Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian makanan bergizi yang mudah ditelan kepada anak yang sedang terserang penyakit influenza atau flu.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subs Resp (K) menyampaikan bahwa anak-anak biasanya susah makan ketika sedang sakit.
"Memang ketika anak sakit, termasuk ketika terkena flu, itu amat sulit untuk mengonsumsi makanan seperti halnya ketika dia sehat," katanya dalam diskusi daring, dikutip Jumat (3/10).
Ketika sedang flu, anak bisa mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, dan lemas. Gejala-gejala tersebut menimbulkan ketidaknyamanan pada anak.
Dalam kondisi yang demikian, Nastiti menyarankan orangtua menyajikan makanan bergizi yang mudah ditelan seperti bubur.
Bubur yang dibuat dengan menambahkan kaldu serta produk makanan cair yang tersedia di pasaran bisa dijadikan sebagai pilihan, tentunya dengan memperhatikan kandungan gizi makanan.
Menurut Nastiti, bubur maupun produk makanan cair yang kandungan karbohidrat, protein, dan lemaknya dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak bisa dijadikan sebagai pengganti makanan padat ketika anak sedang sakit.
Makanan yang bisa membuat saluran pencernaan bekerja lebih keras seperti makanan berlemak tinggi, makanan berminyak, makanan bersantan, dan makanan pedas sebaiknya tidak diberikan kepada anak ketika sedang terserang flu.
"Terutama lagi, sebetulnya, kalau anak itu tidak mau makan, itu cairan yang penting harus cukup karena cairan sangat diperlukan," kata Nastiti.
"Ketika makan tidak mau, bubur tidak mau, susu bisa digunakan sebagai pengganti makanan untuk mencukupkan cairan maupun energi yang diperlukan oleh anak," ia menambahkan.
Ia mengatakan, orangtua perlu mencari cara untuk memastikan kebutuhan anak akan cairan terpenuhi agar tidak sampai mengalami dehidrasi.
Nastiti menyampaikan pentingnya orangtua mewaspadai serangan penyakit influenza pada anak, karena bisa memicu munculnya komplikasi yang membahayakan.
Ia mengatakan bahwa tingkat rawat inap anak usia satu sampai empat tahun akibat influenza dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan anak dalam kelompok usia lainnya.
Menurut dia, infeksi virus influenza bisa menyebabkan komplikasi seperti pneumonia, croup (infeksi saluran nafas atas), dan bronkitis pada paru-paru serta peradangan pada otot maupun selaput jantung.
"Influenza juga diasosiasikan dengan toxic shock syndrome, myositis, myoglobinuria,dan gagal ginjal," katanya.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, penyakit influenza atau flu disebabkan oleh infeksi virus influenza tipe A, B, dan C.
Penyakit yang menyerang sistem pernapasan ini dalam banyak kasus hanya menyebabkan gejala ringan, tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius pada bayi dan anak balita.
Gejala flu pada bayi dan anak balita dapat berupa demam tinggi yang tiba-tiba, batuk kering, sakit tenggorokan, pilek, sakit kepala, kelelahan dan lemas, serta nyeri otot dan sendi.
Penularan penyakit influenza bisa dicegah dengan menjalani vaksinasi flu tahunan, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta menghindari kontak dekat dengan penderita flu. (Ant/Z-1)
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Istilah super flu saat ini sedang ramai diperbincangkan seiring meningkatnya kasus influenza.
Pahami alasan medis mengapa vaksin influenza diberikan setahun sekali, mulai dari mutasi virus hingga masa perlindungan antibodi dalam tubuh.
Musim hujan memicu lonjakan berbagai penyakit infeksi pada anak, mulai dari influenza, campak, hingga cacar air, yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.
Musim hujan maupun masa pancaroba menjadi salah satu faktor risiko meningkatnya kasus flu dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved