Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DORONG peningkatan peran orang tua dan guru pada pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam pemahaman dan penanaman karakter baik pada peserta didik.
"Selain orang tua, peran guru PAUD juga sangat penting dalam proses pendidikan karakter bagi generasi penerus bangsa ini yang harus ditanamkan sejak dini," kata Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Selasa (25/7).
Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi terdapat 46,93 ribu guru Satuan PAUD Sejenisnya (SPS) pada semester ganjil Tahun Ajaran (TA) 2022-2023.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah anak usia dini di Indonesia diperkirakan sebanyak 30,73 juta jiwa pada 2022.
Baca juga: Hari Anak, JCI Bandung Ajak Anak Disabilitas Nonton Film Tegar
Menurut Lestari, pada tahapan pendidikan usia dini sangat penting, sebab pada usia 0-5 tahun merupakan fase pembentukan karakter, berinteraksi dalam hubungan sosial hingga pengembangan intelegensia anak.
Di fase itulah, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, saat yang tepat memberikan pendidikan karakter yang membentuk kecenderungan individu untuk memiliki karakter yang baik dan berguna bagi orang lain.
Menurut Rerie, yang juga anggota Komisi X DPR dari Dapil II Jawa Tengah itu, kesiapan orang tua, tenaga pengajar dan upaya penerapan pola pendidikan karakter yang tepat, juga sangat penting.
Baca juga: Hari Anak Nasional, Begini Tema dan Sejarahnya
Di sisi lain, tambah dia, akses masyarakat untuk mendapatkan pendidikan sejak tingkat PAUD juga harus dipermudah, melalui dukungan para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah.
Sehingga, tambah Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, upaya penanaman karakter generasi penerus bangsa benar-benar menjadi bagian yang berkelanjutan dari sistem pendidikan nasional yang diterapkan saat ini.
Selain itu, Rerie sangat berharap, para tokoh masyarakat juga dapat menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa dalam membentuk budi pekerti yang luhur dalam kesehariannya.
Karena, tambah Rerie, keberlangsungan pendidikan karakter sejak PAUD hingga fase pendidikan tinggi harus terus terjaga, sehingga upaya membangun anak bangsa yang berkarakter kuat dan berdaya saing dapat diwujudkan. (Z-6)
Upaya membangun sumber daya manusia (SDM) nasional yang berdaya saing tak akan pernah tuntas selama akses pendidikan anak usia dini (PAUD) masih timpang.
Kolaborasi ini bertujuan memutus sekat informasi dan menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas melalui konten edukasi yang ringan dan menghibur.
Program tersebut nantinya jika memang memberikan dampak yang nyata akan dibuatkan sebagai program nasional oleh pemerintah.
Kegiatan yang diikuti oleh 500 anak perwakilan dari 250 lembaga sekolah se-Kota Kediri tersebut diisi dengan bernyanyi dan melakukan sejumlah permainan motorik.
Di tengah arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital, muncul kekhawatiran baru, apakah anak-anak Indonesia masih tumbuh dengan akar budaya, alam, dan kearifan lokalnya sendiri?
ISTRI Wapres Gibran Rakabuming Raka, Selvi Ananda mengungkapkan bahwa pemerintah menyiapkan Rp5,1 triliun untuk Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD 2026.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved