Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA 10 Oktober mendatang, wahana antariksa Europa Clipper milik NASA akan diluncurkan dalam sebuah misi besar yang ditunggu-tunggu untuk menjelajahi bulan es Jupiter, Europa.
Para ilmuwan percaya, Europa adalah salah satu tempat paling menjanjikan di tata surya untuk mencari tanda-tanda kehidupan di luar Bumi.
Walaupun misi ini sempat dihadang kekhawatiran terkait komponen rusak beberapa bulan lalu, peluncuran tetap berjalan sesuai rencana.
Baca juga : NASA Berencana Jelajahi Dunia Baru yang Mungkin Layak Huni, Oktober Mendatang.
Misi bernilai $5 miliar ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan besar yang sudah lama menggelayuti pikiran para peneliti, apakah Europa menyimpan kondisi yang mendukung kehidupan?
Europa Clipper, meskipun tidak dirancang untuk menemukan kehidupan secara langsung, akan menyelidiki apakah ada unsur-unsur pendukung kehidupan di bulan ini.
Di balik lapisan es setebal sekitar 16 kilometer, para ilmuwan meyakini bahwa ada lautan luas yang bisa menjadi tempat tinggal mikroorganisme.
Baca juga : NASA Temukan Gunung Berapi Raksasa di Bulan Jupiter Io
Bonnie Buratti, wakil ilmuwan proyek, menjelaskan, “Ada bukti kuat bahwa bahan-bahan yang mendukung kehidupan mungkin ada di sana, tetapi kita perlu memastikannya dengan pergi ke Europa.”
Perjalanan kosmik Europa Clipper tidaklah singkat. Setelah meluncur dengan menggunakan roket SpaceX Falcon Heavy dari Kennedy Space Center, wahana ini akan menempuh jarak 2,9 miliar kilometer dan diperkirakan tiba di orbit Jupiter pada April 2030.
Namun, jangan harap ia akan mendarat di permukaan Europa. Wahana antariksa ini dirancang untuk melakukan 49 kali terbang lintas di dekat Europa, mempelajari lapisan esnya serta mendeteksi potensi lingkungan yang layak huni.
Baca juga : NASA Mengumumkan Pesawat Penjelajah Menuju Bulan Jupiter
"Misi ini sudah menjadi impian para ilmuwan selama lebih dari 20 tahun," ujar Laurie Leshin, direktur Laboratorium Propulsi Jet NASA di California.
"Kami telah membangunnya selama satu dekade terakhir, dan butuh 10 tahun lagi untuk sepenuhnya memahami data yang kami peroleh setelah tiba di Jupiter," sambungnya.
Waktu yang dibutuhkan memang panjang, namun investasi besar ini dipandang sebagai langkah penting dalam memahami misteri di balik lapisan es Europa.
Baca juga : Komet Sebesar Tiga Kali Gunung Everest Mengarah ke Bumi
Lebih dari 4.000 ilmuwan dan teknisi telah bekerja tanpa lelah untuk memastikan misi ini berjalan lancar.
Wahana antariksa ini dilengkapi dengan serangkaian instrumen canggih yang akan bekerja bersama-sama untuk mengukur ketebalan lapisan es Europa.
Salah satu fokus utama para ilmuwan adalah mempelajari geologi aktif yang terdapat pada permukaan Europa, seperti retakan dan kawah yang menandakan adanya aktivitas bawah permukaan.
Europa Clipper juga diharapkan bisa mendeteksi senyawa organik yang mungkin ada di lapisan esnya. Walaupun tak ada harapan langsung menemukan DNA atau RNA, instrumen ini akan mencari tanda-tanda lingkungan yang mendukung kehidupan, bukan kehidupan itu sendiri.
"Kami hanya mencari unsur-unsur yang mendukung kehidupan," kata Buratti.
Mengorbit di sekitar Jupiter bukanlah perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah menghadapi radiasi intens yang bisa merusak komponen wahana antariksa.
Selama setiap terbang lintas, Europa Clipper akan terpapar radiasi yang setara dengan jutaan sinar-X dada. Untuk mengatasi hal ini, wahana dirancang agar dapat masuk dan keluar dari area berbahaya, mengambil data ilmiah, lalu mundur untuk memproses dan mengirimkan data tersebut ke Bumi.
Meskipun ada kekhawatiran tentang ketahanan transistor wahana terhadap radiasi, tim ilmuwan tetap optimis.
"Kami yakin wahana ini mampu menyelesaikan misinya," ujar Jordan Evans, manajer proyek misi.
Misi ini diharapkan dapat berlangsung setidaknya empat tahun sebelum wahana diluncurkan menuju Ganymede, bulan terbesar di tata surya, untuk misi tambahan.
Salah satu hal yang paling menarik dari misi seperti Europa Clipper adalah ketidakpastian yang akan ditemui.
"Setiap misi selalu menghadirkan hal-hal yang tak terduga. Kami yakin akan menemukan sesuatu yang menakjubkan, sesuatu yang saat ini tak bisa kita bayangkan," kata Buratti.
Europa Clipper menjadi bukti nyata dari upaya manusia untuk terus mengeksplorasi dan mencari jawaban di luar batas Bumi.
Misi ini bukan hanya soal menjawab pertanyaan besar tentang keberadaan kehidupan di luar sana, tapi juga menggambarkan perjalanan panjang dan dedikasi ribuan ilmuwan dalam membuka tabir misteri alam semesta. (NA) (Z-12)
Melansir dari SciTechDaily, para ilmuwan menyoroti kurangnya aktivitas air bersuhu tinggi (hidrotermal) yang signifikan di dasar laut Europa.
Peneliti ungkap asal-usul struktur mirip laba-laba di Kawah Manannán, Europa. Temuan ini berikan petunjuk vital bagi pencarian kehidupan luar angkasa.
Wahana antariksa Europa Clipper diprediksi melintasi aliran partikel dari komet antarbintang 3I/ATLAS antara 30 Oktober-6 November 2025.
Pesawat luar angkasa Europa Clipper milik NASA menguji kamera inframerah E-THEMIS saat melintasi Mars untuk persiapan misi utama ke bulan Europa milik Jupiter.
Europa Clipper milik NASA melintas hanya 884 km di atas permukaan Mars pada 1 Maret, memanfaatkan gravitasi Planet Merah untuk menyesuaikan lintasannya menuju sistem Jupiter.
Misi Europa Clipper adalah langkah signifikan dalam memahami dunia samudra yang hingga kini hanya menjadi misteri.
Temuan terbaru mengenai ukuran Jupiter ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Senin (2/2). Jurnal ini sekaligus disebut sebagai salah satu hasil penting
Temuan ini didapat dari pengukuran terbaru menggunakan data radio pesawat ruang angkasa Juno, yang sejak 2016 mengorbit planet terbesar di tata surya tersebut.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah menyebutkan bahwa tanpa kehadiran Jupiter, lingkungan orbit Bumi kemungkinan akan jauh lebih tidak stabil.
Pesawat Juno milik NASA menangkap fenomena letusan serentak di Io, bulan Jupiter. Energi yang dihasilkan mencapai 260 terawatt, mengungkap rahasia magma di bawah permukaannya.
Bulan purnama pertama di tahun 2026, yang dikenal sebagai Wolf Moon, mencapai puncaknya pada 3 Januari 2026. Penamaan Wolf Moon berasal dari tradisi budaya kuno
Sebaliknya, kutub Jupiter dipenuhi satu badai utama yang dikelilingi sejumlah pusaran badai lebih kecil, membentuk pola geometris yang rapi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved