Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
PETANI tembakau dinilai memiliki andil yang besar dalam mengurangi jumlah perokok di Tanah Air. Caranya yaitu dengan mengalihkan produksi tembakau ke produksi bahan pangan bergizi.
"Kita butuh tembakau, itu masa lalu. Tapi sekarang kita harus mengatakan bahwa kita membutuhkan makanan, bukan tembakau," kata Deputy Regional Director International Union Against Tuberculosis and Lung Disease Tara Singh Bam di acara puncak Hari Tanpa Tembakau di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Kamis (8/6).
Untuk itu, ia mengajak semua petani tembakau beralih komoditas pertanian guna mengurangi produksi rokok di Indonesia. Hal itu menjadi penting. Pasalnya Indonesia menjadi negara ketiga dengan jumlah perokok paling banyak di dunia. Sebanyak 70 juta orang Indonesia merupakan perokok aktif dan 43 juta anak terpapar asap rokok setiap harinya.
Baca juga: Tahun Ini Kemenkes Targetkan 100% Daerah Miliki Kawasan Tanpa Rokok
"Saya ingin mengingatkan di 2007 Kemenkes RI dan say bekerja bersama dari nol untuk pengurangan tembakau. Dan sekarang kita punya kolaborasi semua pihak. Kita punya bupati, walikota, dinas kesehatan dan masyarakat untuk memerangi tembakau," ucap dia. (Ata/Z-7)
Satu tahun sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, kekhawatiran terhadap dampaknya terus bergulir.
Tekanan terhadap sektor padat karya, khususnya industri hasil tembakau (IHT), kian nyata di tengah pelemahan ekonomi lokal dan dinamika global.
"Ini dilakukan sebagai komitmen dan kepedulian para ulama dalam ikut membantu petani, agar tembakau mereka terbeli dengan harga layak,"
SEJUMLAH pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 yang mengatur berbagai aspek terkait tembakau terus menuai protes dari berbagai kalangan.
Bupati Klaten Desak Pencabutan Pasal Tembakau dalam PP 28/2024
Penerapan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 yang mengatur aspek strategis Industri Hasil Tembakau (IHT) menuai penolakan keras dari kalangan pekerja.
Sensasi mentol yang dicampur dengan tembakau ternyata dapat menurunkan kepekaan reseptor di saluran pernapasan yang berfungsi mendeteksi iritasi akibat nikotin.
Berbicara mengenai kanker, dikutip dari laman Alodokter kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan sel yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali di dalam tubuh.
Orangtua perlu membangun komunikasi dalam diskusi yang terbuka, tidak menghakimi, dan tidak langsung marah saat mengetahui anak mencoba merokok.
Rokok tidak hanya berbahaya bagi kesehatan para perokok, tetapi juga bagi kesehatan orang-orang di sekeliling mereka.
Tinggi badan anak dari keluarga perokok lebih pendek 0,34 cm dibanding anak dari keluarga tidak merokok.
Aktivitas ini dilakukan dengan cara membakar salah satu ujung rokok dan mengisap asapnya melalui ujung lainnya.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved