Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda memerhatikan sebuah objek benda mati seperti gumpalan awan, foam pada kopi, atau tumpukkan benda yang tergambar seperti wajah manusia, binatang, atau karakter makhluk hidup lainnya? Jika iya, hal tersebut merupakan salah satu fenomena psikologis yang dinamakan pareidolia.
Dilansir dari The Atlantic, pareidolia merupakan fenomena psikologi yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, serta setiap orang dapat melihat bentuk tertentu pada gambar biasa namun persepsinya cenderung berbeda dengan orang lain.
Peneliti dari University of Sydney dan National Institute of Mental Health menyatakan bahwa ada kesamaan dalam cara manusia memandang dan menafsirkan bentuk wajah pada benda dengan wajah asli manusia.
"Kami tahu objek-objek ini bukanlah wajah yang sebenarnya, namun persepsi wajah tetap ada," kata profesor psikologi University of Sydney David Alais.
Dalam penelitian ini ditemukan bahwa sirkuit saraf terlibat untuk mencari tahu seperti apa rupa pemandangan itu. Walaupun sebenarnya, secara sadar kita tahu kalau benda sebenarnya bukanlah wajah asli.
Dalam studi yang dirilis dalam pertemuan Association for the Scientific Study of Consciousness, pareidolia diyakini merupakan fenomena yang berhubungan dengan sifat dan kondisi emosi seseorang. Artinya, ketika seseorang melihat wajah dari objek acak di sekitar, ada hubungannya dengan mood positif serta neurotisme.
Neurotisme sendiri adalah dimensi dari kepribadian seseorang untuk merasa negatif atau cemas yang berhubungan dengan tekanan.
Itulah sebabnya ada penelitian yang menyebut pareidolia dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah secara kreatif.
Dikutip dari Psychological Science Journal, beberapa penyakit yang dikaitkan dengan kondisi pareidolia di antaranya lewy body dementia (penyakit pikun) atau halusinasi visual, yang menyumbang angka hingga 70% dari keseluruhan pasien.
Halusinasi visual timbul akibat terjadi degenerasi bagian tertentu serta terdapatnya penumpukan Lewy body (sejenis plak berupa protein) pada beberapa area dalam otak. Akibatnya, pasien sering melihat sosok, orang, atau hewan tertentu yang sebenarnya tidak ada.
Dalam sejumlah penelitian lain, orang dengan penyakit Parkinson juga melaporkan mereka sering melihat wajah atau sosok seseorang yang sebenarnya bukan manusia, melainkan benda mati. Beberapa area otak yang berhubungan dengan persepsi penglihatan dan halusinasi diyakini berperan dalam hal ini.
Pada dasarnya, otak manusia memang didesain untuk mengenali bentuk tertentu dari sebuah objek. Bagian otak yang bekerja dalam hal ini adalah fusiform face area yang memproses wajah seseorang.
Ini sama seperti bagian otak yang bekerja ketika lupa nama seseorang namun ingat pernah melihat wajahnya di masa lalu. Hal yang sama terjadi ketika seseorang merasa mendengar suara tertentu yang aneh. Atau mungkin ketika mendengar suara dering atau getaran ponselnya saat berada di keramaian.
Faktanya, otak manusia memang suka menemukan pola tertentu untuk mengurangi ketidakpastian dan membuat segala yang terjadi di lingkungan dan benda sehari-hari menjadi masuk akal. (H-3)
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Sebuah studi selama 25 tahun di Swedia mengungkap kaitan antara konsumsi keju full-fat dengan penurunan risiko Alzheimer.
Penelitian terbaru mengungkap bahaya lonjakan gula darah setelah makan terhadap kesehatan otak. Risiko Alzheimer meningkat drastis tanpa terlihat melalui kerusakan fisik otak.
SAMSUNG dikabarkan akan memperkenalkan sebuah teknologi yang mampu mendeteksi kesehatan otak dan deteksi dini demensia pada gelaran Consumer Electronic Show (CES) 2026.
Penelitian terbaru selama 25 tahun menemukan kaitan antara konsumsi keju tinggi lemak dengan penurunan risiko demensia. Simak fakta menariknya di sini.
peneliti di Swedia dan Republik Ceko pada 2023 menemukan faktor pemicu risiko demensia bahkan sebelum lahir
Risiko demensia tidak hanya berkaitan dengan faktor usia lanjut, tetapi bisa mulai terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved