Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SAAT ini suhu rata-rata global pada permukaan Bumi meningkat 0,74 ± 0,18°C (1,33 ± 0,32 °F) selama 100 tahun terakhir. Hal ini disebabkan pemanasan global atau global warming yang menyebabkan efek gas rumah kaca.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Model iklim yang dijadikan acuan oleh IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1,1 hingga 6,4°C (2,0 hingga 11,5°F) antara 1990 dan 2100.
Dengan begitu, kita sangat perlu untuk memahami penyebab dari efek rumah kaca dan dampaknya agar bisa melindungi Bumi ini. Simak ya penjelasan di bawah ini.
1. Asosiasi Energi New Mexico, Amerika Serikat (AS)
Efek rumah kaca merupakan kejadian saat panas di Bumi terperangkap karena terhalang gas emisi seperti karbon dioksida pada atmosfer. Gas emisi itu sebagian besar berasal dari asap kendaraan, pabrik, serta kebakaran hutan.
2. Badan Perlindungan Lingkungan (AS)
Efek rumah kaca merupakan proses meningkatnya suhu rata-rata permukaan Bumi akibat menipisnya lapisan atmosfer Bumi yang juga bisa berdampak pada kebocoran. Hal itu mengakibatkan cuaca di Bumi semakin panas lantaran sinar matahari tidak lagi dilindungi oleh lapisan atmosfer.
3. Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam
Efek rumah kaca merupakan krisis lingkungan dan kemanusiaan yang tengah terjadi di Bumi. Suhu permukaan Bumi semakin meningkat karena terperangkap oleh gas karbon dioksida yang semakin banyak dari hari ke hari. Hal itu menjadikan Bumi semakin panas dan berpotensi menimbulkan bencana.
Gas-gas yang menyumbang efek rumah kaca di antaranya uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), ozon (O3), nitrous oksida (N2O), CFC (chloro fluoro carbon), serta HFC (hydro fluoro carbon). Gas-gas itu sebenarnya diperlukan agar Bumi tidak terlalu dingin.
Namun, sejak revolusi industri, gas-gas seperti karbon dioksida, metana, dan gas berbahaya lain kian bertambah di atmosfer. Konsentrasinya pun semakin meningkat imbas ulah manusia. Apabila konsentrasi gas-gas rumah kaca kian meningkat di atmosfer, efek rumah kaca akan semakin besar.
Efek rumah kaca memiliki dampak yang tidak sedikit. Apabila kita tidak segera bergerak untuk menanggulanginya, efek rumah kaca akan semakin besar dan bisa mengancam kehidupan.
1. Pemanasan global
Karena efek rumah kaca bisa menyebabkan pemanasan global, tentu akan mengancam semua ekosistem. Ini lantaran suhu Bumi naik yang juga dibahas dalam buku Pemanasan Global.
2. Mencairnya es di kutub
Dampak selanjutnya yaitu mencairnya es di kutub yang berimbas pada keberlangsungan ekosistem. Mencairnya es tersebut mengakibatkan kenaikan air laut yang dapat menenggelamkan daerah-daerah rendah.
3. Kerusakan ekosistem dan tingkat keasaman laut tinggi
Dampak selanjutnya laut akan kian asam lantaran konsentrasi gas-gas rumah kaca meningkat. Asamnya air laut bisa mematikan terumbu karang dan ekosistem lain.
4. Menipisnya lapisan ozon
Terakhir, lapisan ozon yang menipis bisa menyebabkan bahaya sinar ultraviolet sampai ke permukaan Bumi.
Efek rumah kaca disebabkan meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lain di atmosfer. Meningkatnya konsentrasi gas CO2 disebabkan banyaknya penggunaan bahan bakar minyak, batu bara, dan bahan bakar organik lain yang melebihi kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.
Energi yang masuk ke Bumi sekitar 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25% diserap awan, 45% diserap permukaan Bumi, dan 10% dipantulkan kembali oleh permukaan Bumi. Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi.
Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan Bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 serta gas lain sehingga dikembalikan ke permukaan Bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan. Dengan gas rumah kaca, perbedaan suhu antara siang dan malam di Bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca ialah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO), dan nitrogen dioksida (NO2), serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
1. Hemat energi listrik
Kita bisa menggunakan listrik seperlunya saja. Dengan demikian, kita dapat berkontribusi dalam upaya mengurangi pemakaian batu bara yang dapat menimbulkan emisi gas karbon dioksida di udara.
2. Beralih dari pupuk kimia ke organik
Guna meningkatkan hasil pertanian, kita tidak harus menggunakan pupuk kimia atau nonorganik. Sebaliknya, kita bisa menggunakan pupuk organik dengan kadar optimal agar bisa menghasilkan pertanian yang melimpah. Jika penggunaan pupuk nonorganik bisa berkurang, emisi gas N2O juga akan berkurang.
3. Menggunakan bahan bakar ramah lingkungan
Bahan bakar ramah lingkungan memang masih jarang ditemukan di Indonesia, semisal panel surya dan bahan bakar listrik. Bahan bakar itu dikatakan ramah karena tidak menghasilkan polutan yang membahayakan lingkungan.
4. Mengolah limbah peternakan
Limbah menjadi salah satu di antara penyumpang gas rumah kaca, terutama limbah peternakan. Guna mengurangi emisi karbon dioksida dan metana, limbah dapat diolah menjadi biogas. Biogas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil.
5. Menggalakkan reboisasi
Reboisasi menjadi satu di antara banyak solusi untuk mengatasi emisi gas rumah kaca di udara. Tumbuhan hasil reboisasi itu akan menyerap karbon dioksida dan uap air sebagai bahan baku fotosintesis.
6. Batasi penggunaan plastik
Plastik ialah senyawa polimer yang sangat sulit terdegradasi di dalam tanah. Salah satu cara mengurangi limbah plastik ialah dengan membakarnya. Namun, pembakaran itu akan menghasilkan gas karbon dioksida yang jumlahnya tidak sedikit. Oleh sebab itu, batasilah penggunaan plastik dengan cara membawa botol air minum sendiri atau membawa tas kain ketika berbelanja. (OL-14)
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Panas ekstrem juga bisa merusak sistem aliran air di dalam pohon. Udara dapat masuk ke saluran air tanaman, sehingga aliran air terhambat.
Riset terbaru mengungkap ekspansi titik panas laut dalam memicu munculnya badai monster di atas Kategori 5. Ilmuwan usulkan klasifikasi baru "Kategori 6".
Para ilmuwan menilai tingkat kecerahan Bumi melalui pengukuran albedo, yakni kemampuan planet memantulkan sinar Matahari kembali ke luar angkasa.
“Menurut Data KLHK (2023) sampah makanan sebesar 41,4% dari total sampah di Indonesia. Setiap orang menyumbang sampah makanan sebesar 115–184 kg per tahun,”
TERBITNYA Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 dinilai sebagai tonggak penting bagi Indonesia dalam membangun ekonomi hijau.
PT Mitra Kiara Indonesia (MKI), perusahaan terafiliasi Semen Indonesia Group (SIG), mengambil langkah penting menuju dekarbonisasi industri.
WMO laporkan kadar CO2 global capai rekor tertinggi pada 2024. Lonjakan emisi ini mempercepat pemanasan bumi dan ancam keseimbangan iklim dunia.
PT Astra Agro Lestari meraih Anugerah Ekonomi Hijau berkat dua inovasi strategis di industri kelapa sawit. Dua inovasi itu meliputi teknologi methane capture dan pupuk organik Astemic.
Fenomena Hujan Carnian atau Carnian Pluvial Episode (CPE) adalah sebuah peristiwa geologis yang terjadi sekitar 232 juta tahun lalu pada periode Trias Akhir
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved