Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
PLANET terbesar di tata surya kita, Jupiter, ternyata dulunya lebih besar lagi dari sekarang. Temuan mengejutkan ini terungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan pada 20 Mei di jurnal Nature Astronomy.
Sekitar 4,5 miliar tahun lalu, ketika awan gas dan debu yang menjadi bahan pembentuk matahari dan planet-planet mulai menghilang, ukuran Jupiter diperkirakan dua kali lipat dari ukurannya saat ini. Tidak hanya itu, medan magnetnya juga jauh lebih kuat, yakni 50 kali lipat dibanding sekarang.
"Tujuan utama kami adalah memahami asal-usul kita. Menelusuri tahap awal pembentukan planet sangat penting untuk memecahkan teka-teki ini," kata Konstantin Batygin, ilmuwan planet dari Caltech sekaligus salah satu penulis studi tersebut.
"Temuan ini membawa kita lebih dekat pada pemahaman tentang bagaimana bukan hanya Jupiter, tapi seluruh tata surya terbentuk,” lanjutnya.
Sebagai planet raksasa, Jupiter memiliki gravitasi yang sangat besar bersama dengan matahari dan memainkan peran penting dalam membentuk tata surya, termasuk mengatur orbit planet-planet lain dan objek-objek berbatu. Namun, asal-usul Jupiter sendiri masih menjadi misteri.
Untuk menggali petunjuk tentang masa awal Jupiter, para ilmuwan mempelajari orbit dua bulan kecilnya, yaitu Amalthea dan Thebe. Orbit kedua bulan ini tidak jauh berbeda dari saat pertama kali terbentuk.
Namun, selama miliaran tahun, orbit mereka sedikit berubah karena tarikan dari tetangga mereka yang lebih besar dan aktif secara vulkanik, yaitu Io.
Dengan menganalisis selisih antara perubahan orbit yang sebenarnya dan yang seharusnya terjadi akibat tarikan Io, para ilmuwan berhasil memperkirakan ukuran awal Jupiter.
Ketika nebula matahari (awan gas dan debu) menghilang tanda berakhirnya proses pembentukan planet, radius Jupiter kemungkinan antara dua hingga 2,5 kali lebih besar dari sekarang. Seiring waktu, permukaan planet itu mendingin, dan ukurannya menyusut.
Berdasarkan ukuran awal tersebut, tim peneliti juga menghitung kekuatan medan magnet Jupiter pada masa lalu, yang diperkirakan mencapai 21 militesla sekitar 50 kali lebih kuat dari saat ini dan 400 kali lebih kuat dari medan magnet Bumi.
"Menakjubkan rasanya, bahwa setelah 4,5 miliar tahun berlalu, kita masih bisa menemukan cukup petunjuk untuk merekonstruksi kondisi fisik Jupiter di masa awalnya," ujar Fred Adams, astrofisikawan dari University of Michigan, yang juga terlibat dalam penelitian ini.
Temuan ini memberikan gambaran yang lebih tajam tentang kondisi tata surya pada masa transisi penting dalam sejarahnya. Menariknya, perhitungan ini tidak bergantung pada teori pembentukan Jupiter yang hingga kini belum sepenuhnya dipahami, melainkan berdasarkan data yang bisa diamati secara langsung.
"Apa yang kami temukan di sini adalah tolok ukur yang sangat berharga," tambah Batygin.
"Ini adalah titik pijak penting untuk merekonstruksi evolusi tata surya secara lebih akurat," pungkasnya.
Saat ini, Jupiter terus menyusut sekitar 2 sentimeter setiap tahun, menurut Caltech.
Penyusutan ini terjadi karena mekanisme Kelvin-Helmholtz proses alami saat planet mendingin, tekanan internalnya menurun, dan ukurannya perlahan mengecil. Namun, belum diketahui pasti kapan proses ini pertama kali dimulai. (livescience.com/Z-1)
Melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan menemukan bahwa planet raksasa gas ternyata memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui teori-teori sebelumnya.
Pemetaan semacam ini dipandang sebagai terobosan signifikan karena memungkinkan para ilmuwan untuk memahami kondisi atmosfer di luar tata surya.
Samudra Europa berpotensi tidak memiliki dinamika geologis yang cukup untuk mendukung kehidupan, khususnya akibat minimnya aktivitas hidrotermal di dasar lautnya.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Para ilmuwan NASA kembali membuat terobosan besar dalam dunia astronomi.
Hambatan terbesar dalam mewujudkan perjalanan antarbintang ternyata bukan terletak pada kapal, mesin, ataupun bahan bakar.
Teleskop James Webb temukan jejak lubang hitam pelarian yang melesat 3.000 km/detik. Simak bagaimana fenomena kosmos ini mengubah pemahaman kita tentang galaksi.
Ilmuwan mengungkap asal-usul Titan Saturnus dari tabrakan bulan purba. Simak kaitan pembentukan Titan dengan usia cincin Saturnus dan misi Dragonfly 2026.
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
Sempat diprediksi akan menghiasi langit malam tahun 2020, Komet C/2019 Y4 ATLAS justru hancur berkeping-keping. Kini, astronom menemukan bukti baru sisa fragmennya.
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA kembali menghadirkan temuan penting dalam dunia astronomi.
Wahana Voyager NASA mengungkap wilayah ekstrem di heliopause, batas Tata Surya dengan ruang antarbintang, dengan suhu mencapai 50.000 kelvin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved