Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Connie Rahakundini Bakrie Sebut Generasi Muda Harus Beradaptasi di Era Globalisasi

Basuki Eka Purnama
08/11/2025 19:28
Connie Rahakundini Bakrie Sebut Generasi Muda Harus Beradaptasi di Era Globalisasi
Pakar Geopolitik, Pertahanan dan Keamanan Internasional Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, M.Si (ketiga dari kanan) saat menghadiri kuliah umum bagi seluruh praja dan civitas akademika IPDN(MI/HO)

PAKAR Geopolitik, Pertahanan dan Keamanan Internasional Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, M.Si menegaskan generas muda harus mampu beradaptasi di era globalisasi. Hal itu dikatakan Guru Besar di Saint Petersburg State University itu saat memberikan kuliah umum bagi seluruh praja dan civitas akademika IPDN dengan tema “Meneguhkan Kembali Otonomi Strategis Indonesia dari Gerakan Non Blok Menuju Bricks dan Kemitraan Eurasia Raya”, Sabtu (8/11).

Dalam kuliah umumnya Prof Connie mengingatkan bahwa generasi muda sekarang adalah generasi yang hidup di masa penuh pilihan tapi juga penuh ujian. 

“Kalian (praja) harus benar-benar menjaga nurani dan kesadaran karena zaman ini teknologi bisa menjadi berkah tapi juga bisa menjadi jebakan. Kekuasaan bisa menjadi alat kemajuan atau malah menjadi sumber kejatuhan. Jadi kalau nanti kalian menjadi pemimpin, kalian harus berdiri dengan kesadaran, kehormatan dan kedaulatan. Karena nanti kejayaan Indonesia berikutnya tidak akan lahir dari Jakarta tapi bangkit dari daerah-daerah, dari tanah tempat kalian berdiri dan memerintah," papar Connie.

Posisi Indonesia di masa depan sangat bergantung pada kemampuan mengharmoniskan identitas maritim, dirgantara, kemandirian ekonomi, serta diplomasi berperadaban guna membentuk keseimbangan kekuatan baru. 

“Inilah tugas kalian sebagai calon pemimpin. Dari tempat ini harus lahir doktrin kepemimpinan berkesadaran yang berpijak pada desentralisasi dan berakar pada TEPIDOIL," tutur Connie. 

TEPIDOIL adalah pilar strategis yang terdiri atas Territory, Economy, People, Ideology, Defense, Organization, Infrastructure dan Leadership. 

Masih menurutnya, praja harus  sedini mungkin diberikan doktrin tentang kepemimpinan berkesadaran, yakni pemimpin yang dapat berpikir strategis sebagai negarawan, berperasaan lembut sebagai agamawan, bertindak berani sebagai patriot dan berjiwa sebagai pelayanan rakyat.   

Tidak hanya itu, Prof. Connie juga memaparkan beberapa contoh ancaman maritim dan bawah laut serta perang airspace dan maya yang dihadapi Indonesia yang juga perlu diketahui praja IPDN sebagai calon pemimpin nantinya. 

“Kepadatan pelayanan dunia menjadikan kawasan Selat Malaka target perebutan pengaruh ekonomi dan militer, dibawah Samudra bersemayam submarine, fiber optic cable dan sistem komunikasi dunia yang menjadi target sabotase, data dan citra udara menjadi senjata intelijen geopolitik, setiap radar dan pesawat nirawak adalah mata yang mengintai kedaulatan dan masih banyak lagi. Itu harus kalian pahami dan kalian pelajari sedini mungkin," tegasnya.. 

Sementara itu, Rektor IPDN Dr. Halilul Khairi., M.Si mengatakan kehadiran Prof. Connie merupakan kesempatan emas yang didapat praja IPDN sebagai pelayanan masyarakat, dimana mereka nantinya harus mampu beradaptasi di era globalisasi. 

“Praja harus paham situasi global dan posisi Indonesia saat ini. Karena kalian dipersiapkan untuk masuk ke jejaring Internasional, membawa Indonesia di kancah Internasional,” ungkap Halilul.. 

Selain prinsip-prinsip lokal dan akar budaya nasional yang kuat praja juga harus mampu bersaing secara global. Inilah yang membuat Rektor IPDN menambahkan tes TOEFL menjadi syarat masuk dan lulus IPDN, juga menyisipkan materi-materi pengetahuan global/internasional bagi praja IPDN seperti saat ini. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik