Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA ekor gajah sumatra koleksi satwa Solo Safari kedapatan mati. Sejauh ini belum ada kejelasan penyebab kematiannya. DPRD Kota Solo pun langsung sidak ke lokasi, begitu mendapatkan informasi terkait kematian dua koleksi satwa langka yang dilindungi itu.
Ketika sidak unsur pimpinan sementara DPRD Solo ke lokasi destinasi wisata Solo Safari, pada Rabu (21/8), ikut hadir pejabat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, dan ditemui petugas bagian menejemen Solo Safari.
Ketua DPRD Sementara Budi Prasetyo mengakui, informasi kematian dua koleksi satwa gajah itu datang justru dari masyarakat, dan bukan dari pihak Solo Safari. "Kami dapat informasi dari masyarakat, dan terus menindaklanjuti di lapangan," kata Budi kepada Media Indonesia.
Baca juga : Konservasi Gajah di Indonesia: Tantangan dan Upaya Perlindungan
Budi sidak bersama unsur pimpinan lain, Sugeng Riyanto dan anggota YF Sukasno. "Penjelasan yang kami dapat, bahwa dua gajah mati pada waktu berbeda. Satu pada Juli lalu, dan satunya lagi pada minggu silam," tukas politisi PDIP itu.
Yang menarik bahwa gajah kedua bernama Manohara itu mati pada suasana rangkaian perayaan Hari Gajah Sedunia, yang juga digelar di Solo Safari. Saat itu, berita kematian gajah kedua tersebut juga belum didengar DPRD Solo.
Dari sidak, Budi bersama dua koleganya belum mendapatkan informasi konkrit tentang sebab-sebabnya. Saat ini pihak Solo Safari masih menunggu sampel kasus kematian, dari uji laboratorium UGM Yogyakarta.
Baca juga : Seekor Gajah Sumatra Lahir di Pusat Konservasi Gajah Riau
DPRD Kota Solo, lanjut Budi sangat berharap sampel dari pemeriksaan bisa segera keluar, sehingga bisa segera diketahui penyebabnya, dan evaluasi untuk langkah langkah kedepan.
“Apalagi kasus tersebut terjadi pada rentang waktu yang tidak terlalu lama. Dengan kematian gajah Innova dan Manohara ini, maka koleksi gajah Solo Safari tinggal dua ekor," imbuh Budi sekali lagi.
Kepada Seksi BKSDA Wilayah I, Sudadi yang mengikuti proses sidak DPRD Solo mengakui, sejauh ini, sebab sebab kematian gajah asal Sumatera ini masih belum pasti, mengingat sampelnya masih dalam proses uji laboratorium.
Baca juga : Seekor Anak Gajah Sumatera Lahir di Taman Nasional Way Kambas
“BKSDA mendapat informasi tentang kematian gajah betina di Solo Safari pada 23 Agustus. Penanganan dilakukan ahlinya di sini, namun penyebabnya masih harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium," tukas dia
Terpisah Kepala BKSDA Jateng Darmanto ketika dikonfirmasi lewat telepon mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil uji lab Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta.
“Apakah karena virus atau hal lain tunggu saja. Nanti kalau semua sudah pasti penyebabnya anda bisa konfirmasi langsung ke atasan kami di BKSDA Jakarta," beber Darmanto.
Baca juga : Dua Gajah Liar di Pelalawan Riau Berhasil Dievakuasi
Ia tidak bersedia mengomentari terkait pengelolaan manajemen Solo Safari atas koleksi satwanya di Taman Solo Safari. "Nanti nanti," lugas Darmanto.
BKSDA sendiri menurut Sudadi, selain koleksi gajah mati, ternyata ada pula rusa yang mati. Hanya penyebab kematian rusa itu, BKSDA juga tidak mengetahui, karena menjadi ranah pihak provinsi.
Yang jelas, ada pengawasan khusus dari BKSDA pasca kematian koleksi satwa di Solo Safari. Menurut Sudadi akan ada monitoring yang dilakukan pihaknya ke Solo Safari. (Z-9)
Konservasi gajah bukan hanya soal menyelamatkan satu spesies, melainkan tentang bagaimana negara memandang relasi antara pembangunan dan lingkungan.
KEMENTERIAN Kehutanan memperkuat perlindungan Gajah Sumatra yang kini berada dalam kondisi populasi kritis.
Kawasan itu juga bersinggungan dengan sejumlah perizinan seperti Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) Hutan Alam, PBPH Restorasi Ekosistem, HGU sawit, dan IUP tambang.
TAMAN Nasional Way Kambas (TNWK) mencatat kelahiran seekor anak gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) pada Rabu malam, 4 Desember 2025 pukul 23.25 WIB.
Populasi gajah Sumatra kini diperkirakan tidak lebih dari 1.100 ekor di 22 lanskap, dengan tren jangka panjang yang terus menurun akibat hilangnya habitat, fragmentasi hutan, konflik manusia–gajah, jerat, dan perburuan.
Seekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati terbenam di tumpukan kayu dan lumpur di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pakar meminta penyetopan pembukaan lahan sawit.
Sepanjang 2025, tim peneliti berhasil mencatat 1.618 jenis flora dan fauna. Terdapat penambahan 275 jenis flora dan fauna baru yang teridentifikasi di kawasan tersebut.
Nama opti diambil dari kata optimistis dan merupakan fauna endemik Sumatra
Penangkapan JW, 36, merupakan rangkaian panjang pengungkapan kasus perburuan satwa liar di kawasan konservasi tersebut.
Dua ekor satwa primata langka yang dilindungi oleh negara hendak dijual tersangka berinisial CNAB seharga Rp 8,5 juta.
BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mendapatkan laporan dari pihak pengelola Lembaga Konservasi (LK) Kasang Kulim terkait kelahiran satwa langka hampir punah, orangutan.
Survei keanekaragaman hayati pertama di Taman Nasional Virachey, Kamboja, mengungkapkan keberadaan spesies langka dan terancam punah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved