Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Heartology Cardiovascular Hospital Jajang Sinardja menyatakan obat-obatan herbal, baik yang berbentuk pil atau cairan, bukan solusi yang tepat untuk mengatasi serangan jantung.
"Itu sudah jelas mitos. Kita tidak bisa pukul rata semua obat herbal dapat menyembuhkan serangan jantung, kalau di iklan itu animasi saja," kata Jajang, dikutip Minggu (29/10).
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menekankan belum ada satu zat pun yang dapat langsung melumerkan plak atau tumpukan lemak jahat (LDL) yang menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah di jantung, termasuk pengobatan herbal.
Baca juga: Stres Dapat Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung
Hal itu karena tindakan yang dapat diberikan untuk menangani pasien dengan serangan jantung pada masa kini dan terbukti efektif, baru ada tiga jenis, yakni pemberian obat trombolitik, pemasangan ring melalui intervensi koroner perekutan primer (primary PCI), dan operasi jantung.
Ia pun mencontohkan penemuanmetode pemasangan ring melalui primary PCI oleh dokter bernama Geoffrey O Hartzler pada 1983 membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun dengan total 1.000 pasien untuk mendapatkan pengakuan. Metode tersebut di kemudian hari terbukti jauh lebih baik dibandingkan pemberian obat.
Sedangkan keberhasilan dari pengobatan menggunakan herbal yang hanya diklaim sejumlah orang saja, tidak dapat serta merta diterima sebagai metode baru dalam dunia medis karena jatuhnya hanya bersifat testimoni.
Baca juga: Penyakit Jantung Masih Menjadi Penyebab Utama Kematian di Dunia
"Jadi, kalau testimoni, itu cuma satu atau dua orang dan peluangnya kebetulan. Entah karena dikarang-karang sama penjualnya atau bagaimana," ujarnya.
Oleh karena itu, menurut dia, semua metode yang ditemukan di dunia medis, harus berlandaskan pada penelitian lebih lanjut yang mencakup perbandingan dengan metode lainnya, guna menemukan tingkat efektivitas serta efeknya pada pasien.
"Di sini saya mau menekankan, bukan dokter tidak mau percaya, tapi harus ada bukti ilmiah lebih lanjut dan harus dibandingkan untuk dibuktikan, baru bisa diterima. Kadang iklan itu menyesatkan, penjelasannya justru terbalik dengan ilmu di dunia medis, kasihan pasiennya," katanya.
Jajang pun menyarankan dibandingkan menggunakan obat herbal, masyarakat lebih baik menjalankan pola hidup sehat yang dapat mencegah pembentukan plak dalam pembuluh darah.
Contohnya, lanjut dia, masyarakat bisa rajin berolah raga dan meminum air putih setidaknya dua liter per hari. Masyarakat juga diharapkan dapat memiliki tidur yang cukup serta mampu mengelola stres dengan baik.
Selain itu, makanan yang dikonsumsi juga diharapkan tidak tinggi lemak dan minyak. Ia menyarankan untuk memperbanyak konsumsi buah dan sayur serta makanan yang rendah lemak.
"Jadi intinya pola hidup sehat saja. Kalau sehat, tidak mudah untuk tumbuh plak," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Wacana herbal Indonesia menjadi produk unggulan sebenarnya telah muncul sejak 2000.
Penggunaan dan kepemilikan merek Kutus Kutus kini memiliki kepastian hukum final setelah Mahkamah Agung menguatkan putusan Pengadilan Niaga Surabaya.
Pengembangan Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) harus didukung. Itu karena TSTH2 merupakan bagian dari langkah mewujudkan ketahanan pangan.
Kolaborasi itu mempertemukan dunia akademik, terutama hasil riset herbal dan kosmetika UGM, dengan industri.
Vmalety, jamu herbal berbentuk serbuk dengan rasa mixberry yang menyegarkan.
PAFI Kabupaten Kaur menekankan pentingnya penelitian ilmiah untuk memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan obat herbal.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Tes darah baru mampu mendeteksi risiko komplikasi mematikan pada pasien hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Terobosan besar bagi jutaan pengidap jantung genetik.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Para pelari disarankan agar rutin mendeteksi masalah jantung, seperti keberadaan plak, sedini mungkin.
LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat, merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved