Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Selama beberapa dekade terakhir, Indonesia telah mengalami kemajuan signifikan dalam meningkatkan pendapatan per kapita dan mengurangi angka kemiskinan. Meskipun demikian, ketimpangan sosial masih menjadi masalah besar yang dihadapi, terutama di kalangan masyarakat yang termarjinalisasi, termasuk penyandang disabilitas. Masyarakat penyandang disabilitas sering terisolasi secara sosial dan menghadapi berbagai diskriminasi, baik dalam akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, maupun layanan lainnya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada 2011 tercatat mencapai 237,64 juta orang. WHO menyebut, dari total tersebut, sebanyak 10% atau 24 juta orang di antara mereka adalah penyandang disabilitas.
Namun, data yang berbeda dikeluarkan Kementerian Sosial. Pada 2010 mereka mencatat jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 11.580.117 orang, dengan rincian sebagai berikut:
Sementara itu, data dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia pada tahun yang sama mencatatkan jumlah penyandang disabilitas sebesar 7.126.409 orang. Kurangnya data yang akurat dan mendalam mengenai jumlah penyandang disabilitas menghambat upaya-upaya yang seharusnya dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Ketidakakuratan data ini mencerminkan tantangan besar dalam merancang kebijakan yang inklusif dan efektif untuk penyandang disabilitas di Indonesia.
Disabilitas bukanlah fenomena baru, melainkan bagian dari pengalaman hidup manusia itu sendiri. Secara global, disabilitas melibatkan berbagai kondisi kesehatan, seperti demensia, kebutaan, atau cedera tulang belakang, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan pribadi. Saat ini, sekitar 1,3 miliar orang atau 16 persen dari populasi dunia mengalami disabilitas yang signifikan. Angka ini terus meningkat seiring dengan bertambahnya prevalensi penyakit tidak menular dan meningkatnya harapan hidup.
Penyandang disabilitas adalah kelompok yang sangat beragam, dengan pengalaman hidup dan kebutuhan yang berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jenis kelamin, usia, identitas gender, orientasi seksual, agama, ras, etnis, dan situasi ekonomi mereka. Penyandang disabilitas umumnya mengalami tantangan yang lebih berat dibandingkan dengan non-disabilitas, termasuk lebih banyak keterbatasan dalam fungsi sehari-hari, kualitas hidup yang lebih rendah, serta rentan terhadap masalah kesehatan yang lebih buruk dan angka kematian yang lebih tinggi.
Penyandang disabilitas sering kali menghadapi diskriminasi dan kesulitan dalam mengakses layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Ketidakmampuan untuk mengakses fasilitas publik yang ramah disabilitas, serta kurangnya pemahaman masyarakat mengenai hak-hak penyandang disabilitas, sering kali memperburuk kondisi mereka. Di Indonesia, meskipun telah ada beberapa kebijakan yang mendukung penyandang disabilitas, implementasinya masih jauh dari harapan.
Sebagai contoh, kebijakan afirmatif dalam bidang pendidikan dan pekerjaan untuk penyandang disabilitas belum sepenuhnya berjalan dengan baik, yang menyebabkan banyak penyandang disabilitas terpinggirkan dari kesempatan yang setara. Selain itu, mereka sering kali terisolasi secara sosial karena ketidakmampuan untuk mengakses infrastruktur dan layanan publik yang ramah disabilitas.
Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia dan dunia terus meningkat, namun tantangan besar tetap ada dalam hal pemberian akses yang setara dan penghapusan diskriminasi. Untuk itu, Hari Disabilitas Internasional diharapkan jadi momentum untuk munculnya upaya kolektif dari pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk menciptakan lingkungan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. (Kemenkes/Z-11)
Menteri PPPA Arifah Fauzi menekankan pentingnya mendorong kemandirian, kesiapan hidup, serta pembangunan masa depan yang layak bagi anak penyandang disabilitas.
Peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 kembali menjadi momentum penting untuk menegaskan komitmen bersama dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.
Mitra Netra pun mengajak seluruh pemangku peran untuk memastikan tersedianya kesempatan kerja yang adil bagi penyandang disabilitas netra.
Dalam momentum Hari Disabilitas Internasional, sebuah festival inklusi bertajuk Limitless Fest 2025 digelar melalui kampanye keberlanjutan Bangun Bangsa.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk memastikan semua ruang publik di bawah naungan Kemenag ramah bagi penyandang disabilitas.
Pada acara kelulusan, 15 MUA Tuli Bakti BCA berkesempatan memamerkan kemampuan rias mereka lewat pagelaran fashion show koleksi IKAT Indonesia karya desainer Didiet Maulana.
Sejumlah pekerjaan rumah dalam pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di tanah air harus dituntaskan.
Kegiatan ini lahir sebagai respons atas masih adanya kesenjangan antara potensi penyandang disabilitas dengan realitas praktik rekrutmen di dunia kerja.
Upaya penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas membutuhkan kolaborasi nyata antara negara dan masyarakat sipil.
Arifah menekankan pentingnya mendorong kemandirian, serta pembangunan masa depan yang layak bagi anak penyandang disabilitas.
Mitra Netra pun mengajak seluruh pemangku peran untuk memastikan tersedianya kesempatan kerja yang adil bagi penyandang disabilitas netra.
Dalam momentum Hari Disabilitas Internasional, sebuah festival inklusi bertajuk Limitless Fest 2025 digelar melalui kampanye keberlanjutan Bangun Bangsa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved