Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
AURORA adalah fenomena alam yang menampilkan cahaya berwarna-warni yang terlihat di langit malam, terutama di daerah kutub.
Aurora terjadi akibat interaksi antara partikel bermuatan yang datang dari Matahari, yang dikenal sebagai angin matahari, dengan atmosfer Bumi.
Fenomena ini muncul dalam dua bentuk utama, yaitu Aurora Borealis (di Kutub Utara) dan Aurora Australis (di Kutub Selatan).
Aurora terbentuk ketika partikel-partikel tersebut bertabrakan dengan gas-gas di atmosfer Bumi, seperti oksigen dan nitrogen, dan melepaskan energi dalam bentuk cahaya yang terlihat sebagai cahaya berwarna-warni di langit.
Proses dimulai dengan angin matahari, yaitu aliran partikel bermuatan (seperti proton dan elektron) yang berasal dari Matahari. Angin matahari ini membawa energi dalam bentuk partikel bermuatan tinggi yang bergerak menuju Bumi dengan kecepatan tinggi.
Proses ini terjadi secara terus-menerus, sehingga Bumi selalu dipengaruhi oleh angin matahari.
Ketika angin matahari mendekati Bumi, sebagian besar partikel ini akan terperangkap oleh magnetosfer Bumi, yaitu lapisan medan magnet yang mengelilingi Bumi.
Magnetosfer berfungsi sebagai perisai yang melindungi Bumi dari sebagian besar radiasi matahari. Namun, sebagian partikel tersebut masih dapat masuk ke atmosfer Bumi, terutama di dekat kutub magnetik.
Partikel bermuatan yang berhasil memasuki atmosfer Bumi terarah ke kutub utara dan selatan karena medan magnet Bumi.
Daerah kutub magnetik adalah tempat terjadinya konsentrasi tinggi dari partikel-partikel ini, yang selanjutnya akan menabrak atmosfer Bumi.
Ketika partikel bermuatan ini masuk ke atmosfer, mereka bertabrakan dengan molekul gas, terutama molekul oksigen dan nitrogen yang terdapat di atmosfer bagian atas (sekitar 80 hingga 300 km di atas permukaan Bumi).
Tabrakan ini menyebabkan excitation atau pergerakan energi yang meningkatkan keadaan energi molekul gas tersebut.
Setelah molekul gas tereksitasi, mereka kembali ke keadaan energi yang lebih rendah dengan melepaskan energi dalam bentuk cahaya. Inilah yang kita lihat sebagai aurora.
Warna aurora tergantung pada jenis gas yang terlibat:
Cahaya yang dilepaskan oleh molekul-molekul gas ini menciptakan pola yang bergerak atau berkelap-kelip di langit, yang kita kenal dengan nama aurora borealis (di kutub utara) atau aurora australis (di kutub selatan).
Fenomena aurora ini biasanya terjadi di sepanjang daerah kutub magnetik, meskipun terkadang aurora bisa terlihat lebih jauh dari kutub pada kondisi tertentu.
Proses terjadinya aurora melibatkan interaksi antara partikel bermuatan dari Matahari dengan atmosfer Bumi. Ketika partikel-partikel ini bertabrakan dengan gas-gas di atmosfer, energi dilepaskan dalam bentuk cahaya yang membentuk aurora. Fenomena alam ini merupakan hasil dari interaksi yang rumit antara angin matahari, medan magnet Bumi, dan atmosfer Bumi. (Z-12)
Gerhana Matahari total terjadi ketika Bulan bergerak tepat di antara Bumi dan Matahari, menutupi piringan Matahari sepenuhnya.
Satelit Landsat 8 milik NASA menangkap gambar unik menyerupai manusia salju sepanjang 22 kilometer di Semenanjung Chukchi, Rusia.
Langit berwarna oranye pekat terlihat di sejumlah wilayah Jawa Timur dan sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Tim ilmuwan di Swedia berhasil menangkap fenomena langka aurora biru di ketinggian 200 kilometer, lebih tinggi dari prediksi model ilmiah.
Fenomena ini akan mencapai puncaknya pada Rabu, 5 November pukul 19:19 WIB, menandai supermoon kedua dari tiga supermoon berturut-turut yang akan menutup tahun 2025.
Riset ilmuwan ungkap bagaimana kegelapan sesaat mampu mengubah ritme biologis burung secara dramatis.
Matahari meletuskan ledakan X-Class dan CME raksasa melaju ke Bumi. Badai geomagnetik kuat berpotensi terjadi dalam 24 jam ke depan.
Langit menyimpan banyak fenomena langit unik dan menakjubkan yang sering luput dari perhatian. Beberapa di antaranya terlihat aneh dan tak biasa, namun semuanya nyata.
Letupan surya kelas X yang terjadi pada November berhasil direkam teleskop GREGOR di Spanyol.
Badai matahari besar diprediksi tiba 1-3 September 2025. Fenomena langka “cannibal CME” berpotensi munculkan aurora di wilayah yang jarang tersinari.
Teleskop James Webb berhasil merekam aurora di kutub Jupiter dengan intensitas luar biasa.
NASA mempersiapkan peluncuran misi EZIE mempelajari elektrojet, arus listrik kuat di atmosfer atas Bumi yang bisa mengganggu satelit, astronot, bahkan sistem kelistrikan di Bumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved