Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
HARAPAN hidup manusia meningkat drastis dalam satu abad terakhir. Jika pada awal 1900-an rata-rata usia harapan hidup global hanya berkisar 40 tahun, kini di banyak negara maju sudah melampaui 80 tahun. Inovasi medis seperti antibiotik, vaksin, bedah modern, hingga teknologi pencitraan telah menyelamatkan jutaan nyawa.
Di balik pencapaian ini tersimpan paradoks besar. Meski manusia hidup lebih lama, semakin banyak pula orang yang menghabiskan usia tuanya dengan penyakit kronis.
“Peningkatan penyakit kronis bukan hanya masalah medis, tapi juga masalah sosial. Kita menghadapi kombinasi antara pola hidup tidak sehat dan sistem kesehatan yang terlalu fokus pada pengobatan dibanding pencegahan,” kata Dr. Amelia Santoso, pakar kesehatan masyarakat.
Sejumlah penelitian menunjukkan sebagian besar penyakit kronis bukan disebabkan oleh faktor genetik, melainkan gaya hidup. Kurang bergerak, pola makan tinggi gula dan makanan ultra-proses, kurang tidur, stres berkepanjangan, serta paparan polusi lingkungan menjadi penyebab utama memburuknya kesehatan masyarakat.
Kebiasaan modern ini secara perlahan melemahkan sistem metabolisme, daya tahan tubuh, hingga kesehatan mental. Akibatnya, penyakit kronis semakin banyak dialami oleh kelompok usia produktif, bukan hanya lansia.
Meski teknologi kesehatan semakin canggih, sistem kesehatan di banyak negara masih bersifat reaktif, menunggu penyakit muncul, baru kemudian mengobatinya.
“Sistem kita ibarat bengkel. Kita menunggu kerusakan, lalu memperbaikinya. Padahal, pencegahan lebih efektif dan jauh lebih murah dibanding mengobati,” ujar Dr. Amelia.
Hal ini memunculkan kekhawatiran lahirnya sistem kesehatan “dua lapis”: satu untuk kelompok kaya yang bisa menikmati inovasi, dan satu lagi untuk masyarakat umum yang tertinggal dengan fasilitas terbatas.
Pakar menilai, jika ingin benar-benar membawa perubahan, sistem kesehatan harus beralih dari pengobatan menuju pencegahan. Fokusnya bukan hanya memperpanjang umur, tetapi memastikan tahun-tahun tambahan itu berkualitas. (Sillicon Valley Inovation Centre/Z-2)
Tak hanya untuk mata, ini manfaat wortel bagi kesehatan: turunkan kolesterol, cegah kanker, hingga diet. Cek kandungan nutrisi dan cara konsumsinya di sini.
Berbeda dengan sekadar tren kesehatan umum, lifestyle medicine merupakan pendekatan medis formal yang menggunakan intervensi gaya hidup berbasis bukti.
Namun demikian, lansia dengan penyakit kronis tetap dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum berpuasa untuk penyesuaian obat dan pola makan.
Golongan darah selama ini dikenal hanya menentukan kecocokan transfusi. Namun riset terbaru mengungkap fakta ternyata berkaitan langsung dengan risiko penyakit kronis.
Satu dari lima remaja Indonesia mengalami tekanan darah di atas normal. Kondisi ini membuka jalan bagi hipertensi dan penyakit kronis di usia produktif.
Pada penderita diabetes, infeksi ini dapat berkembang lebih cepat, sulit disembuhkan, dan berpotensi menimbulkan komplikasi jika tidak ditangani secara tepat.
Simak tips puasa bagi pekerja lapangan agar tetap sehat, terhidrasi, dan produktif selama Ramadan, mulai dari sahur hingga berbuka.
Simak tips sahur, hidrasi, istirahat, dan olahraga ringan agar tubuh tetap sehat dan kuat saat menjalani hari pertama puasa Ramadan.
Paparan kaporit dan air laut dapat membuat rambut kering, rapuh, hingga berubah warna. Simak tips ahli untuk melindungi kesehatan rambut dan kulit kepala Anda.
Mobil bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan penunjang aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, memilih mobil yang tepat menjadi keputusan penting
Spesialis dermatologi dr. Riva Ambardina Pradita menekankan pentingnya hidrasi dan penggunaan pelembap untuk menjaga kelembapan kulit selama puasa Ramadan.
Saat ini, sekitar 30% kasus kanker usus besar di tanah air diderita oleh pasien di bawah usia 40 tahun, sebuah angka yang jauh melampaui statistik di negara-negara maju.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved