Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ribuan Krama Desa Adat Serangan Mengarak Barong dan Rangda Tolak Bala pada Ritual Memintar

Arnoldus Dhae
20/12/2025 15:41
Ribuan Krama Desa Adat Serangan Mengarak Barong dan Rangda Tolak Bala pada Ritual Memintar
.(MI/Arnoldus Dhae)

Lebih dari 2.000 warga Desa Adat Serangan menggelar Upacara Memintar sejak Jumat (19/12). Ritual sakral penolak bala yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak 1996 ini kembali dilaksanakan untuk menjaga keseimbangan sekala (lahiriah) dan niskala (spiritual) di wilayah Pulau Serangan.

Secara etimologis, "Memintar" berasal dari kata mintar yang berarti berkeliling. Inti dari prosesi ini adalah mengarak petapakan Barong dan Rangda mengelilingi seluruh penjuru Pulau Serangan.

Rangkaian ritual diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Kahyangan, Pura Cemara, dan Pantai Melasti. Upacara ini rutin dilaksanakan setahun sekali, tepat pada Sasih Keenam atau Tilem Keenam dalam kalender Bali, yang secara spiritual diyakini sebagai masa transisi yang rawan akan gangguan.

Sebagai persiapan, selama satu bulan sebelumnya, warga telah menghaturkan pejati dan memasang sawen di rumah masing-masing sebagai bentuk proteksi spiritual awal.

Perarakan suci sejauh 4,7 kilometer ini melintasi kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. Rute ini menjadi penting karena di dalam kawasan tersebut terdapat delapan pura yang menjadi titik persinggahan ritual.

Kepala Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID), Zefri Alfaruqy, menjelaskan bahwa pihaknya memberikan akses dan dukungan penuh terhadap jalannya upacara. Hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap akar budaya masyarakat Serangan.

“Memintar merupakan tradisi penolak bala yang mendarah daging. Keterlibatan kawasan kami bukan sekadar karena adanya pura di dalam, tetapi sebagai wujud penghormatan terhadap nilai religi dan budaya yang harus terus dijaga,” jelas Zefri, Sabtu (20/12).

Setelah proses perarakan usai, krama dari masing-masing banjar melaksanakan mekemit atau berjaga semalam suntuk di pura-pura yang disinggahi. Rangkaian upacara akan ditutup dengan ritual nyejer, yakni prosesi mengembalikan benda-benda sakral atau pratima ke tempat asalnya.

Upacara Memintar bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan manifestasi kolektif masyarakat Serangan dalam menjaga keharmonisan alam, manusia, dan Sang Pencipta. Melalui ritual ini, warga berharap wilayah mereka dijauhkan dari marabahaya serta diberikan ketenangan dalam menjalani tahun yang baru. (OL/P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik