Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
RABU Wekasan adalah sebuah tradisi yang masih dipelihara di beberapa daerah di Indonesia, terutama di kalangan masyarakat Jawa.
Rabu Wekasan juga dikenal sebagai Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan, merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Tradisi ini dianggap memiliki makna spiritual dan keagamaan yang mendalam bagi masyarakat yang menjalankannya.
Baca juga : Kapan Rabu Wekasan 2024? Ini Tanggal, Makna dan Tradisinya
Dalam tradisinya, Rabu Wekasan ini terdapat beberapa poin yang biasa dilakukan. Bahkan, Rabu Wekasan juga sangat kental dengan adat dan budaya.
Rabu Wekasan diyakini sebagai hari yang penuh dengan berbagai bala (bencana atau musibah), sehingga banyak orang melakukan ritual tertentu untuk memohon perlindungan dan keselamatan dari Allah. Keyakinan ini berasal dari tradisi Islam yang berkembang di Jawa, di mana dikatakan bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Safar, Allah menurunkan berbagai macam musibah ke bumi.
Pada hari ini, beberapa orang melakukan berbagai bentuk ritual, seperti shalat sunah, membaca doa-doa khusus (doa tolak bala), dan bersedekah. Selain itu, beberapa komunitas mengadakan acara syukuran atau kenduri dengan tujuan untuk menolak bala dan memohon perlindungan.
Baca juga : 15 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Terkenal Enak, Pecinta Kuliner Pasti Suka
Salah satu tradisi yang terkait dengan Rabu Wekasan adalah mengambil air yang dianggap memiliki khasiat khusus pada hari ini. Air tersebut biasanya diambil dari sumber mata air yang diyakini memiliki keberkahan, dan digunakan untuk memandikan diri atau diminum dengan harapan mendapat perlindungan dari bala.
Meskipun tradisi ini masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat, ada juga yang mengkritik atau tidak setuju dengan praktik ini karena dianggap tidak memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Sebagian ulama menganggap bahwa keyakinan terhadap Rabu Wekasan sebagai hari yang penuh dengan bala adalah tidak berdasar dan lebih merupakan warisan kepercayaan lokal yang bercampur dengan ajaran agama.
Terlepas dari berbagai pandangan tentang keabsahan tradisi ini, Rabu Wekasan tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya dan warisan tradisi lokal yang dipelihara di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jawa.
Baca juga : Tradisi Ruwat Agung Samin Klopoduwur Blora Resmi Diakui Negara
Rabu Wekasan adalah contoh bagaimana tradisi lokal dan keyakinan keagamaan bisa saling mempengaruhi dan menciptakan sebuah praktik yang unik di masyarakat.
Di tahun 2024 ini, Rabu Wekasan dijadwalkan jatuh pada tanggal 4 September. Rabu Wekasan memiliki makna yang mendalam dalam konteks budaya dan keagamaan, terutama di kalangan masyarakat Jawa yang masih melestarikan tradisi ini.
Rabu Wekasan sering dianggap sebagai hari yang penuh dengan potensi musibah atau bencana. Oleh karena itu, makna utama dari Rabu Wekasan adalah sebagai hari untuk melakukan ritual tolak bala. Masyarakat percaya bahwa pada hari ini, musibah-musibah besar bisa turun ke bumi, sehingga mereka melakukan berbagai ibadah dan doa untuk memohon perlindungan dari Allah.
Baca juga : Penanaman Pohon Pinang Selaraskan Pembangunan dan Alam
Hari ini dimaknai sebagai momen untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat sunah, berzikir, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah. Rabu Wekasan memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon keselamatan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas.
Rabu Wekasan juga memiliki makna sebagai upaya melestarikan tradisi leluhur yang sudah turun-temurun dijalankan. Bagi masyarakat yang masih memegang teguh adat ini, melaksanakan Rabu Wekasan adalah bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan kepercayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang.
Tradisi ini mengingatkan masyarakat akan sifat sementara kehidupan dunia dan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan, termasuk bencana atau musibah. Dengan menjalankan ritual pada Rabu Wekasan, diharapkan masyarakat lebih introspektif dan waspada dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam praktiknya, Rabu Wekasan sering diisi dengan kegiatan bersama seperti kenduri atau syukuran yang melibatkan seluruh anggota komunitas. Ini memberikan makna kebersamaan dan memperkuat solidaritas sosial di antara masyarakat. Melalui acara-acara ini, masyarakat juga saling mendoakan kebaikan dan keselamatan.
Makna lain dari Rabu Wekasan adalah sebagai simbol harapan akan perlindungan dan keselamatan. Air yang diambil pada hari ini, yang sering disebut sebagai "Air Rebo Wekasan," diyakini membawa berkah dan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti mandi atau diminum, dengan harapan mendapatkan perlindungan dari bencana.
Meskipun praktik dan makna Rabu Wekasan bisa berbeda di tiap daerah, intinya adalah tradisi ini mencerminkan perpaduan antara kepercayaan lokal dengan ajaran agama, yang bertujuan untuk mencari keselamatan dan keberkahan dalam kehidupan.
Perlu diketahui, Rabu Wekasan jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah. Karena kalender Hijriah adalah kalender lunar (berdasarkan siklus bulan), tanggal Rabu Wekasan berubah setiap tahunnya jika dilihat dari kalender Masehi.
Untuk mengetahui kapan tepatnya Rabu Wekasan pada tahun tertentu, Anda perlu melihat kalender Hijriah dan menemukan hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Kalender Hijriah tidak selalu sinkron dengan kalender Masehi, jadi tanggal ini bisa jatuh pada bulan yang berbeda setiap tahunnya dalam kalender Masehi.
Sebagai contoh, jika Anda ingin mengetahui kapan Rabu Wekasan jatuh pada tahun ini, Anda bisa melihat kalender Hijriah untuk bulan Safar dan mencocokkan dengan hari Rabu terakhir di bulan tersebut. (Z-12)
Ritual sakral penolak bala yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak 1996
Festival Jelajah Maumere III mengusung tema Wini Ronan atau lumbung benih sebagai refleksi atas tradisi dan kebudayaan di Kabupaten Sikka atau di Flores.
Adapun Merti Bumi kali ini mengusung tema “Tulus Wigati Trustha ing Widhi,” yang berarti ketulusan, kesungguhan, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Patung paling besar berwarna hitam khas kayu ulin (bulin) berukuran tinggi sekitar empat meter bernama Patih Bajulin, dewa pelindung suku Dayak Deah.
Ketua Umum Panitia Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947, Gede Narayana, mengatakan bahwa ritual abhiseka dan parisuda agung paripurna merupakan upaya memuliakan Candi Prambanan.
Tradisi tabayyun di kalangan ulama dan warga NU telah lama familiar dan mengakar.
Sejarah makan siang di Indonesia sendiri adalah cerminan perjalanan sosial, ekonomi, dan budaya yang selalu berubah.
Dalam tradisi masyarakat tertentu di Indonesia, telur tembean (telur ayam yang sudah berisi bakal embrio dan dianggap “hampir menetas”) dipercaya sebagai makanan berkhasiat
Upacara adat Dola Maludu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat kini resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh DJKI.
Festival Jelajah Maumere III mengusung tema Wini Ronan atau lumbung benih sebagai refleksi atas tradisi dan kebudayaan di Kabupaten Sikka atau di Flores.
Pengunjung Parara festival dapat menikmati berbagai kegiatan menarik, mulai dari talkshow dan diskusi soal pangan lokal, tradisi nusantara, serta isu lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved