Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
PESAWAT luar angkasa NASA, Europa Clipper, yang sedang dalam perjalanan menuju Europa, bulan Jupiter, mengambil gambar inframerah Mars saat melintas dengan memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengatur kamera termal yang dimilikinya.
Langkah krusial ini menjamin pesawat luar angkasa dapat secara tepat memetakan sinyal-sinyal panas di permukaan Europa, yang merupakan kunci dalam mendeteksi potensi tanda-tanda kehidupan yang mungkin ada di bawah lapisan es yang menutupi.
Ketika melintasi Mars, Europa Clipper milik NASA berhasil mengambil serangkaian gambar inframerah yang mengesankan dari Planet Merah. Ini lebih dari sekadar kesempatan untuk memfoto. Data ini digunakan untuk menyempurnakan kamera sensor panas pesawat, memastikan alat tersebut berfungsi optimal saat Clipper tiba di sistem Jupiter tahun 2030.
Target utama? Europa, bulan Jupiter yang besar, di mana terdapat samudera luas yang tersembunyi di bawah kulit es yang tebal. Setahun setelah mencapai Jupiter, Europa Clipper akan mulai menjalani penerbangan melintasi bulan tersebut sebanyak 49 kali untuk menyelidiki apakah dunia es ini bisa menampung kehidupan.
Salah satu alat utama dari pesawat luar angkasa ini adalah sistem pencitraan termal. Dengan memindai permukaan Europa dan menganalisis variasi suhu, Clipper akan membantu para ilmuwan memahami seberapa aktif secara geologis bulan tersebut. Area dengan suhu yang lebih hangat dari yang diperkirakan mungkin menunjukkan adanya aktivitas yang baru-baru ini terjadi atau yang sedang berlangsung di bawah lapisan es.
Data suhu juga berpotensi untuk mengungkap lokasi samudera tersembunyi di Europa yang berada dekat dengan permukaan. Bulan ini dikenal dengan punggungan panjang dan celah dalam, yang banyak ilmuwan yakini disebabkan oleh pergerakan air laut di bawah es yang menembus lapisan kerak.
"Kami ingin mengukur temperatur dari fitur-fitur tersebut," ungkap Phil Christensen dari Universitas Negeri Arizona, yang merupakan peneliti utama untuk kamera inframerah Europa Clipper, yang dikenal sebagai Sistem Pencitraan Termal Europa (E-THEMIS).
"Jika Europa adalah tempat yang aktif, retakan tersebut akan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan es di sekelilingnya di mana lautan mendekati permukaan. Atau jika air pernah menyembur ke permukaan ratusan hingga ribuan tahun yang lalu, maka bagian tersebut mungkin masih relatif hangat. "
Pada 1 Maret, Europa Clipper melintas hanya 550 mil (884 kilometer) di atas permukaan Mars untuk menggunakan gaya gravitasi planet tersebut dalam mengatur lintasan pesawat luar angkasa. Secara keseluruhan, cara ini akan mempercepat misi ke Jupiter dibandingkan jika pesawat langsung menuju planet gas raksasa tersebut, namun penerbangan melintas ini juga memberi kesempatan penting bagi Europa Clipper untuk menguji E-THEMIS.
Selama sekitar 18 menit pada 1 Maret, alat ini menangkap satu gambar setiap detik, menghasilkan lebih dari seribu gambar berwarna abu-abu yang kemudian dikirimkan ke Bumi mulai tanggal 5 Mei. Setelah menyusun gambar-gambar tersebut menjadi citra global Mars, para ilmuwan menambahkan warna, menggunakan skema warna yang sudah dikenal: Area yang hangat ditandai dengan warna merah, sedangkan area yang lebih dingin menggunakan warna biru.
Dengan membandingkan gambar dari E-THEMIS dengan citra yang dihasilkan dari data Mars yang sudah ada sebelumnya, para ilmuwan dapat mengevaluasi seberapa efektif instrumen tersebut.
Menganalisis struktur permukaan Europa untuk mencari senyawa yang berkaitan dengan kemungkinan kelayakhunian. Menggambarkan kondisi geologi permukaan bulan tersebut, memetakan medan, bukit, dan celah guna memahami proses-proses yang terjadi.
Studi mendalam ini akan membantu para peneliti mengevaluasi peluang astrobiologi Europa—atau dengan kata lain, apakah bulan yang mengelilingi planet raksasa itu bisa menyediakan elemen-elemen yang diperlukan untuk kehidupan.
Europa Clipper dipimpin oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA yang berada di California Selatan dan dikelola Caltech untuk Direktorat Misi Sains NASA. Misi ini merupakan hasil kolaborasi dengan Johns Hopkins Applied Physics Laboratory (APL), yang bertanggung jawab atas desain utama pesawat antariksa, bersama dengan dukungan dari berbagai pusat NASA seperti Goddard, Marshall, dan Langley. Program Layanan Peluncuran NASA di Kennedy Space Center bertanggung jawab atas peluncuran misi ini.
Dengan peralatan mutakhir dan rencana misi yang komprehensif, Europa Clipper siap untuk mengubah cara kita memahami dunia samudera—serta kemungkinan adanya kehidupan di luar planet kita. (SciTechDaily/Z-2)
Penelitian terbaru mengungkap fenomena mengejutkan di bulan-bulan es seperti Enceladus dan Miranda. Penurunan tekanan akibat lelehan es bisa memicu samudra bawah tanah mendidih.
Astronom berhasil menangkap citra "astrosfer" pertama di bintang HD 61005. Penemuan ini mengungkap rahasia masa lalu Tata Surya kita saat masih muda.
Update terbaru Jupiter Maret 2026: NASA ungkap Jupiter lebih kecil dan gepeng dari perkiraan. Cek juga jadwal parade planet dan pendekatan komet antarbintang.
Berbeda dengan Bumi yang memiliki lempeng tektonik yang saling bertabrakan atau menjauh, Bulan hanya memiliki satu kerak yang utuh dan berkesinambungan.
NASA terpaksa menarik mundur roket SLS misi Artemis II dari landasan luncur akibat gangguan aliran helium. Peluncuran ke bulan kini dijadwalkan paling cepat April.
NASA telah merilis laporan temuan dari Tim Investigasi mengenai Uji Penerbangan Berawak Boeing CST-100 Starliner.
Update terbaru Jupiter Maret 2026: NASA ungkap Jupiter lebih kecil dan gepeng dari perkiraan. Cek juga jadwal parade planet dan pendekatan komet antarbintang.
Februari 2026 menghadirkan parade planet langka. Merkurius, Venus, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Jupiter akan terlihat bersamaan, puncaknya pada 28 Februari.
Fenomena parade planet akan menghadirkan enam planet di langit malam pada akhir Februari.
Temuan terbaru mengenai ukuran Jupiter ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Senin (2/2). Jurnal ini sekaligus disebut sebagai salah satu hasil penting
Temuan ini didapat dari pengukuran terbaru menggunakan data radio pesawat ruang angkasa Juno, yang sejak 2016 mengorbit planet terbesar di tata surya tersebut.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal ilmiah menyebutkan bahwa tanpa kehadiran Jupiter, lingkungan orbit Bumi kemungkinan akan jauh lebih tidak stabil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved