Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menghidupkan Budaya, Alam, dan Kearifan Lokal di PAUD: Fondasi Identitas Sejak Usia Dini

 Gana Buana
21/11/2025 15:46
Menghidupkan Budaya, Alam, dan Kearifan Lokal di PAUD: Fondasi Identitas Sejak Usia Dini
Ruang bermain alami pembentuk karakter anak makin berkurang di tengah arus globalisasi dan penetrasi digitak.(Dok. Tanoto Foundation)

Di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital, muncul kekhawatiran baru, apakah anak-anak Indonesia masih tumbuh dengan akar budaya, alam, dan kearifan lokalnya sendiri? Pertanyaan ini menjadi sorotan dalam pendidikan anak usia dini (PAUD), yang dinilai bukan hanya sebagai ruang belajar simbol akademik, tetapi fondasi pembentukan karakter bangsa.

“PAUD tidak boleh menjadi tempat yang hanya mengajarkan simbol-simbol akademik. Ia harus menjadi ruang hidup yang menumbuhkan akar budaya, alam, dan nilai masyarakat,” ujar Anggota ECED Council Indonesia sekaligus anggota BAN PDM 2023-2028, Dr. Gutama.

Budaya sebagai Pembentuk Identitas

Budaya berperan sebagai sistem terdekat yang memengaruhi perkembangan anak, sebagaimana ditegaskan dalam teori ekologi Bronfenbrenner. Melalui lagu daerah, cerita rakyat, atau aktivitas tradisional sehari-hari, nilai gotong royong, hormat, dan kebersamaan terserap secara alami.

Salah satu unsur budaya paling penting adalah bahasa ibu. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang menguasai bahasa ibu justru lebih mudah mempelajari bahasa lain.

“Ketika anak dibesarkan dengan bahasa dan cerita daerahnya, mereka memahami siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal,” kata Dr. Gutama.

Konsep Culturally Responsive Teaching yang diperkenalkan Geneva Gay menegaskan pentingnya pembelajaran yang menghargai latar budaya anak. Sebaliknya, pendidikan yang mengabaikan konteks lokal dapat menimbulkan jarak dan menciptakan apa yang disebut Tilaar sebagai “dehumanisasi pendidikan”.

Alam sebagai Kelas Terbuka

Sebelum mengenal huruf, anak belajar dari interaksi dengan alam, air, tanah, cahaya, dan makhluk hidup di sekitarnya. Aktivitas seperti bermain lumpur, menyusun batu, atau mengamati serangga menjadi stimulasi kognitif dan emosional yang penting, seperti dipaparkan Piaget dan Ginsburg.

Namun, keterbatasan ruang hijau di perkotaan membuat banyak anak semakin jauh dari alam. Padahal, Edward O. Wilson menyebut keterikatan manusia pada alam sebagai biophilia. “Ketika anak terputus dari alam, ia kehilangan salah satu sumber belajar paling penting,” kata Dr. Gutama. Kondisi ini berpotensi memicu nature-deficit disorder seperti stres dan menurunnya konsentrasi, menurut Richard Louv.

Kearifan Lokal sebagai Penanam Nilai

Kearifan lokal menyediakan bahan ajar bernilai tinggi: cerita rakyat, permainan tradisional, hingga upacara adat. Vygotsky menekankan bahwa anak belajar melalui interaksi sosial dan budaya; Lickona menambahkan bahwa nilai moral paling efektif ditanamkan melalui pengalaman nyata.

“Jika nilai-nilai lokal hilang di PAUD, maka hilang pula sebagian dari karakter bangsa,” tegas Dr. Gutama.

Realitas di Lapangan

Meski memiliki potensi besar, banyak PAUD masih berfokus pada capaian akademik dini seperti membaca dan berhitung. Ruang bermain alami semakin berkurang, materi pembelajaran mengadopsi konten luar negeri, dan metode pengajaran kerap tidak disesuaikan dengan konteks lokal.

Untuk itu, Dr. Gutama mendorong beberapa langkah penguatan:

  1. Memperkuat integrasi budaya lokal dalam kurikulum.
  2. Mendorong pembelajaran berbasis alam.
  3. Memberdayakan guru sebagai penjaga kearifan lokal.
  4. Melibatkan keluarga dan komunitas.
  5. Memanfaatkan teknologi secara bijak.
  6. “Tidak ada pendekatan tunggal untuk seluruh Indonesia. PAUD harus tumbuh dari tanah di mana ia berpijak,” ujarnya.

Menyiapkan Generasi Berakar Kuat

Dr. Gutama menegaskan bahwa pendidikan usia dini seharusnya membantu anak mengenal dirinya, mencintai lingkungan, serta menghargai budaya di sekitarnya. “Anak yang memiliki akar budaya dan alam yang kuat akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan percaya diri,” tutupnya.

Anak-anak yang berakar kuat inilah yang diharapkan mampu membawa Indonesia maju tanpa kehilangan jati diri bangsanya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik