Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Kesehatan menyatakan pihaknya masih menelusuri penyebab dari maraknya kasus infeksi tuberkulosis pada anak di Papua. "Sedang ditelusuri lebih lanjut. Kalau sudah ada infonya nanti akan dikabari lebih lanjut," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman saat dihubungi, Jumat (15/11).
Aji juga menyatakan Kemenkes akan segera melakukan langkah-langkah penanganan serta pencegahan penyebaran infeksi tersebut lebih jauh.
Seperti diketahui, sebanyak 727 anak di Papua dilaporkan terinfeksi tuberkulosis (TBC) dan 215 diantaranya mengalami resisten terhadap pengobatan yang diberikan kepada pasien.
Kepala Balai AIDS,TBC dan Malaria Dinkes Papua Berry Watori di Jayapura, Kamis, mengatakan 727 anak yang terkena tuberkulosis itu tersebar di sembilan kabupaten dan kota.
Kasus terbanyak terdapat di Kabupaten Jayapura tercatat 291 anak, menyusul Kota Jayapura 214 anak, Kepulauan Yapen 82 anak, Biak Numfor 70 anak, Supiori 21 anak, Keerom 19 anak, Waropen 12 anak, Sarmi 10 anak, dan Kabupaten Mamberamo Raya delapan anak.
Untuk Papua, kata Berry, ditargetkan sebanyak 2.247 anak, sehingga pihaknya terus melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk menemukan anak yang terkena tuberkulosis. (H-2)
Adapun, kasus 215 Tb Resisten Obat (Tb-RO) itu bukan pada anak-anak saja, namun untuk keseluruhan kasus Tb-RO anak-anak dan dewasa di Papua.
Kepala Balai AIDS,TBC dan Malaria Dinkes Papua Berry Watori di Jayapura, Kamis, mengatakan 727 anak yang terkena tuberkulosis itu tersebar di sembilan kabupaten dan kota.
Selain durasi batuk, orangtua juga juga harus memerhatikan warna dahak dan jika terjadi penurunan berat badan anak.
Dokter spesialis respirologi anak konsultan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Wahyuni Indawati menyatakan bahwa kontak erat di rumah merupakan faktor risiko utama dalam penularan TBC anak
Ketua Tim Kerja Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Tiffany Tiara Pakasi menyebut lonjakan estimasi kasus TB tersebut terjadi karena penemuan atau deteksi yang turun
Tuberkulosis tidak hanya ditandai batuk berkepanjangan. Kenali gejala TB paru, TB ekstra paru, perbedaan TB laten dan aktif, serta cara pencegahannya.
Dengan asumsi satu alat dapat melayani 3.000 pasien, Benjamin memperkirakan 60.000 warga Makassar dapat diperiksa pada tahun 2026.
Peneliti Universitas Basel kembangkan tes sel tunggal untuk membedakan antibiotik yang hanya menghambat pertumbuhan dan yang benar-benar membunuh bakteri.
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Peneliti BRIN mengembangkan Tuberculosis Colorimetric Sensor, yaitu sensor deteksi cepat berbasis metode colorimetric.
Dari tahun 2023 hingga 2024, terdapat 737 mahasiswa dari 13 provinsi di Indonesia yang telah menjadi TB Rangers.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved