Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DATA Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 17 juta berada pada usia produktif, namun hanya 45 persen yang bekerja. Selain itu, sebagian besar di antaranya (83 persen) bekerja di sektor non-formal. Ini artinya sekitar 66,7 persen penyandang disabilitas dinilai belum memiliki potensi ekonomi.
Data organisasi buruh dunia merilis angka yang jauh lebih memprihatinkan, International Labour Organization (ILO), hingga Desember 2024, nyaris 90 persen penyandang disabilitas di Indonesia tidak aktif bekerja atau tengah mencari pekerjaan.
Bukan sekadar angka, data tersebut menunjukkan penyandang disabilitas adalah kalangan yang terpinggirkan di dunia kerja. Dunia kerja rupanya belum menerapkan prinsip-prinsip inklusif dan membuka akses seluas-luasnya pada kalangan disabilitas. Di sisi lain, berbagai upaya peningkatan kapasitas untuk kelompok rentan ini juga terasa belum optimal.
Alhasil, kondisi ini semakin memperburuk nasib kalangan disabilitas. Bukan hanya marjinal secara sosial karena keterbatasan mereka, melainkan juga tersisih dari perkembangan ekonomi.
Padahal, penyandang disabilitas menyimpan potensi besar, terutama di sektor ekonomi. Melalui pendekatan yang tepat dan upaya pemberdayaan secara berkelanjutan, kapasitas mereka dapat meningkat. Mereka dapat masuk ke dunia kerja, menjadi sosok profesional, bahkan mampu mengembangkan peluang usaha dan menyediakan lapangan kerja bagi komunitasnya.
“Potensi penyandang disabilitas itu banyak sekali, tapi sayang tidak digali. Tantangan terbesarnya mereka sebenarnya hanya terkait akses. Kemampuan mereka itu bisa setara dengan kita. Tinggal mereka diberi kesempatan yang sama atau tidak,” kata Grisna Anggadwita, pengajar di prodi manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Telkom, yang aktif melakukan penelitian dan pendampingan di kalangan minoritas termasuk penyandang disabilitas.
Melihat kondisi dan potensi warga disabilitas dari serangkaian risetnya, Grisna tak berpangku tangan. Ia berupaya merancang platform pembelajaran khusus yang dapat memotivasi dan meningkatkan kemampuan penyandang disabilitas. Tak berhenti di situ, ia juga menggandeng kampus dan mengajak lembaga lain untuk memfasilitasi strategi pemberdayaan bagi kalangan rentan secara komprehensif.
“Akan bagus sekali kalau semua pihak ikut berperan untuk memberdayakan kaum minoritas,” ungkap Grisna.
Dunia kalangan marjinal seakan telah menjadi bagian kehidupan Grisna. Ketertarikan itu bermula dari riset studinya di Program Magister Sains Manajemen, Sekolah Bisnis Manajemen (SBM), Institut Teknologi Bandung (ITB) tentang kewirausahaan perempuan di tahun 2013. Meski kesetaraan perempuan telah digalakkan, kiprah wanita dalam dunia usaha ternyata tidak mudah, terutama dalam menghadapi kultur dan stigma yang berkembang di masyarakat.
“Wirausaha wanita itu masih cukup challenging (menantang). Tidak hanya di kegiatan ekonomi, challenge (tantangan) juga datang untuk perempuan yang berumah tangga dan banyak aspek lainnya, termasuk lingkungan, sosial, budaya hingga sisi agama. Akhirnya saya kaji semuanya. Walaupun kesetaraan jender sudah digaungkan, pada praktiknya wanita mengalami banyak tantangan dan hambatan,” paparnya.
Pada akhirnya, Grisna menyadari perempuan masih menjadi bagian kelompok rentan di Indonesia. Hasil penelitian itu ia tuangkan dalam riset bertajuk "Socio-cultural Environments and Emerging Economy Entrepreneurship: Women Entrepreneurs in Indonesia." Karya ilmiah ini dipublikasikan di Journal of Entrepreneurship in Emerging Economies.
Sejak itu, Grisna lebih dalam masuk ke dunia kalangan marjinal perempuan. Lebih spesifik lagi, ia memilih kelompok yang jarang dilirik, yakni perempuan yang telah menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan (lapas).
Lagi-lagi Grisna melihat, kalangan ini tak mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah. “Saya penasaran, wanita setelah dipenjara itu bagaimana kehidupannya. Mereka kaum minoritas yang sebenarnya potensinya besar, tapi kok masih terpinggirkan,” ujarnya dengan gundah.
Rasa ingin tahu Grisna membuatnya mampu menembus tembok penjara. Saat itu, ia berkesempatan melakukan penelitian di sebuah lapas di Lampung, berkat akses yang dibantu oleh mahasiswanya yang merupakan putra dari salah satu pimpinan lapas tersebut, untuk mengumpulkan data-data awal. Dalam perkembangannya, ia menemukan sebuah komunitas warga binaan di sebuah lapas perempuan di Bandung.
Namun sayang, upaya Grisna untuk mengkaji potensi warga binaan perempuan seakan terhalang jeruji besi – yang bukan jeruji di penjara, melainkan jeruji birokrasi. Selain itu, para perempuan di lapas itu sangat menutup diri. Grisna pun memaklumi, mengingat stigma negatif masyarakat terhadap warga lapas perempuan masih sangat kuat dan menakutkan bagi mereka.
“Untuk masuk ke lapas susah sekali. Saya hanya ingin melakukan community service, tapi ternyata enggak semudah itu,” katanya.
Di tengah kendala itu, Grisna bertemu dengan seorang perempuan wirausaha yang masih berkaitan dengan penelitian sebelumnya. Perempuan ini penyandang disabilitas yang tinggal di Yogyakarta dan memasarkan produk-produk karya komunitas disabilitas. “Ternyata potensi disabilitas itu banyak sekali, apalagi di pedesaan,” ungkap Grisna.
Sejak itu, hatinya terketuk untuk meneliti, mendampingi, hingga memberdayakan kaum minoritas lainnya, yakni para penyandang disabilitas.
Dari penelitiannya mengenai penyandang disabilitas dengan gangguan penglihatan di Bandung, Grisna - yang juga merupakan alumni Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada - kemudian berkolaborasi dengan beberapa tim riset lainnya, di antaranya Prof. Nurul Indarti dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rochmat Aldy Purnomo dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo, serta Richard Tomlins dari Coventry University.
Kolaborasi tersebut menghasilkan penelitian mengenai kewirausahaan sosial dalam pemberdayaan penyandang disabilitas di Yogyakarta dan Ponorogo, Jawa Timur, yang telah dipublikasikan di Journal of Social Entrepreneurship. Penelitian lain juga terus dikembangkan dengan menggali potensi wirausaha perempuan penyandang disabilitas dalam konteks pemberdayaan digital.
Studi ini dilakukan melalui penulisan book chapter yang telah diterbitkan oleh Springer dalam buku berjudul “Gender in Digital Entrepreneurship: Recent Issues in Emerging Countries.” Dalam penulisan tersebut, Grisna berkolaborasi dengan Megawati Syahril, seorang pengusaha yang memberdayakan penyandang disabilitas sebagai pengrajin, yang juga merupakan mahasiswa doktoral di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Sepanjang periode riset 2022–2025, ia menemukan banyak cerita dan pengalaman berharga dari para penyandang disabilitas.
Dari penelusurannya, Grisna memahami bahwa penyandang disabilitas harus mendapat pendampingan secara spesifik dan kontinu. Ini karena kondisi disabilitas mereka yang berbeda-beda, bahkan untuk jenis keterbatasan yang sama. “Ternyata jenis disabilitas itu banyak banget. Tidak hanya disabilitas fisik, tapi ada juga disabilitas intelektual dan yang lainnya,” ujarnya.
Tantangan terbesar pada disabilitas adalah stigma negatif pada mereka yang masih kuat. Kemampuan penyandang disabilitas dianggap serba terbatas, termasuk di sektor ekonomi. Lambat laun, bagi sebagian warga disabilitas, pandangan negatif ini berpengaruh pada cara pandang mereka pada diri sendiri.
“Mereka merasa tidak punya kemampuan. Jadi mereka seperti terpenjara sama pikiran mereka sendiri. Mindset para disabilitas membuat dia kurang bisa mengoptimalkan kemampuan mereka,” ujarnya.
Grisna mengakui pemerintah telah mengembangkan sejumlah program peningkatan kapasitas untuk disabilitas. Kendati demikian, tak semua program mencapai hasil optimal. Hal ini tak lepas dari sejumlah sebab, seperti perlakuan ke penyandang disabilitas yang kurang tepat atau menjadikan mereka sekadar objek.
“Bahkan ada beberapa oknum berkedok (melakukan) pemberdayaan, tapi ujung-ujungnya hanya memanfaatkan mereka sebagai peserta. Setelah itu sudah, enggak ada pembimbingan lebih lanjut,” ungkapnya.
Akibatnya, tak sedikit penyandang disabilitas yang mengalami resistensi. Mereka enggan menerima program-program yang sekadar formalitas. Mereka menilai program-program itu bukan memberdayakan, tapi memperdaya mereka.
Padahal, para penyandang disabilitas memiliki potensi, kapasitas, dan semangat yang tak kalah besar untuk berkembang. Sebagai contoh, Grisna melihat sendiri kemampun seorang disabilitas fisik. Kendati kehilangan kedua tangan, penyandang disabilitas mampu melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk mengoperasikan telepon genggam, dengan kakinya.
Kemampuan ini jika difasilitasi lebih lanjut akan dapat mengangkat taraf ekonomi warga disabilitas tersebut.
"Mereka itu hanya minta diberikan kesempatan yang sama seperti yang lainnya. Hambatan mereka lebih ke akses dan peluang yang tidak merata. Penyandang disabilitas sangat bisa berdaya secara ekonomi,” ungkapnya.
Dari berbagai penggalian lebih dalam ke komunitas disabilitas, Grisna sampai pada kesimpulan bahwa mereka membutuhkan memotivasi untuk berkembang.
“Kalau digali dengan benar, potensi mereka sangat besar. Tapi yang harus kita sentuh itu internalnya mereka, personalnya mereka. ‘Ayo kita bareng-bareng’. Hingga mereka benar-benar mandiri nanti tinggal kita (lakukan) monitoring,” paparnya.
Karena itu, Grisna terus melakukan pendekatan personal dengan memperlakukan mereka secara manusiawi. Dengan kata lain, memanusiakan penyandang disabilitas. “Mereka enggak suka diperlakukan secara berlebihan. Misalkan ada kekurangan, jangan memandang kekurangan mereka. Biasa aja. Mereka juga lebih senang kita ngobrol biasa saja. Jangan justru dikasihani, tapi perlakukan mereka seperti manusia,” paparnya.
Pada 2014, sebelum terjun di komunitas disabilitas, Grisna menjadi tenaga ahli di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ia terlibat dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Ekonomi Kreatif Indonesia Menuju 2025. Secara spesifik, ia mengkaji andil sub-sektor teknologi informasi, khususnya pengembangan aplikasi, dalam ekonomi kreatif.
Saat ini, pengalaman Grisna di bidang digital terbukti sangat berguna ketika ia berupaya mendampingi komunitas disabilitas. Bersama tim risetnya di Telkom University - yang terdiri atas Yuhana Astuti, Ph.D., Dr. Adhi Prasetio, dan Nike Mandasari - Grisna tengah mengembangkan sebuah aplikasi yang dapat digunakan oleh penyandang disabilitas untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh. Materi yang disajikan dalam aplikasi tersebut berfokus pada kemampuan praktis, seperti pembukuan sederhana dan berbagai model usaha.
Namun bukan hanya berisi keterampilan dan skema bisnis, konten di platform tersebut diselaraskan dengan metode pendekatan personal ke disabilitas yang ia kembangkan. Pendekatan personal itu diterjemahkan dalam bentuk narasi bergaya story telling yakni dengan mengangkat cerita sukses para disabilitas.
Aplikasi ini digagas berdasarkan penelitian Grisna yang membagi ke dalam dua kelompok disabilitas. Salah satu kelompok yang memperoleh paparan story telling tersebut ternyata mengalami peningkatan motivasi. “Story telling itu menggugah,” katanya.
Secara teknis, berdasarkan diskusi dan kajian kebutuhan para penyandang disabilitas, platform ini semula diperuntukan bagi disabilitas fisik. Namun aplikasi ini juga tengah dikembangkan dan mencari bentuk ideal agar dapat digunakan oleh berbagai jenis penyandang disabilitas. “Kami ingin aplikasi ini bisa dimanfaatkan tidak hanya oleh mereka yang punya kekurangan fisik,” katanya.
Grisna juga menginisiasi program pendanaan untuk mengembangkan inkubator usaha bagi disabilitas yang bekerjasama dengan Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas (LPPPD) di Yogyakarta. Program ini diharapkan memperoleh dukungan hibah dari Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. “Inkubator khusus untuk para penyandang disabilitas ini ada proses pembelajaran dan pendampingannya,” ungkapnya.
Gayung pun bersambut. Pendampingan Grisna ke kalangan disabilitas rupanya mendapat dukungan dari kampus tempatnya mengajar, Universitas Telkom. Apalagi saat ini perguruan tinggi tersebut sedang membangun pusat disabilitas untuk mahasiswa. Alhasil, upaya-upaya Grisna ke kelompok rentan lebih terlembaga.
“Ini memungkinkan kita membantu memfasilitasi para disabilitas yang nanti menjadi binaan perguruan tinggi. Kami sedang membangun sistemnya dan ternyata institusi juga punya visi yang sama. Semoga nanti hasilnya bisa terukur dan ada dampaknya,” harap Grisna.
Grisna merupakan salah satu peraih beasiswa Tanoto Foundation pada 2013. Menurutnya, Tanoto Foundation memiliki peran penting dalam perjalanan karir akademiknya. Melalui dukungan beasiswa pendidikan selama menempuh studi magister di SBM ITB, Grisna dapat berfokus pada pendidikannya sekaligus mengembangkan keilmuan dan kapasitas risetnya. Secara lebih luas, dukungan tersebut juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal, SDGs) yang menekankan pentingnya inklusivitas, pemberdayaan, dan kesempatan yang setara bagi semua.
Grisna mengajak semua pihak untuk turut mendukung upaya-upaya peningkatan kapasitas bagi penyandang disabilitas. “Bagi penyandang disabilitas, tak selalu berupa dukungan finansial, tapi juga dengan memfasilitasi mereka melalui pendampingan, pembinaan, atau bimbingan. Apalagi sekarang ini, isu-isu terkait equality (kesetaraan) pada SDGs, sedang kuat. Jadi akan bagus sekali kalau semua pihak ikut berperan untuk memberdayakan kaum minoritas,” paparnya.
Grisna yang pernah menjadi visiting researcher di Grenoble Ecole de Management, Perancis, turut berkaca dari pengalamannya yang melihat fasilitas penyandang disabilitas di luar negeri, seperti di Perancis dan Swiss. Dari pengamatannya, Indonesia dinilai masih belum memaksimalkan penyediaan fasilitas yang memadai bagi penyandang disabilitas.
“Fasilitas kita memang kadang tidak mendukung, tapi tidak berarti kita tidak mendukung mereka yang punya kekurangan,” ungkapnya.Dengan terbatasnya dukungan itu, pendampingan ke penyandang disabilitas justru menjadi momen-momen personal bagi Grisna. Menurutnya, setiap kali berinteraksi dengan penyandang disabilitas menjadi momen untuk berefleksi ke dalam diri.
“Kadang saya malu sama diri saya sendiri. Mereka usahanya besar sekali dengan keterbatasan mereka. Sementara saya kadang enggak bisa melakukan banyak hal. Karena itu, kita jangan memandang rendah setiap manusia. Saya belajar dari mereka,” pungkas Grisna. []
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved