Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
PUNCAK musim hujan di awal tahun ini menunjukkan karakter yang berbeda dari biasanya. Intensitas hujan yang tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa, memicu berbagai dampak mulai dari banjir, angin kencang, hingga penurunan suhu udara yang signifikan.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, mengungkapkan bahwa kondisi ini merupakan hasil interaksi kompleks berbagai dinamika atmosfer.
Meski secara umum mengikuti pola Monsun Asia, frekuensi hujan kali ini terasa jauh lebih intens.
Berdasarkan pengamatan citra satelit dan data cuaca harian, Sonni mengidentifikasi adanya faktor penguat yang mengamplifikasi curah hujan tersebut. Faktor tersebut adalah fenomena Cross Equatorial North Surge (CENS).
"Berdasarkan pola-pola yang saya peroleh dari data pengamatan, saya menduga adanya faktor lain yang memperkuat curah hujan monsun, yaitu fenomena CENS," jelas Sonni.
CENS merupakan pergerakan massa udara dingin dari wilayah Tiongkok Selatan yang mampu melintasi garis ekuator hingga mencapai wilayah Indonesia.
Saat massa udara dingin dan kering ini bertemu dengan udara tropis yang hangat serta lembap, terjadi proses penyesuaian menuju keseimbangan termal.
Proses inilah yang memicu pendinginan uap air dan kondensasi massal.
"Proses kondensasi ini menghasilkan awan-awan yang lebih banyak. Akibatnya, sinar matahari sulit mencapai permukaan bumi, sehingga udara di antara permukaan dan dasar awan mengalami pendinginan," ungkapnya.
Inilah alasan mengapa masyarakat merasakan suhu udara yang lebih dingin meski berada di musim hujan.
Kondisi cuaca saat ini dinilai memiliki kemiripan dengan peristiwa banjir besar di Semarang pada Februari 2021. Berdasarkan pantauan terkini, Pulau Jawa tertutup awan tebal karena aliran CENS dari utara masih sangat aktif.
Kondisi ini diperparah dengan keberadaan siklon tropis di tenggara Pulau Jawa, tepatnya di dekat Australia. Keberadaan siklon ini justru memperburuk keadaan karena menghambat pergerakan massa udara.
"Kehadiran siklon tropis di tenggara Pulau Jawa dekat Australia tampak membloking CENS sehingga awan awan banyak terbentuk lebih banyak dari biasanya," pungkas Sonni.
Kombinasi antara Monsun Asia, fenomena CENS, dan hambatan dari siklon tropis ini berpotensi meningkatkan risiko cuaca buruk, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah Jawa Timur bagian selatan.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi serta menjaga kondisi kesehatan di tengah anomali suhu ini. (Z-1)
Jakarta ditetapkan masuk dalam kategori Siaga akibat potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat memicu gangguan aktivitas masyarakat serta risiko bencana hidrometeorologi.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku
BMKG menghimbau peningkatan kesiapsiagaan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Kupang, Rote Ndao, Alor, dan Mamuju.
Terpantau Siklon Tropis Nuri yang sedang aktif di Samudra Pasifik bagian utara Papua. Fenomena ini menyebabkan belokan dan perlambatan angin di sekitar wilayah Maluku Utara.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi mencatat sedikitnya 18 titik banjir dan satu rumah roboh di sejumlah wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat.
Hujan ringan hingga sedang mengguyur Jakarta sejak pagi akibat aktivitas tiga bibit siklon tropis yang memicu pembentukan awan hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved