Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGGOTA Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, Sp.A Subsp.IPT, mengonfirmasi bahwa virus Nipah telah terdeteksi di Indonesia. Meski demikian, hingga saat ini, virus tersebut baru ditemukan pada inang alami dan belum terdeteksi adanya penularan pada manusia.
Dalam sebuah webinar kesehatan, yang dikutip Rabu (4/2), Dominicus menjelaskan bahwa kelelawar buah dari famili Pteropodidae memegang peranan utama dalam sirkulasi virus ini di alam liar.
“Penularan utama sekali lagi adalah kelelawar buah (Pteropodidae) sebagai inang alami, memang aslinya dia yang berperan, negara kita termasuk yang punya kelelawar ini dan sudah ditemukan virusnya pada kelelawar, tapi pada orang memang belum,” kata Dominicus.
Data penelitian Uji Elisa tahun 2023 menunjukkan hasil yang signifikan di beberapa wilayah seperti Medan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan.
Dari 50 sampel liur kelelawar buah yang diambil, sepertiganya terbukti memiliki antibodi Nipah, bahkan dua di antaranya positif mengandung virus Nipah.
Kabar baiknya, penelitian serupa yang dilakukan pada hewan ternak babi di Jakarta, Medan, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Sulawesi Utara menunjukkan hasil negatif atau tidak ditemukannya antibodi Nipah. Hal ini penting mengingat babi sering kali menjadi inang perantara sebelum virus meloncat ke manusia.
Prof. Dominicus memaparkan bahwa penularan dari kelelawar ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan ekskresi hewan tersebut, seperti kencing dan ludah.
Risiko terbesar muncul dari konsumsi buah-buahan yang telah terkontaminasi air liur kelelawar atau daging mentah dari hewan yang terinfeksi.
Sementara itu, penularan antarmanusia dapat terjadi melalui droplet pernapasan serta kontak langsung dengan cairan tubuh atau darah pasien. Berdasarkan pola penularan ini,
Dominicus mengidentifikasi beberapa kelompok yang paling rentan terpapar:
Hingga saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah infeksi virus Nipah. Pengobatan medis pun masih bersifat suportif dan simtomatis, yakni hanya menangani gejala yang muncul pada pasien.
Mengingat tingkat bahayanya, diagnosis pasti hanya dapat dilakukan melalui uji PCR di laboratorium besar.
Sebagai langkah preventif, terutama bagi anak-anak, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi buah yang dipetik langsung dari pohon tanpa dicuci bersih.
“Cuci dan kupas buah secara menyeluruh, buang buah jika ada tanda gigitan kelelawar, hindari kontak dengan hewan ternak yang memungkinkan terinfeksi,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.
Masyarakat juga diminta untuk memastikan daging dimasak hingga matang sempurna dan disiplin dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Selain itu, penting untuk meningkatkan kewaspadaan jika menemui hewan ternak yang mati mendadak atau menunjukkan gejala sakit seperti sesak napas, demam, gemetar, hingga batuk. (Ant/Z-1)
Ancaman utama dari Virus Nipah terletak pada angka kematiannya yang sangat tinggi, yakni mencapai 75%.
Virus Nipah secara alami berasal dari kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus atau dikenal sebagai flying fox.
Balai Karantina Kesehatan Kelas II Pangkalpinang (BKK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengingatkan potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia seiring fenomena migrasi satwa liar.
VIRUS Nipah merupakan penyakit zoonotik dari kelelawar sebagai inang alaminya.
Dokter Unair mengingatkan kelelawar adalah inang alami virus Nipah. Masyarakat diminta waspada dan tidak memakan buah bekas gigitan kelelawar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved