Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indi Dharmayanti, menegaskan perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
"Perubahan suhu, curah hujan, dan cuaca ekstrem terbukti memengaruhi ekologi vektor penyakit zoonosis, seperti nyamuk dan kutu," kata Indi dalam keterangan resmi, Kamis (18/9).
Akibatnya, risiko penyakit malaria, demam berdarah, chikungunya, hingga zoonosis lain terus meningkat.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Triwibowo Ambar Garjito, mengungkapkan, BMKG mencatat tahun 2024 sebagai tahun terpanas dengan suhu rata-rata 27,5 derajat celsius.
Curah hujan ekstrem dan banjir rob menciptakan habitat baru bagi nyamuk, bahkan hingga dataran tinggi di atas 1.000 mdpl yang sebelumnya bebas malaria. Kelembaban tinggi mempercepat siklus hidup Aedes aegypti dan Aedes albopictus, meningkatkan ancaman demam berdarah.
“Deforestasi dan perubahan tata guna lahan memperbesar kontak manusia dengan hewan pembawa penyakit. Dibutuhkan pendekatan multidisipliner untuk memprediksi, memantau, dan mengurangi beban penyakit,” katanya.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono, menyoroti penyakit akibat kelelawar dan tikus. Kelelawar merupakan reservoir berbagai virus berbahaya seperti nipah dan hendra.
Sementara tikus, dengan kemampuan reproduksi tinggi, membawa lebih dari 80 jenis patogen.
“Kasus leptospirosis, misalnya, sering melonjak pascabanjir besar akibat meningkatnya populasi tikus dan buruknya sanitasi,” ungkapnya.
Arief menambahkan, perubahan iklim mendorong satwa liar bermigrasi lebih dekat ke permukiman manusia. Kelelawar vampir di Amerika Latin bahkan meluas ke wilayah baru akibat kenaikan suhu, menimbulkan risiko penularan ke ternak maupun manusia.
Dia menekankan pentingnya pengendalian komprehensif, mulai dari surveilans, manajemen habitat, konservasi hutan, hingga edukasi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Entomologi Kesehatan Indonesia (PEKI), Suwito, menyebut kondisi ekologi dan iklim tropis Indonesia sangat mendukung perkembangan vektor penyakit. Hampir seluruh wilayah hingga tingkat desa menghadapi risiko penyakit tular vektor dan zoonosis.
Menurutnya, penelitian dan surveilans harus menjadi dasar mitigasi awal, namun tidak berhenti pada kajian semata. “Hasil riset perlu ditindaklanjuti dengan intervensi nyata di lapangan,” tegasnya.
Pihaknya berkomitmen mendukung kesehatan masyarakat melalui jejaring pakar daerah dan berkolaborasi bersama BRIN, pemerintah, dan lembaga internasional.
Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Wahyu Pudji Nugraheni, menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin.”
Perubahan iklim telah mengubah pola penyebaran penyakit menular, sehingga kolaborasi antara peneliti, akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan mutlak diperlukan,” tegasnya.
Wahyu menyampaikan forum ini memperkaya diskusi sekaligus mempertegas urgensi pendekatan global dalam menghadapi ancaman penyakit akibat perubahan iklim. Menurutnya, upaya pengendalian tidak bisa berjalan parsial, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor, disiplin, dan negara.
“Melalui basis data terkini dan jejaring internasional, hasil penelitian diharapkan menjadi pijakan intervensi yang tepat sasaran.
Kolaborasi riset lintas negara pun diharapkan memperkuat kapasitas respons Indonesia dalam menghadapi ancaman penyakit tular vektor dan zoonosis di masa depan,” pungkasnya. (H-2)
Pelajari cara pencegahan Virus Nipah, gejala awal, hingga risiko penularannya. Panduan lengkap menjaga kesehatan dari ancaman zoonosis di tahun 2026.
Panduan lengkap cara penularan Virus Nipah (NiV) tahun 2026. Ketahui risiko dari kelelawar buah, babi, makanan terkontaminasi, hingga penularan antarmanusia.
Analisis mendalam mengenai Virus Nipah (NiV) di tahun 2026. Kenali gejala klinis, risiko penularan dari kelelawar, tingkat kematian, dan perkembangan terbaru vaksin.
Peneliti Australia ungkap bagaimana parasit penyebab diare, Giardia, bermutasi untuk menginfeksi berbagai spesies meski harus menghadapi kepunahan jangka panjang.
KEPALA Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indi Dharmayanti, menegaskan perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga ancaman serius.
Panduan lengkap jalur penularan virus Nipah dari hewan, makanan, hingga antarmanusia. Dilengkapi gejala terbaru dan langkah pencegahan medis 2026
. Penularan virus Nipah dari kelelawar ini kemudian menular ke manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui makanan terkontaminasi.
Kelelawar buah dari famili Pteropodidae memegang peranan utama dalam sirkulasi virus Nipah di alam liar.
Ancaman utama dari Virus Nipah terletak pada angka kematiannya yang sangat tinggi, yakni mencapai 75%.
Virus Nipah secara alami berasal dari kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus atau dikenal sebagai flying fox.
Balai Karantina Kesehatan Kelas II Pangkalpinang (BKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengingatkan potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia seiring fenomena migrasi satwa liar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved