Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SAENGGOK Land fill atau tempat pembuangan sampah yang berlokasi di Distrik Gangseo, Korea Selatan bisa menjadi salah satu contoh bagaimana tempat pembuangan sampah diubah menjadi aestetik, jauh dari kesan kotor ataupun bau tak sedap.
Media Indonesia berkesempatan mengunjungi Saenggok Land fill sebagai bagian dari program The Indonesian Next Generation Journalist Network oleh Korea Foundation, Jumat (23/5). Di atas lahan seluas 250.000 meter persegi itu, ada banyak ilalang. Pemandangan semakin menarik mata, sebab area berbukit tersebut juga ditumbuhi bunga liar. Tidak hanya itu, ada pula gazebo dengan pemandangan mengarah ke Saenggok eco-recycling plant, tempat di mana biogas yang berasal dari sampah diubah menjadi sumber energi.
Energi tersebut kemudian digunakan untuk mengaliri listrik bagi warga. Sedangkan, uap panas yang dihasilkan dari incinerator dimanfaatkan sebagai pemanas. Di area Saenggok Land fill juga terlihat truk-truk yang melintas mengangkut sampah yang telah dipilah untuk dibawa ke incinerator.
“Truk datang dan pergi, truk yang datang membawa sampah untuk diolah di incinerator, kemudian truk yang datang membawa abu hasil pembakaran sampah untuk dikubur (di perbukitan land fill) dengan tanah,” ujar Pegawai dari Busan Enviromental Cooperatin (BECO) Kim Da Hye.
(Tempat pembuangan sampah di Saenggok, Busan. Indriyani/MI)Tanah untuk menguruk abu sisa pembakaran sampah, kata Kim, didapat dari bekas galian konstruksi apartemen di Korea. Dengan demikian, tidak ada gas metana dari tumpukan sampah terbuka. Untuk pengolahan air lindi dari sampah, Kim mengatakan itu berada di luar lokasi dengan teknologi tertentu. Pengelolaannya dilakukan perusahaan swasta bekerja sama dengan pemerintah.
Saenggok Land fill yang penerapannya berbentuk semi aerobik land fill, kata Kim, terbagi atas dua bagian. Bagian pertama beroperasi pada April 2006 hingga Mei 2012 di atas tanah seluas 257.000 meter persegi dengan kapasitas dapat menampung sampah 11.127 meter persegi. Sedangkan tahap 2 beroperasi pada Juni 2001 dengan luas lahan 250.000 meter persegi dengan daya tamping 9.412 meter persegi. Dengan bentuk semi-aerobic, leachate dan emisi gas metana yang dihasilkan lebih rendah dibanding sistem anaerobik konvensional.
“Ada pula arboretum di Kota Busan yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah. Kini, diubah menjadi kebun bunga sehingga orang-orang dapat menikmatinya,” ucap Kim.
Residu Obat dan Antibiotik Dikelola Secara Hati-hati
Tidak hanya manajemen sampah rumah tangga yang dikelola dengan baik, sampah obat-obatan juga dikelola secara hati-hati untuk meminimalkan pencemaran terhadap lingkungan.
“Obat atau antibiotik yang dibuang begitu saja, sisa atau residunya dapat terserap ke tanah, air, yang mengalir ke sungai serta laut. Apabila residu ini dikonsumsi oleh ikan, dan ikan tersebut dimakan oleh kita, residu obat tersebut akan masuk ke tubuh manusia. Ini berbahaya (menyebabkan resistensi antibiotik),” kata Kim.
Untuk itu, di Korea, apotek atau toko obat punya cara khusus mengelola sampah obat yang sudah kedaluwarsa atau tidak dipakai. “Di Korea, jika kita sakit dan obatnya tidak habis atau kedaluwarsa, kita harus mengembalikan obat tersebut ke toko obat (untuk dikelola secara khusus),” papar Kim.
Volume Sampah Terus Berkurang
Volume sampah yang dibawa ke tempat pembuangan sampah (TPS) terus berkurang seiring dengan keberadaan TPS Saenggok. Data yang ditampilkan di dari TPS tersebut menunjukkan ada tren penurunan volume sampah sejak 2018 hingga 2024. Mulai dari 537 ton per hari, kemudian turun menjadi 523 ton per hari. Sampah-sampah yang diangkut ke Saenggok Land fill berasal dari sampah rumah tangga, restoran, supermarket dan lain-lain.
“Kami ingin menekan volume sampah yang dibawa ke tempat pembuangan menjadi seminimal mungkin atau nol dengan kebiasaan memilah dan mendaur ulang,” ucap Kim.
Memanfaatkan Limbah Sampah jadi Karya
(Instalasi karya dari kain sisa hanbok, pakaian tradisional Korea Selatan di Busan Environment Corporation’s Resources Cooperation Center. Indriyani/MI)Selain mengunjungi tempat pembuangan sampah dan pengolahannya di Saenggok, Media Indonesia juga berkesempatan melihat pameran karya kerajinan tangan dan instalasi seni yang berasal dari limbah sampah di Busan Environment Corporation’s Resources Cooperation Center.
(Instalasi seni berbentuk ikan paus yang diisi dari sampah bekas botol plastik di Busan Environment Corporation’s Resources Cooperation Center untuk meningkatkan perhatian mengenai pengurangan sampah plastik. Indriyani/MI)Di tempat ini, warga Busan diajak untuk memilah dan memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang yang berguna. Ada beragam hasil karya yang dipamerkan, kebanyakan merupakan buatan siswa sekolah dasar. Bukan karya biasa, namun bertujuan untuk meningkatkan awareness atau kesadaran mengenai isu lingkungan seperti bahaya sampah mikroplastik di laut terhadap hewan, dampak pemanasan global, dan pentingnya menjaga alam. Karya-karya itu berasal dari sampah seperti plastik, botol bekas, ataupun alat rumah tangga bekas pakai seperti panci, tutup panci, hingga kain bekas hanbok atau pakaian tradisional Korea Selatan.
(Karya jam dinding dari perabotan bekas. Indriyani/MI)Terbiasa Memilah Sampah
Untuk mengatasi masalah sampah, pemerintah Korea Selatan mengeluarkan beberapa kebijakan manajemen pengelolaan sampah seperti pemilahan sampah dari sumbernya hingga sekarang menjadi kebiasaan masyarakat. Di negara ‘Gingseng’ itu, baik pelaku usaha maupun rumah tangga harus mengelola dan memilah sampah dengan benar.

Ada sejumlah kategori. Kim menjelaskan setiap limbah yang dapat digunakan sebagai pakan hewan dianggap sebagai limbah makanan. Dengan demikian, sisa makanan seperti tulang, cangkang telur dan limbah beracun tidak termasuk ke dalam kategori food waste (sampah makanan), ada pula kategori sampah yang bisa didaur ulang seperti kertas, botol atau botol plastik, kaleng soda, gabus dan lainnya punya tempat sampah khusus. Lalu, ada kategori general waste seperti popok bayi dan tisu.
Executive Vice President dari Korea Foundation (KF) Jong Kook Rhe, saat acara makan siang bersama delegasi The Indonesian Next Generation Journalist Network, beberapa waktu lalu, mengatakan kebijakan pengelolaan sampah telah sejak lama diterapkan. Pemerintah juga memberlakukan denda bagi yang tidak mematuhinya. Hampir semua warga patuh dengan aturan tersebut.
“Sebab, ada CCTV di mana-mana,” candanya. (H-4)
Mantan Presiden Korsel Yoon Suk-yeol dijatuhi hukuman 5 tahun penjara.
Di drakor ini, Kim Seon-ho memerankan karakter bernama Joo Ho-jin. Ho-jin merupakan penerjemah multibahasa yang ditugaskan sebagai penerjemah untuk bintang top Cha Mu-hee (Go Youn-jung).
Pengadilan Seoul akan membacakan vonis terhadap mantan Presiden Yoon Suk Yeol atas tuduhan menghalangi penyidikan terkait deklarasi darurat militer 2024.
Korea Selatan dilanda tren "Dubai Chewy Cookie". Terinspirasi dari cokelat viral Dubai, hidangan penutup ini laku keras berkat pengaruh K-Pop dan visual yang menggoda.
Jaksa khusus menuntut hukuman mati bagi mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol terkait upaya pemberontakan melalui deklarasi darurat militer yang gagal.
PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) menyalurkan beasiswa senilai Rp100 juta kepada Jakarta Indonesia Korean School (JIKS).
Langkah ini sejalan dengan arahan sistem pengelolaan sampah nasional, yang menekankan pentingnya perubahan perilaku sejak dari tingkat rumah tangga.
Pendekatan utama yang diusung adalah membangun model pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat RT sebagai percontohan.
Selama dua bulan, sejak 10 Januari 2025 hingga 11 Maret 2025, proyek difokuskan di Banjar Pasedana. Di wilayah ini, terdapat 163 KK yang menjadi sasaran langsung edukasi.
Untuk memperkuat sistem ini, Pemda, Kementerian PU dan Kemendagri melalui Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) turut berperan aktif dalam berkolaborasi.
Kondisi geografis Cianjur yang luas dan beragam, meliputi wilayah urban, pedesaan, dan pegunungan, menyulitkan proses pengangkutan dan pengolahan sampah secara merata.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved