cenderung aman seperti pangan unggas, telur, daging putih atau merah, dan protein nabati seperti tempe dan tahu.
Namun, yang terpenting kontrol dan pengawasan dalam pengolahan, penyimpanan dan pengantaran, serta adanya evaluasi harian ke anak-anak karena alergi bersifat individual. (Ant/Z-1)
TB pada anak bukan sekadar batuk biasa, melainkan ancaman terhadap masa depan mereka.
Edukasi seksual ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Gangguan hormon yang tidak ditangani sejak dini dapat menghambat perkembangan organ reproduksi secara optimal.
Proses grooming biasanya dimulai dengan upaya halus untuk menumbuhkan rasa percaya.
Child grooming adalah proses manipulatif ketika pelaku, biasanya orang dewasa, membangun hubungan emosional dengan seorang anak.
Child grooming adalah proses sistematis untuk mempersiapkan anak menjadi korban pelecehan.
PENYAKIT cacingan masih menjadi persoalan kesehatan yang banyak dialami anak-anak di Indonesia. Kebiasaan sederhana yang kerap dianggap sepele bisa menyebabkan cacingan.
Sebuah meta-analisis besar mengungkap diet vegetarian dan vegan aman untuk anak-anak, asal direncanakan dengan matang. Simak manfaat dan risiko kekurangan nutrisinya.
Perkembangan saraf motorik dan sensorik memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak, terutama pada masa usia dini.
DI tengah derasnya arus informasi saat ini, diperlukan kehati-hatian dalam mencari sumber informasi yang akurat. Khususnya terkait dengan kesehatan ibu dan anak.
DI tengah perkembangan pola asuh modern, semakin banyak ahli yang menegaskan bahwa peran ayah bukan lagi sekadar pendukung, tetapi bagian utama dalam tumbuh kembang anak.
Sebagian orangtua masih beranggapan bahwa kemampuan motorik akan berkembang dengan sendirinya, padahal riset menunjukkan stimulasi yang terarah dan menyenangkan justru menjadi kunci.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved