Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KESEHATAN saluran pencernaan merupakan fondasi utama bagi tumbuh kembang anak. Namun, banyak orangtua yang masih melewatkan satu aspek krusial dalam pola makan buah hati mereka, yakni keragaman pangan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), menegaskan bahwa variasi makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan sistem pencernaan dan kondisi tubuh anak secara menyeluruh.
"Ada yang sering dilupakan terutama untuk asupan anak-anak yaitu keragaman pangan. Padahal dari keragaman pangan ini kita bisa banyak dapat zat gizi yang berpengaruh tidak hanya kesehatan saluran cerna tetapi secara umum," ujar Diana dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta, Kamis (8/1).
Menurut Diana, keragaman pangan diperlukan agar tubuh mendapatkan asupan serat yang cukup, terutama serat larut. Serat jenis ini memiliki peran vital sebagai prebiotik atau sumber makanan bagi bakteri baik di dalam usus.
Kesehatan pencernaan anak sangat bergantung pada keseimbangan mikrobiota usus. Kondisi ideal tercapai saat bakteri baik lebih dominan dibandingkan bakteri jahat. Jika keseimbangan ini terjaga, proses pengolahan nutrisi dalam tubuh akan berjalan maksimal.
"Kalau saluran cernanya sehat, zat-zat gizi dapat termetabolisme atau tercerna dengan baik sehingga pada akhirnya zat gizi juga dapat terabsorpsi atau terserap dengan baik. Kalau zat gizinya diserap dengan baik, maka ujungnya pasti ke kesehatan secara keseluruhan dari anak-anak kita,” jelas Diana.
Lebih lanjut, Diana menekankan bahwa asupan nutrisi yang lengkap dan seimbang bukan sekadar mencegah penyakit, melainkan menjadi kunci pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak.
Penyerapan nutrisi yang optimal memastikan anak memiliki energi dan kecukupan zat gizi untuk menunjang aktivitas serta kemampuan berpikirnya.
"Asupan serat yang cukup menjadi kunci untuk mendukung mikrobiota usus, proses pencernaan, dan penyerapan nutrisi secara optimal. Asupan nutrisi yang seimbang tidak hanya mencegah gangguan saluran cerna, tetapi, juga mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif pada anak,“ tambahnya.
Orangtua juga diimbau untuk lebih peka terhadap sinyal masalah pencernaan pada anak. Gangguan sistem pencernaan tidak hanya ditunjukkan melalui penyakit umum seperti diare. Ada tanda-tanda lain yang sering kali dianggap sepele namun memerlukan kewaspadaan.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain saat anak menjadi rewel, merasa perut tidak nyaman, hingga mengalami mual dan muntah.
Gejala-gejala tersebut merupakan sinyal kuat bahwa terdapat ketidakseimbangan atau masalah pada sistem pencernaan yang perlu segera ditangani agar tidak mengganggu proses penyerapan nutrisi harian. (Ant/Z-1)
Sekitar 85,1% responden mengaitkan stres dengan kesulitan dalam kesehatan usus, sementara kebiasaan makan yang tidak teratur juga turut memperburuk kondisi.
Serat bukan sekadar pelengkap pola makan, melainkan komponen vital dalam menjaga kesehatan pencernaan, mengendalikan kolesterol, hingga mendukung ekosistem bakteri baik di dalam tubuh.
Fenomena “kupu-kupu” di perut saat gugup ternyata berkaitan erat dengan sumbu otak-usus. Begini penjelasan ilmiah para ahli.
Kebiasaan jalan kaki setelah makan sering diremehkan, padahal memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh dan mental.
Mengonsumsi apel secara rutin, terutama tanpa mengupas kulitnya, terbukti mendukung kesehatan jantung.
Kurangnya asupan serat prebiotik akan membuat feses yang dihasilkan saluran pencernaan menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved