Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
DI Arab Saudi, keramahan bukan sekadar etiket, melainkan bagian dari DNA dan kebanggaan budaya yang mendarah daging. Dikenal dengan istilah yang mencerminkan kehangatan, tradisi ini mengalir alami dalam ritme kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga hingga percakapan yang berlangsung hangat tanpa rasa terburu-buru.
"Keramahan Arab Saudi adalah seni melayani dari hati," ujar Marc Makhoul, General Manager Restoran Taleed by Michael Mina yang masuk dalam seleksi MICHELIN.
Saat melangkah ke rumah warga Saudi, sapaan pertama bukanlah kata-kata, melainkan aroma bukhoor (kemenyan wangi) yang lembut dan hangat. Tamu kemudian akan diarahkan menuju majlis, ruang duduk khusus yang menjadi pusat interaksi sosial.
Dalam rumah modern maupun tenda tradisional di padang pasir, majlis dirancang dengan penuh pertimbangan, pencahayaan lembut, bantal empuk, dan karpet indah. "Bagi kami sebagai warga Saudi, kami menempatkan orang-orang terpenting di dalam majlis," jelas koki Hind Y. Albahkali dari restoran Samia’s Dish. Konsep ini pun kini banyak diadaptasi oleh restoran-restoran di Saudi untuk memberikan privasi dan kenyamanan layaknya di rumah sendiri.
Elemen terpenting dalam menyambut tamu adalah penyajian Gahwa atau kopi Saudi. Minuman ini biasanya diracik dengan aroma kapulaga, safron, atau cengkih, tergantung wilayahnya.
"Hal pertama yang kami sajikan kepada tamu adalah kopi Saudi. Itu melambangkan siapa kami; tidak ada rumah yang menyambut tamu tanpanya," kata Albahkali.
Ada tata krama unik dalam ritual ini. Tuan rumah akan menuangkan kopi panas ke dalam cangkir kecil (finjal) tanpa mengisinya hingga penuh sebagai tanda keramahtamahan. Jika tamu sudah cukup, mereka akan menggoyangkan cangkir sedikit, sebuah bahasa isyarat universal yang dipahami oleh setiap penduduk Saudi. Fahad Mohammed Abdullah Mosharf dari Najd Village menambahkan, "Menyajikan kopi adalah cara kami merayakan dan menghormati tamu. Ini adalah bagian penting dari warisan kami."
Tradisi menyambut tamu sering kali berpuncak pada jamuan makan besar. Di Arab Saudi, tamu selalu diprioritaskan untuk makan terlebih dahulu. Bahkan di beberapa desa, tuan rumah baru akan makan setelah tamu benar-benar selesai.
Menu yang disajikan bisa berupa kabsa (nasi daging) atau jareesh (gandum tumbuk dengan daging). "Anda tidak hanya menyambut tamu dan menyajikan kopi saja. Anda akan menawarkan perjamuan sebagai rasa terima kasih karena mereka telah datang ke rumah Anda," ungkap Makhoul.
Sebagai penutup, tamu biasanya tidak pulang dengan tangan kosong. Adalah hal yang lumrah bagi orang Saudi untuk memberikan bingkisan berupa dupa oud, parfum, kopi, atau kurma sebagai kenang-kenangan atas kunjungan tersebut. (MICHELIN Guide/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved