Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTIVITAS Matahari benar-benar “bangun” minggu ini. Sebuah ledakan dahsyat kelas X, yang merupakan jenis letusan terkuat dari Matahari, baru saja terjadi dan langsung diikuti oleh coronal mass ejection (CME) berukuran sangat besar.
CME ini melaju cepat dan mengarah langsung ke Bumi. Para ilmuwan memperkirakan dampaknya bisa terasa dalam waktu 24 jam ke depan.
Dalam visual yang dirilis, terlihat kilatan suar Matahari yang sangat terang, sementara di sisi lain tampak semburan plasma raksasa yang terlepas dari Matahari dan meluncur ke ruang angkasa.
Menurut prakiraan UK Met Office, jika CME ini tiba sesuai jadwal dan memiliki arah medan magnet yang tepat, Bumi bisa mengalami badai geomagnetik kuat (G3) bahkan hingga parah (G4).
Jika skenario terburuk terjadi, aurora atau cahaya utara berpeluang terlihat jauh lebih ke selatan dari biasanya. Wilayah yang jarang mengalami fenomena ini, seperti California Utara hingga Alabama, berpotensi ikut menyaksikannya.
Saat ini, para pakar cuaca antariksa masih sibuk mengolah data dan menjalankan simulasi untuk memastikan kapan tepatnya CME akan tiba dan seberapa besar dampaknya.
Meski CME terlihat mengancam, dampaknya belum bisa dipastikan sepenuhnya. Semua bergantung pada arah medan magnet yang dibawanya.
Arah ini baru benar-benar bisa dipastikan ketika CME sudah mendekati Bumi dan terdeteksi langsung oleh satelit pemantau seperti DSCOVR dan ACE.
Suar Matahari diklasifikasikan dari yang paling lemah hingga paling kuat: A, B, C, M, dan X. Kelas X berada di puncak daftar dan merupakan yang paling berenergi.
Ledakan kali ini tercatat sebagai X1.9, tergolong sangat kuat. Letusan ini berasal dari wilayah bintik Matahari AR4341 dan mencapai puncaknya pada pukul 13.09 EST.
Dampaknya langsung terasa di Bumi, dengan gangguan komunikasi radio di wilayah yang sedang siang hari, terutama di kawasan Amerika.
Jika CME ini benar-benar menghantam Bumi, beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain:
Meski terdengar mengkhawatirkan, peristiwa seperti ini juga menjadi kesempatan langka bagi para pengamat langit untuk menyaksikan fenomena alam yang luar biasa.
Dalam satu hingga dua hari ke depan, perhatian dunia sains akan tertuju pada Matahari. Apakah CME ini akan benar-benar memicu badai besar, atau justru melemah sebelum mencapai Bumi, semuanya masih bergantung pada faktor yang belum sepenuhnya bisa diprediksi.
Kilatan cahaya singkat yang muncul di sisi gelap Bulan pada Desember 2025 bukan hanya peristiwa astronomi biasa.
Hambatan terbesar dalam mewujudkan perjalanan antarbintang ternyata bukan terletak pada kapal, mesin, ataupun bahan bakar.
Meski tampak hitam pekat, ruang angkasa jarang benar-benar gelap. Para astronom menjelaskan lokasi-lokasi tergelap di tata surya dan alam semesta.
Peneliti ETH Zurich berhasil mencetak jaringan otot manusia menggunakan teknologi 3D printing di kondisi tanpa gravitasi.
Tiongkok untuk pertama kalinya menghubungi NASA guna mencegah potensi tabrakan satelit di orbit.
Medan magnet Bumi terbentuk oleh inti Bumi yang terdiri dari besi cair yang berputar di kedalaman sekitar 2.900 kilometer. Medan ini melindungi permukaan Bumi dari partikel bermuatan
Peneliti berhasil menjelaskan tabrakan dua lubang hitam “mustahil” yang membingungkan ilmuwan sejak 2023. Kuncinya ternyata terletak pada kekuatan medan magnet bintang.
Ilmuwan dari Universitas Oxford dan CERN berhasil menciptakan kondisi mirip “bola api kosmik” di laboratorium, meniru semburan plasma dari lubang hitam raksasa.
Dua fenomena langka terdeteksi di kedalaman Bumi, sinyal gravitasi aneh dan perubahan medan magnet. Ilmuwan ungkap kaitannya dengan dinamika inti planet.
Medan magnet Bumi sendiri terbentuk dari pergerakan logam cair di inti planet kita, terutama besi dan nikel. Medan ini memanjang hingga puluhan ribu kilometer ke angkasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved