Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PASCALIBUR lebaran biasanya anak mulai mengeluhkan macam-macam gangguan saluran pencernaan. Pada dasarnya, saluran pencernaan sangat rentan terinfeksi berbagai macam penyakit, karena organ ini paling kompleks.
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso mengingatkan sejumlah penyakit yang rentan terjadi pada anak-anak usai merayakan lebaran.
"Ada beberapa hal perlu diwaspadai terkait lebaran di kampung halaman, terutama untuk anak. Pertama, masalah kelelahan. Karena anak-anak di tempat mudik tentu saja mengalami perubahan situasi, lingkungan, tempat tinggal yang berubah," jelas dokter Piprim saat konferensi pers virtual, Kamis (27/4).
Baca juga: Kekerasan Anak Muncul dari Pola Asuh yang Rusak
Selain itu, kelelahan akibat perjalanan mudik yang panjang dan anak kurang tidur memengaruhi turunnya daya tahan tubuh anak. Pada akhirnya, anak menjadi mudah terserang batuk pilek.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastro-Hepatologi IDAI, Himawan Aulia Rahman mengatakan pemicu gangguan saluran pencernaan mudah terjadi. Berikut jenis gangguan yang paling sering terjadi.
Baca juga: Setelah Mudik, Jangan Lupa Lindungi Pernafasan Anak dari Berbagai Penyakit
Menurut Himawan diare atau dalam istilah medis persisten, sering kali terjadi ketika Frekuensi buang air besar itu mengalami peningkatan dibandingkan biasanya. Bahkan fesesnya lebih cair.
Diare memiliki beberapa jenis, meliputi:
Adapun penyebab yang terbagi menjadi dua, sebagai berikut:
"Berdasarkan data dari WHO 2020, penyebab diare yang paling banyak adalah jenis virus "Rotavirus". Namun, jenis virus, bakteri, dan parasit lainnya dapat menyebabkan diare," ucapnya Kamis (27/4).
Himawan mengatakan sakit perut akut menjadi masalah pencernaan selanjutnya. "Sakit perut itu bisa berlangsung mendadak atau juga bisa hilang timbul dan berlangsung lama," katanya.
Selain itu, anak juga bisa terkena sakit perut fungsional setelah lebaran. Sakit perut itu berulang selama tiga kali atau lebih selama tiga bulan. Hal ini terjadi akibat faktor psikis.
Muntah merupakan refleks atau bagian dari gejala akibat penyakit yang memicu. Seperti;
Sembelit atau konstipasi ini merupakan gejala yang terjadi akibat anak-anak mengalami stress, terutama saat mudik sehingga BAB kurang dari dua kali per minggu.
"Biasanya ada faktor psikologis juga dan itu berulang. Biasanya itu anak yang mudik berpergian ke lingkungan yang berbeda dengan rumahnya sehari-hari sehingga disitu ada ketakutan, kemudian dia tidak mau buang air besar sehingga terjadi simbelit," jelasnya.
Tanda anak menahan BAB dengan ketakutan, meliputi:
Selain dari menahan BAB, Himawan menambahka gejala lainnya seperti:
Saat Lebaran anak kerap juga mengalami intoleransi dan alergi terhadap makanan, di mana gejalanya meliputi:
Penyebab yang paling sering dari intoleransi dan alergi makanan meliputi:
Adapun penyebab dari keracunan makan meliputi:
Selain itu ada pun gejala utama dari keracunan makanan sebagai berikut:
PENINGKATAN keamanan pangan membutuhkan kebijakan yang tepat demi mewujudkan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik di masa depan.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti penghapusan 11 juta peserta PBI BPJS dan meminta penonaktifan tidak mendadak serta disertai sosialisasi.
INDONESIA turut ambil bagian dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN Muslim Youth Summit (ASEAMYS) 2026 yang digelar di Brisbane Technology Park, Australia, pada 6-7 Februari 2026.
Makan pada saat sahur adalah kunci energi selama puasa.
Beberapa penelitian dan pendapat medis menyebutkan bahwa puasa dapat mengurangi kejadian atau keparahan gangguan asam lambung seperti maag dan GERD.
Sekitar 85,1% responden mengaitkan stres dengan kesulitan dalam kesehatan usus, sementara kebiasaan makan yang tidak teratur juga turut memperburuk kondisi.
Variasi makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan sistem pencernaan dan kondisi tubuh anak secara menyeluruh.
Serat bukan sekadar pelengkap pola makan, melainkan komponen vital dalam menjaga kesehatan pencernaan, mengendalikan kolesterol, hingga mendukung ekosistem bakteri baik di dalam tubuh.
Fenomena “kupu-kupu” di perut saat gugup ternyata berkaitan erat dengan sumbu otak-usus. Begini penjelasan ilmiah para ahli.
Kebiasaan jalan kaki setelah makan sering diremehkan, padahal memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh dan mental.
Mengonsumsi apel secara rutin, terutama tanpa mengupas kulitnya, terbukti mendukung kesehatan jantung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved