Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital, muncul kekhawatiran baru, apakah anak-anak Indonesia masih tumbuh dengan akar budaya, alam, dan kearifan lokalnya sendiri? Pertanyaan ini menjadi sorotan dalam pendidikan anak usia dini (PAUD), yang dinilai bukan hanya sebagai ruang belajar simbol akademik, tetapi fondasi pembentukan karakter bangsa.
“PAUD tidak boleh menjadi tempat yang hanya mengajarkan simbol-simbol akademik. Ia harus menjadi ruang hidup yang menumbuhkan akar budaya, alam, dan nilai masyarakat,” ujar Anggota ECED Council Indonesia sekaligus anggota BAN PDM 2023-2028, Dr. Gutama.
Budaya berperan sebagai sistem terdekat yang memengaruhi perkembangan anak, sebagaimana ditegaskan dalam teori ekologi Bronfenbrenner. Melalui lagu daerah, cerita rakyat, atau aktivitas tradisional sehari-hari, nilai gotong royong, hormat, dan kebersamaan terserap secara alami.
Salah satu unsur budaya paling penting adalah bahasa ibu. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang menguasai bahasa ibu justru lebih mudah mempelajari bahasa lain.
“Ketika anak dibesarkan dengan bahasa dan cerita daerahnya, mereka memahami siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal,” kata Dr. Gutama.
Konsep Culturally Responsive Teaching yang diperkenalkan Geneva Gay menegaskan pentingnya pembelajaran yang menghargai latar budaya anak. Sebaliknya, pendidikan yang mengabaikan konteks lokal dapat menimbulkan jarak dan menciptakan apa yang disebut Tilaar sebagai “dehumanisasi pendidikan”.
Sebelum mengenal huruf, anak belajar dari interaksi dengan alam, air, tanah, cahaya, dan makhluk hidup di sekitarnya. Aktivitas seperti bermain lumpur, menyusun batu, atau mengamati serangga menjadi stimulasi kognitif dan emosional yang penting, seperti dipaparkan Piaget dan Ginsburg.
Namun, keterbatasan ruang hijau di perkotaan membuat banyak anak semakin jauh dari alam. Padahal, Edward O. Wilson menyebut keterikatan manusia pada alam sebagai biophilia. “Ketika anak terputus dari alam, ia kehilangan salah satu sumber belajar paling penting,” kata Dr. Gutama. Kondisi ini berpotensi memicu nature-deficit disorder seperti stres dan menurunnya konsentrasi, menurut Richard Louv.
Kearifan lokal menyediakan bahan ajar bernilai tinggi: cerita rakyat, permainan tradisional, hingga upacara adat. Vygotsky menekankan bahwa anak belajar melalui interaksi sosial dan budaya; Lickona menambahkan bahwa nilai moral paling efektif ditanamkan melalui pengalaman nyata.
“Jika nilai-nilai lokal hilang di PAUD, maka hilang pula sebagian dari karakter bangsa,” tegas Dr. Gutama.
Meski memiliki potensi besar, banyak PAUD masih berfokus pada capaian akademik dini seperti membaca dan berhitung. Ruang bermain alami semakin berkurang, materi pembelajaran mengadopsi konten luar negeri, dan metode pengajaran kerap tidak disesuaikan dengan konteks lokal.
Untuk itu, Dr. Gutama mendorong beberapa langkah penguatan:
Dr. Gutama menegaskan bahwa pendidikan usia dini seharusnya membantu anak mengenal dirinya, mencintai lingkungan, serta menghargai budaya di sekitarnya. “Anak yang memiliki akar budaya dan alam yang kuat akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan percaya diri,” tutupnya.
Anak-anak yang berakar kuat inilah yang diharapkan mampu membawa Indonesia maju tanpa kehilangan jati diri bangsanya.
Dalam kuliah umumnya Prof Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan bahwa generasi muda sekarang adalah generasi yang hidup di masa penuh pilihan tapi juga penuh ujian.
Ia menilai sistem global saat ini dikuasai kepentingan negara-negara adidaya, sementara Indonesia kerap terjebak sebagai pasar, bukan subjek yang berdaulat.
Kebudayaan sesungguhnya bisa menjadi jawaban dalam menjawab berbagai tantangan mulai pudarnya ikatan kebangsaan yang kita miliki.
Pelajari faktor pendorong perdagangan internasional! Analisis ekonomi mendalam untuk bisnis global yang sukses dan berkelanjutan.
MENGHADAPI era digitalisasi global, Indonesia harus berbenah.
MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan, kearifan lokal harus dimanfaatkan dalam upaya menjaga kelestarian hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Kemenekraf/Bekraf melalui Direktorat Film, Animasi, dan Video, Deputi Bidang Kreativitas Media, menyelenggarakan kegiatan Bicara Film: Merayakan Kearifan Lokal Lewat Sinema
Toba Creative Festival tersebut bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Kemenhut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Papua, atas munculnya kekecewaan terkait pemusnahan barang bukti berupa ofset dan mahkota cenderawasih
Sebab bila manusia merusak atau mengabaikan alam, maka alam akan marah dan memberi peringatan melalui bencana.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved