Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Lebih dari 2.000 warga Desa Adat Serangan menggelar Upacara Memintar sejak Jumat (19/12). Ritual sakral penolak bala yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak 1996 ini kembali dilaksanakan untuk menjaga keseimbangan sekala (lahiriah) dan niskala (spiritual) di wilayah Pulau Serangan.
Secara etimologis, "Memintar" berasal dari kata mintar yang berarti berkeliling. Inti dari prosesi ini adalah mengarak petapakan Barong dan Rangda mengelilingi seluruh penjuru Pulau Serangan.
Rangkaian ritual diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Kahyangan, Pura Cemara, dan Pantai Melasti. Upacara ini rutin dilaksanakan setahun sekali, tepat pada Sasih Keenam atau Tilem Keenam dalam kalender Bali, yang secara spiritual diyakini sebagai masa transisi yang rawan akan gangguan.
Sebagai persiapan, selama satu bulan sebelumnya, warga telah menghaturkan pejati dan memasang sawen di rumah masing-masing sebagai bentuk proteksi spiritual awal.
Perarakan suci sejauh 4,7 kilometer ini melintasi kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. Rute ini menjadi penting karena di dalam kawasan tersebut terdapat delapan pura yang menjadi titik persinggahan ritual.
Kepala Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID), Zefri Alfaruqy, menjelaskan bahwa pihaknya memberikan akses dan dukungan penuh terhadap jalannya upacara. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap akar budaya masyarakat Serangan.
“Memintar merupakan tradisi penolak bala yang mendarah daging. Keterlibatan kawasan kami bukan sekadar karena adanya pura di dalam, tetapi sebagai wujud penghormatan terhadap nilai religi dan budaya yang harus terus dijaga,” jelas Zefri, Sabtu (20/12).
Setelah proses perarakan usai, krama dari masing-masing banjar melaksanakan mekemit atau berjaga semalam suntuk di pura-pura yang disinggahi. Rangkaian upacara akan ditutup dengan ritual nyejer, yakni prosesi mengembalikan benda-benda sakral atau pratima ke tempat asalnya.
Upacara Memintar bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan manifestasi kolektif masyarakat Serangan dalam menjaga keharmonisan alam, manusia, dan Sang Pencipta. Melalui ritual ini, warga berharap wilayah mereka dijauhkan dari marabahaya serta diberikan ketenangan dalam menjalani tahun yang baru. (OL/P-5)
Festival Jelajah Maumere III mengusung tema Wini Ronan atau lumbung benih sebagai refleksi atas tradisi dan kebudayaan di Kabupaten Sikka atau di Flores.
Adapun Merti Bumi kali ini mengusung tema “Tulus Wigati Trustha ing Widhi,” yang berarti ketulusan, kesungguhan, dan kepercayaan kepada Tuhan.
Patung paling besar berwarna hitam khas kayu ulin (bulin) berukuran tinggi sekitar empat meter bernama Patih Bajulin, dewa pelindung suku Dayak Deah.
Ketua Umum Panitia Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947, Gede Narayana, mengatakan bahwa ritual abhiseka dan parisuda agung paripurna merupakan upaya memuliakan Candi Prambanan.
Perlu diketahui, Rabu Wekasan jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam kalender Hijriah. Karena kalender Hijriah adalah kalender lunar (berdasarkan siklus bulan)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved