Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK-anak paling bahagia ketika menyambut dan mengisi Ramadan karena berbagai kegiatan seperti lomba tema Ramadan, khataman Al-Qur’an, Nuzulul Quran, Tarhib Ramadan, takjil, jalan-jalan lepas sahur, dan libur panjang sekolah.
Sayangnya Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra mengatakan ada segelintir permasalahan yang seringkali mengganggu dan tidak diharapkan, terutama saat salat subuh atau salat tarawih.
“Ada saja anak-anak dan remaja di sekitar rute menuju tempat ibadah, yang saling serang dengan sarungnya, bahkan pernah terjadi sarungnya diisi batu dan benda tajam yaiu perang sarung di bulan Ramadan,” ungkapnya, Minggu (17/3).
Baca juga : Polisi Solo Gagalkan Perang Sarung Jelang Sahur, 25 Remaja Diamankan
Baru-baru ini peristiwa perang sarung memakan nyawa di Bekasi. Begitupun di Malang, perang sarung dengan sarungnya diisi besi dan parang.
Kejadian ini mungkin hanya satu dari sekian banyak kasus perang sarung yang membahayakan nyawa.
“Sarung yang harusnya jadi alat ibadah salat, namun di tangan anak-anak berubah dengan berbagai selepetan yang bisa membahayakan,” tegas Jasra.
Baca juga : Perang Sarung, 12 Remaja Ditangkap Polres Cimahi
KPAI pernah mendapat laporan selepetan mengenai mata yang dilakukan para remaja kepada adiknya di sekitar rumah ibadah, yang dianggap tidak mau salat.
“Tentu sangat berbahaya, sayangnya ketika baru melerai mereka, ada anak kecil yang meniru dan menselepetkan sarungnya. Ia hanya meniru, tidak tahu risikonya, hanya lihat orang dewasa. Tetapi yang orang dewasa tahu sekarang setelah melihat anak kecil itu, bahwa anak tersebut telah memiliki perilaku berisiko, yang tidak pernah ia tahu, dan ke depan akan mengancam tumbuh kembangnya,” lanjutnya.
Jasra berharap di bulan Ramadan ini, kekerasan kepada anak berkurang, baik kekerasan fisik, seksual, l psikologis, serta kekerasan melalui media sosial dan cyber bullying.
Baca juga : Penuhi Nutrisi Anak selama Ramadan, Hindari Makanan Ini
“Untuk itu sangat dibutuhkan perencanaan agar ada antisipasi pencegahan bersama-sama,” tegas Jasra.
Menurutnya Indonesia saat ini punya persoalan meningkatnya kekerasan yang dialami anak, ketika libur sekolah. Karena tidak adanya yang terpanggil di daerah terdekat untuk mengarahkan anak-anak dalam kegiatan dekat rumah dan lingkungannya.
Untuk itu KPAI berharap sumber SDM yang kuat seperti di lembaga zakat, ormas islam, pesantren, lembaga keagamaan, dan lainnya bisa membantu memasifkan kegiatan liburan anak selamat liburan Ramadan seperti pesantren kilat.
Baca juga : Mitigasi Gangguan Kamtibmas
“Kegiatan ini menghindari kegiatan di jalanan. Yang seringkali memicu perilaku tidak bertanggung jawab, ketika ada kumpulan keramaian, apalagi di sana ada anak-anak dan remaja yang terlepas pengawasan kita,” ujarnya.
KPAI berharap, ada program yang dibangun di setiap masjid, musala dan lingkungan yang mengimbau dan mengajak anak-anak mengurangi tawuran.
Selain itu, penting juga terdapat informasi yang di gerakkan melalui Kementerian Agama dan Kemendikbud-Ristek agar materi ceramah dibuat semacam panduan yang wajib di bacakan agar menjadi gerakan bersama mengurangi tawuran.
Baca juga : Bulan Ramadan jadi Momen Latih Psikologis Anak Berpuasa
“Saya kira ormas agama, seperti NU dan Muhammadiyah bisa menbuat semacam panduan untuk materi pencegahan dan layanan kekerasan anak. Agar ada penanganan terpadu sebagaimana yang diinginkan pemerintah dalam regulasi,” kata Jasra.
KPAI berharap bulan Ramadan kali ini menjadi gerakan bersama untuk membangun gerakan perlindungan anak melalui berbagai kegiatan.
KPAI juga mendorong prinsip partisipasi anak menjadi paling utama dalam mengajak anak ikut beribadah selama Ramadan. Seperti banyaknya lembaga pendidikan, yang saat ini menggelar tarhib Ramadan seperti pawai bersama mengampanyekan ajakan puasa, kegiatan kelompok dalam mengenal Ramadan, kerja sosial bersama di tempat membutuhkan yang semuanya melibatkan, dikenalkan, dan diisi aktif oleh anak-anak.
“KPAI sangat mengapresiasi inisiatif yang sangat baik, dalam membangun partisipasi anak jelang bulan Ramadan,” tandasnya. (Z-3)
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Selain AI, gim daring populer seperti Roblox dan Minecraft juga dinilai menghadirkan risiko karena anak-anak sering kali sulit membedakan antara dunia gim dan realitas.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
POLSEK Tarogong Kidul Polres Garut membubarkan aksi perang sarung yang dilakukan oleh puluhan pemuda di Jalan Proklamasi, Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut
Perang sarung bukan sekadar kenakalan remaja, namun juga berpotensi mengarah pada tindak pidana
Polda Jawa Barat melarang sahur on the road, perang sarung, dan balapan liar selama Ramadhan untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan warga.
Sebanyak 17 remaja diamankan polisi setelah terlibat perang sarung di perbatasan Kota Solo dan Sukoharjo yang sempat meresahkan warga.
Aksi perang sarung tersebut pun dapat dibubarkan oleh seorang ibu-ibu menggunakan sapu.
perang sarung bukan sekadar permainan, melainkan tindakan yang berpotensi melanggar hukum dan membahayakan keselamatan jiwa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved