Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
RABU Wekasan 2024 akan jatuh pada tanggal 28 Agustus besok. Rabu Wekasan adalah istilah dalam tradisi Jawa yang merujuk pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriyah.
Dalam kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, Rabu Wekasan dianggap sebagai hari yang kurang baik atau penuh dengan kemalangan, sehingga perlu dilakukan beberapa amalan atau ritual khusus untuk menghindari marabahaya.
Pada Rabu Wekasan ini akan ada beberapa tradisi untuk menjalaninya. Selain itu Rabu Wekasan juga memiliki maknanya tersendiri bagi yang menjalankannya.
Baca juga : Cara Menghitung Weton Jawa Bisa untuk Jodoh dan Pernikahan
Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa pada hari Rabu Wekasan, akan turun banyak bala atau malapetaka. Oleh karena itu, mereka melakukan berbagai upaya untuk menolak bala tersebut.
Pada hari Rabu Wekasan, beberapa orang melakukan amalan-amalan khusus seperti shalat sunnah, membaca doa-doa tertentu, atau membuat makanan untuk sedekah dengan tujuan menolak bala dan memohon keselamatan.
Ada juga yang percaya pada amalan "Rabu Wekasan," yaitu membuat bubur merah putih atau makanan lain yang kemudian dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk sedekah.
Baca juga : Mengintip Ritual Bercocok Tanam Dayak Dea Halong, Ngasok Miah Melatu Wini
Meskipun praktik ini tidak secara langsung berasal dari ajaran Islam, namun ia menjadi bagian dari budaya lokal yang dipengaruhi oleh Islam.
Beberapa ulama mengingatkan bahwa keyakinan terhadap hari tertentu sebagai hari yang membawa sial haruslah dikaji ulang, karena dalam Islam, semua hari adalah baik.
Dalam pandangan Islam, tidak ada hari yang secara khusus dianggap membawa sial. Oleh karena itu, sebagian ulama mengkritik tradisi Rabu Wekasan dan menyarankan umat Muslim untuk tidak mempercayai atau mengamalkan ritual yang didasarkan pada keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Baca juga : Veska Bangga Tampilkan Beskap Jawa saat Parade Indonesia di New York
Rabu Wekasan merupakan contoh bagaimana tradisi lokal dan kepercayaan budaya bisa hidup berdampingan dengan agama, meskipun tetap perlu dipahami bahwa Islam tidak mengajarkan hari tertentu sebagai hari sial atau penuh kemalangan.
Rabu Wekasan memiliki makna khusus dalam tradisi Jawa, yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriyah.
Kata "wekasan" dalam bahasa Jawa berarti "terakhir" atau "penutup," sehingga Rabu Wekasan secara harfiah berarti "Rabu terakhir."
Baca juga : Hukum Muslim Rayakan Lebaran Ketupat Seminggu setelah Lebaran
Dalam tradisi Jawa, Rabu Wekasan dianggap sebagai hari yang rawan terhadap turunnya bala' (bencana atau kemalangan).
Keyakinan ini membuat sebagian orang merasa perlu untuk melakukan tindakan pencegahan, seperti ritual atau amalan khusus.
Makna utama dari Rabu Wekasan adalah upaya untuk menolak bala' yang diyakini akan datang pada hari tersebut.
Beberapa ritual atau amalan dilakukan dengan harapan untuk mendapatkan perlindungan dari malapetaka.
Rabu Wekasan mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa memadukan kepercayaan tradisional dengan elemen-elemen keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam yang murni, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya.
Bagi sebagian orang, Rabu Wekasan juga menjadi momen untuk introspeksi dan memohon ampunan serta perlindungan dari Allah SWT.
Ritual-ritual yang dilakukan bukan hanya untuk menolak bala', tetapi juga sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan.
Secara keseluruhan, Rabu Wekasan adalah sebuah konsep yang menggabungkan unsur-unsur budaya, kepercayaan lokal, dan agama, yang digunakan untuk menghadapi apa yang diyakini sebagai hari yang penuh tantangan.
Namun, penting untuk diingat bahwa keyakinan ini lebih bersifat budaya dan tidak didasarkan pada ajaran Islam yang fundamental, yang memandang semua hari sebagai baik dan tidak ada hari tertentu yang dianggap sial atau penuh malapetaka. (Z-12)
Ritual sakral penolak bala yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak 1996
Festival Jelajah Maumere III mengusung tema Wini Ronan atau lumbung benih sebagai refleksi atas tradisi dan kebudayaan di Kabupaten Sikka atau di Flores.
Adapun Merti Bumi kali ini mengusung tema “Tulus Wigati Trustha ing Widhi,” yang berarti ketulusan, kesungguhan, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Patung paling besar berwarna hitam khas kayu ulin (bulin) berukuran tinggi sekitar empat meter bernama Patih Bajulin, dewa pelindung suku Dayak Deah.
Ketua Umum Panitia Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947, Gede Narayana, mengatakan bahwa ritual abhiseka dan parisuda agung paripurna merupakan upaya memuliakan Candi Prambanan.
Perlu diketahui, Rabu Wekasan jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah. Karena kalender Hijriah adalah kalender lunar (berdasarkan siklus bulan)
Kondisi ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan adanya sistem tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Barat yang membentuk pola konvergensi atau pertemuan angin.
Kondisi ini dipicu oleh aktivitas Bibit Siklon Tropis 91W dan penguatan Monsun Asia yang meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang di jalur Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Berikut prakiraan cuaca Senin 12 Januari 2026 untuk kota-kota besar di Indonesia dikutip dari BMKG
Peta sebaran bencana sepanjang 2025 menunjukkan Pulau Jawa dan Sumatra masih menjadi wilayah dengan jumlah kejadian bencana tertinggi di Indonesia.
Pemerintah daerah diminta mempercepat identifikasi ulang zona merah dan membatasi aktivitas warga di wilayah rawan selama periode peringatan dini.
STASIUN Meteorologi pada BMKG Yogyakarta terus memantau pergerakan dan perkembangan bibit Siklon Tropis 98S yang berada di perairan Samudera Hindia,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved