Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

Gaya Hidup Medis, Kunci Pencegahan dan Pemulihan Penyakit Kronis hingga 80 Persen

Basuki Eka Purnama
11/2/2026 06:17
Gaya Hidup Medis, Kunci Pencegahan dan Pemulihan Penyakit Kronis hingga 80 Persen
Ilustrasi(Freepik)

PENERAPAN gaya hidup medis atau lifestyle medicine terbukti menjadi senjata ampuh dalam menangani penyakit tidak menular. Wakil Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), drg. Sally Salziah Sudrajat, Sp.OM, mengungkapkan bahwa intervensi gaya hidup yang tepat mampu memperbaiki kondisi pasien penyakit kronis hingga mencapai angka 80%.

Sally menekankan bahwa mayoritas penyakit kronis sebenarnya dapat dicegah sejak dini. 

"Jadi di sini bukti menunjukkan bahwa 80% penyakit kronis dapat dicegah dan dikembalikan ke kondisi awal dengan gaya hidup sehat berdasarkan pilar-pilar dari lifestyle medicine," ujar Sally, dikutip Rabu (11/2).

Apa Itu Gaya Hidup Medis?

Berbeda dengan sekadar tren kesehatan umum, lifestyle medicine merupakan pendekatan medis formal yang menggunakan intervensi gaya hidup berbasis bukti. 

Ilmu ini menempatkan perubahan perilaku sebagai modalitas atau cara utama untuk mengobati, mengelola, hingga membalikkan kondisi berbagai penyakit yang dipicu oleh pola hidup salah.

Sally menjelaskan bahwa penyakit seperti kanker tidak muncul secara tiba-tiba. Penyakit ini merupakan hasil dari proses panjang akibat akumulasi kebiasaan buruk selama bertahun-tahun. 

Oleh karena itu, pengobatan medis seperti kemoterapi atau terapi lainnya tidak akan berjalan optimal jika tidak dibarengi dengan perubahan pola hidup yang radikal.

Manfaat dari penerapan gaya hidup medis ini pun sangat nyata, di antaranya mampu menurunkan ketergantungan pasien terhadap obat-obatan serta mengurangi efek samping yang muncul selama masa pengobatan.

Nutrisi dan Pembenahan Pola Makan

Salah satu pilar yang paling krusial adalah nutrisi. Sally menyebutkan bahwa konsumsi makanan yang tepat dapat mengubah kondisi penyakit pasien sebesar 40%. Ia merekomendasikan transisi menuju pola makan berbasis nabati (plant-based) atau sumber alami.

Namun, ia meluruskan miskonsepsi masyarakat mengenai diet yang selama ini hanya dianggap sebagai pengurangan kalori atau karbohidrat semata.

“Semua menilai bahwa diet itu adalah mengurangi kalori, misalnya karbo ya. Kok saya nggak kurus-kurus? Sebetulnya dari nutritional science itu menyampaikan bahwa diet itu terdiri dari pola makan, apa yang dimakan, cara makan, waktu makan dan frekuensi makan, itu semua berpengaruh pada proses perubahan pola hidup,” jelas Sally.

Pola makan yang disiplin bertujuan untuk menjaga stabilitas gula darah. Jika insulin tidak mampu mengantarkan glukosa ke dalam sel untuk diubah menjadi energi, glukosa akan menumpuk di aliran darah yang berujung pada komplikasi seperti diabetes.

Upaya Preventif Sejak Dini

Sebagai penutup, Sally mengajak masyarakat—baik yang sedang sakit maupun yang sehat—untuk melakukan upaya preventif melalui edukasi. 

Kanker bisa dicegah jika seseorang memiliki kesadaran untuk mengubah pola hidupnya sedini mungkin sebelum sel-sel abnormal berkembang lebih jauh.

“Jadi kita harus mulai mampu untuk berubah, pola hidup kita, if you change nothing, nothing will change,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya