Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah derasnya arus perbandingan di media sosial dan banjirnya saran tentang pengasuhan anak, banyak orangtua merasa terbebani tuntutan untuk selalu “melakukan yang terbaik”. Dorongan itu sering kali muncul dalam bentuk mengikuti gaya pengasuhan. Hal ini dianggap ideal oleh para ahli atau menyiapkan bekal sekolah, yang sehat sekaligus menarik untuk dipamerkan di Instagram.
Keinginan untuk menjadi orangtua yang baik tentu sesuatu yang wajar. Namun, ketika usaha tersebut berubah menjadi tuntutan perfeksionisme, justru bisa menimbulkan tekanan dan konsekuensi yang kurang baik bagi orangtua maupun anak.
Riset pun membuktikan hal tersebut. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam BMC Psychiatry, menunjukkan adanya kaitan antara perfeksionisme orang tua, serta meningkatnya risiko gangguan makan pada anak berusia 6-11 tahun.
Perfeksionisme itu bisa tampak melalui standar pribadi yang terlalu tinggi, ekspektasi berlebihan, maupun sikap kritis terhadap diri sendiri dan anak. Tekanan semacam ini sering menciptakan stres yang akhirnya menular, membuat anak terdorong untuk selalu tampil sempurna, hingga berpotensi mengembangkan pola makan yang tidak sehat.
Saat orangtua berusaha terlalu keras untuk mencapai kesempurnaan, anak-anak kerap ikut merasakan tekanan itu. Perlahan, beban harapan yang tidak terlihat ini, bisa memengaruhi cara mereka menilai diri sendiri dan membentuk citra diri mereka.
"Orangtua yang berjuang melawan perfeksionisme, sering kali menunjukkan keinginan yang kuat untuk melakukan segala sesuatunya dengan sempurna, dalam membesarkan anak-anak mereka, dan mereka mungkin juga menunjukkan hal ini di aspek lain dalam hidup mereka," kata Erin Parks, PhD, psikolog klinis dan kepala petugas klinis Equip, sebuah program perawatan gangguan makan virtual.
Thea Runyan, DrPH, MPH, pendiri sekaligus CEO Pediatric Health Coaching Academy dan konsultan ilmuwan kesehatan untuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), menekankan meski orangtua sering bermaksud baik, aturan yang terlalu ketat justru bisa menimbulkan dampak negatif. Contohnya adalah larangan mengonsumsi gula atau kewajiban untuk selalu menghabiskan makanan di piring.
Menurutnya, penerapan aturan seperti itu dapat memicu hubungan yang tidak sehat dengan makanan. Anak-anak bisa merasa bersalah terhadap pilihan makanannya, sehingga lebih memilih untuk diam-diam mengonsumsi makanan yang sebenarnya dilarang.
Orangtua sebaiknya memberikan contoh baik. Dr. Patton-Smith menekankan bahwa, anak-anak lebih memperhatikan perilaku orangtua daripada kata-kata mereka. Mengonsumsi berbagai jenis makanan tanpa rasa bersalah, adalah contoh yang penting bagi anak. Saat orangtua sesekali menikmati camilan manis atau berlemak dengan santai, anak belajar membangun hubungan yang sehat dengan makanan.
Dr. Patton-Smith menjelaskan melarang makanan tertentu, justru bisa membuat anak semakin menginginkannya. Sebagai gantinya, orangtua bisa menyediakan makanan secara teratur dan sehat sambil tetap memberi anak kebebasan memilih.
Dr. Runyan merekomendasikan agar orangtua bersikap lebih kolaboratif daripada sekadar mengontrol saat membentuk pola makan sehat. Dengan melibatkan anak dalam aktivitas seperti merancang menu, berbelanja, atau menyiapkan camilan, anak akan lebih termotivasi untuk menikmati makanan yang sudah disediakan. (Parents/Z-2)
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Studi terbaru mengungkap bayi lahir tahun 2003-2006 terpapar lebih banyak zat kimia PFAS daripada dugaan semula.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama organisasi profesi dan akademisi menyoroti mutasi dan pemberhentian empat dokter spesialis anak yang dinilai tidak berdasar.
MULAI 2027 atau tahun depan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memberikan vaksin human papillomavirus atau vaksin HPV untuk anak laki-laki usia 11 tahun.
Peneliti ungkap tanaman pangan seperti pisang dan kakao di wilayah bekas bencana tambang Brasil serap logam berat beracun. Anak-anak di bawah enam tahun paling berisiko.
Studi JAMA Pediatrics mengungkap 1 dari 20 anak berisiko alergi makanan pada usia 6 tahun. Faktor genetik, lingkungan, hingga pola makan awal jadi pemicu utama.
AHA merilis panduan gizi untuk anak-anak guna menjaga kesehatan jantung sejak dini.
Membiasakan anak makan makanan sehat memang tidak mudah, apalagi di tengah godaan camilan dan fast food. Simak 5 tips efektifnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved