Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Badai Matahari Terkuat 2026, Ledakan X8.3 Picu Gangguan Radio di Bumi 

Thalatie K Yani
03/2/2026 11:13
Badai Matahari Terkuat 2026, Ledakan X8.3 Picu Gangguan Radio di Bumi 
Matahari melepaskan rentetan ledakan dahsyat, termasuk suar kelas X8.3 yang menjadi terkuat tahun ini. Simak dampaknya terhadap sinyal radio dan peluang Aurora.(NOAA)

AKTIVITAS matahari meningkat drastis dalam 24 jam terakhir. Sang surya melepaskan rentetan ledakan dahsyat yang terdiri dari setidaknya 18 suar surya (solar flare) kelas M dan tiga suar kelas X. Di antaranya, terdapat erupsi berskala X8.3 yang tercatat sebagai suar matahari terkuat sepanjang tahun 2026 sejauh ini.

Sebagai informasi, suar matahari diklasifikasikan berdasarkan kekuatannya mulai dari A, B, C, hingga M dan X. Setiap huruf mewakili peningkatan energi sepuluh kali lipat, yang berarti kelas X adalah ledakan paling kuat yang mampu dihasilkan oleh matahari.

Bintik Matahari 4366, "Pabrik Suar" yang Volatil

Pemicu dari kegaduhan ini adalah wilayah bintik matahari 4366, sebuah area aktif yang tumbuh sangat cepat hanya dalam hitungan hari. Rentetan aktivitas ini dimulai sejak akhir 1-2  Februari 2026. Situs pemantau antariksa Spaceweather.com menjuluki wilayah ini sebagai "pabrik suar matahari" karena kompleksitas magnetiknya yang tinggi.

Ledakan X8.3 mencapai puncaknya pada pukul 18.57 EST tanggal 1 Februari (06.57 WIB, 2 Februari). Erupsi ini melepaskan radiasi ultraviolet ekstrem dan sinar-X yang mengionisasi atmosfer atas Bumi. Dampaknya, terjadi pemadaman radio kuat (skala R3) di sebagian wilayah Pasifik Selatan, serta gangguan radio gelombang pendek di wilayah timur Australia dan Selandia Baru.

Potensi Aurora dan Dampak Lanjutan

Saat ini, para ilmuwan tengah mengamati tanda-tanda Lontaran Massa Korona (Coronal Mass Ejection/CME) yang biasanya menyusul ledakan besar tersebut. Analisis awal menunjukkan sebagian besar material surya dari erupsi X8.3 kemungkinan akan melintas di utara dan timur Bumi. Meski demikian, potensi "hantaman tipis" (glancing blow) diperkirakan tetap bisa terjadi sekitar tanggal 5 Februari mendatang.

Jika dampak tersebut terjadi, aktivitas geomagnetik dapat meningkat secara singkat dan memperbesar peluang munculnya aurora (cahaya utara/selatan) di wilayah lintang tinggi. Namun, Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA menekankan bahwa hal ini sangat bergantung pada kecepatan, arah, dan orientasi magnetik CME tersebut.

Bintik matahari AR4366 sendiri masih sangat aktif dan terus berputar menuju posisi yang menghadap langsung ke Bumi. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya erupsi di masa mendatang yang dapat melontarkan material surya secara lebih langsung ke planet kita. NOAA memperkirakan aktivitas cuaca antariksa yang "menarik" akan terus berlanjut dari wilayah ini dalam beberapa hari ke depan. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya