Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PUNCAK musim hujan di awal tahun ini menunjukkan karakter yang berbeda dari biasanya. Intensitas hujan yang tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa, memicu berbagai dampak mulai dari banjir, angin kencang, hingga penurunan suhu udara yang signifikan.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, mengungkapkan bahwa kondisi ini merupakan hasil interaksi kompleks berbagai dinamika atmosfer.
Meski secara umum mengikuti pola Monsun Asia, frekuensi hujan kali ini terasa jauh lebih intens.
Berdasarkan pengamatan citra satelit dan data cuaca harian, Sonni mengidentifikasi adanya faktor penguat yang mengamplifikasi curah hujan tersebut. Faktor tersebut adalah fenomena Cross Equatorial North Surge (CENS).
"Berdasarkan pola-pola yang saya peroleh dari data pengamatan, saya menduga adanya faktor lain yang memperkuat curah hujan monsun, yaitu fenomena CENS," jelas Sonni.
CENS merupakan pergerakan massa udara dingin dari wilayah Tiongkok Selatan yang mampu melintasi garis ekuator hingga mencapai wilayah Indonesia.
Saat massa udara dingin dan kering ini bertemu dengan udara tropis yang hangat serta lembap, terjadi proses penyesuaian menuju keseimbangan termal.
Proses inilah yang memicu pendinginan uap air dan kondensasi massal.
"Proses kondensasi ini menghasilkan awan-awan yang lebih banyak. Akibatnya, sinar matahari sulit mencapai permukaan bumi, sehingga udara di antara permukaan dan dasar awan mengalami pendinginan," ungkapnya.
Inilah alasan mengapa masyarakat merasakan suhu udara yang lebih dingin meski berada di musim hujan.
Kondisi cuaca saat ini dinilai memiliki kemiripan dengan peristiwa banjir besar di Semarang pada Februari 2021. Berdasarkan pantauan terkini, Pulau Jawa tertutup awan tebal karena aliran CENS dari utara masih sangat aktif.
Kondisi ini diperparah dengan keberadaan siklon tropis di tenggara Pulau Jawa, tepatnya di dekat Australia. Keberadaan siklon ini justru memperburuk keadaan karena menghambat pergerakan massa udara.
"Kehadiran siklon tropis di tenggara Pulau Jawa dekat Australia tampak membloking CENS sehingga awan awan banyak terbentuk lebih banyak dari biasanya," pungkas Sonni.
Kombinasi antara Monsun Asia, fenomena CENS, dan hambatan dari siklon tropis ini berpotensi meningkatkan risiko cuaca buruk, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah Jawa Timur bagian selatan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi serta menjaga kondisi kesehatan di tengah anomali suhu ini. (Z-1)
Simak prakiraan cuaca Jabodetabek malam ini, Rabu 28 Januari 2026. BMKG peringatkan potensi hujan lebat dan angin kencang di Jakarta Selatan hingga Bogor.
BMKG memprediksi pagi hari di sebagian besar wilayah Jakarta akan diawali dengan kondisi berawan tebal.
BMKG mencatat cuaca ekstrem yakni hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem di beberapa wilayah Indonesia, antara lain di DK Jakarta (171,8 mm/hari), Banten, Jawa Barat
Pola hujan pada awal tahun 2026 di Pulau Jawa menunjukkan karakter yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Memasuki puncak musim hujan, warga Jakarta diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang berencana menghabiskan akhir pekan di luar ruangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved