Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
Psikolog Patricia Elfira Vinny mengungkapkan buruknya kualitas udara tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi kesehatan mental.
Ia mengatakan polusi udara berdampak pada berkurangnya tingkat kebahagiaan seseorang dan juga meningkatkan tingkat gejala depresi. Studi PubMed Central yang terbit pada jurnal Environmental Pollution juga mengungkapkan terdapat relevansi antara peningkatan risiko depresi dengan paparan jangka panjang terhadap PM2.5.
Patricia menjelaskan PM 2.5 merupakan partikel polusi udara terkecil yang berbahaya bagi manusia karena partikel tersebut tidak dapat disaring oleh tubuh.
Baca juga : Polusi Udara Bisa Timbulkan Kematian
"Selain dapat menyebabkan dampak terhadap kesehatan fisik, paparan polutan udara secara jangka panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, psikosis, dan bahkan demensia," kata Patricia melalui keterangan tertulis, Selasa (2/7).
Selain itu, terdapat juga indikasi bahwa anak-anak dan remaja yang terpapar polusi udara secara terus menerus pada masa perkembangan akan lebih berisiko mendapat masalah kesehatan mental di masa depan.
"Risiko ini akan menjadi jauh lebih mungkin dialami oleh masyarakat yang tinggal di kawasan metropolitan seperti Jabodetabek. Hal ini karena penduduk di kota metropolitan cenderung memiliki kondisi psikososial yang lebih kompleks," ungkapnya.
Baca juga : Tinggal di Pinggiran Kota belum Tentu Bebas Depresi
Adanya kemacetan yang dialami setiap hari di tengah kualitas udara yang buruk, hingga masalah finansial dan tekanan pekerjaan, menjadi faktor pendukung yang membuat masyarakat di wilayah metropolitan yang berpolusi udara tinggi lebih rentan terkena gangguan kesehatan mental.
Apabila polusi udara ini berlangsung secara terus menerus, jumlah penduduk di Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan mental berpotensi terus meningkat.
Saat ini, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, 1 dari 10 orang di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Beberapa gejala awalnya adalah menurunnya kemampuan berkonsentrasi, rasa tidak tenang, ketidakmampuan membuat keputusan, hingga gangguan tidur.
Baca juga : Sering Terpapar Polusi Udara Bisa Sebabkan Depresi
Dalam jangka panjang, gangguan kesehatan mental akibat polusi udara yang tidak tertangani dengan baik juga berpotensi dapat menyebabkan bunuh diri.
Studi dari National Bureau of Economic Research Cambridge mengungkapkan bahwa polusi udara meningkatkan jumlah kematian bunuh diri hingga 0,49% pada kasus bunuh diri.
Patricia juga menekankan pentingnya berkonsultasi dengan psikolog ataupun psikiater ketika merasa mengalami gejala-gejala awal dari gangguan kesehatan mental.
"Untuk menjaga kesehatan mental di tengah kualitas udara yang buruk dan berbagai stressor lainnya, masyarakat diimbau tidak self-diagnose dan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater supaya mendapatkan penanganan yang tepat," pungkasnya.
hari ini, Selasa, 2 Juni 2024, polusi udara di Jabodetabek kembali memburuk. IQAir mencatat Jakarta berada di peringkat empat kota paling berpolusi di dunia dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 58 mikorgram/m3 yang masuk kategori tidak sehat. (Z-11)
Jika depresi pada umumnya identik dengan kesedihan dan tangisan, pada pria gejalanya sering muncul dalam bentuk kemarahan, gampang tersinggung, hingga perilaku agresif.
Analisis data selama 45 tahun mengungkap penggunaan ganja untuk depresi, kecemasan, hingga PTSD tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia.
Uji klinis terbaru menunjukkan terapi bertenaga DMT, zat aktif dalam ayahuasca,memberikan efek antidepresan cepat dan bertahan hingga 6 bulan bagi pasien depresi berat.
Riset James Cook University mengungkap olahraga efektif mengurangi gejala depresi dan kecemasan. Temukan jenis latihan dan intensitas yang tepat untuk kesehatan mental.
Individu yang menggunakan chatbot AI setiap hari memiliki risiko sekitar 30% lebih tinggi mengalami depresi tingkat sedang atau lebih berat.
Banyak orang merasa tertekan karena merasa harus selalu tampil sempurna di depan keluarga besar.
Laporan Kebahagiaan Dunia terbaru mengungkap dampak negatif algoritma TikTok dan Instagram pada mental pemuda.
Doja Cat buka suara soal diagnosis BPD yang diidapnya dan alasannya kerap membalas komentar pedas netizen di media sosial.
Analisis data selama 45 tahun mengungkap penggunaan ganja untuk depresi, kecemasan, hingga PTSD tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Peneliti temukan pola otak unik pada pengidap ADHD. Otak pengidap ADHD sering mengalami episode "mirip tidur" meski sedang terjaga, yang memicu gangguan fokus.
Berdasarkan survei pada 2023 ditemukan bahwa sekitar 41% orang dewasa yang melakukan mudik mengalami gejala kecemasan (anxiety) serta depresi ringan hingga sedang selama periode perjalanan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved