Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Dorong Energi Hijau dan Kurangi Impor, Pertamina Mulai Bangun Biorefinery Cilacap

Lilik Darmawan
06/2/2026 22:10
Dorong Energi Hijau dan Kurangi Impor, Pertamina Mulai Bangun Biorefinery Cilacap
Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina (Persero) Emma Sri Martini dan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra berada di lokasi Groun(MI/LILIK DARMAWAN)

PT Pertamina (Persero) memulai pembangunan proyek hilirisasi tahap pertama Biorefinery Pertamina Cilacap melalui Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase I Biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah pada Jumat (6/2). 

Proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut menjadi langkah penting dalam percepatan transisi energi sekaligus penguatan ketahanan energi berbasis sumber daya domestik.

Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, mengatakan proyek biorefinery merupakan program andalan perseroan dalam mendukung pengembangan energi ramah lingkungan serta mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar. “Proyek ini tidak hanya bagian dari hilirisasi industri, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan energi hijau, pengurangan impor, dan penurunan emisi karbon,” ujar Emma usai acara.

Dia menjelaskan, pada tahap awal fasilitas Biorefinery Cilacap telah beroperasi dengan kapasitas produksi sekitar 5.000 barel per hari. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 6.000 barel per hari pada fase berikutnya.

Menurutnya peningkatan kapasitas produksi tersebut akan memberikan dampak ganda, baik dari sisi pengurangan impor bahan bakar maupun penurunan emisi gas rumah kaca. Proyek ini diperkirakan mampu menekan emisi karbon hingga sekitar 600 ribu ton CO2. “Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga dinilai memiliki nilai ekonomi signifikan. Berdasarkan kajian Pusat Riset Fakultas Universitas Indonesia, biorefinery Cilacap berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp199 miliar,”katanya. 

Emma menambahkan, dampak sosial proyek ini juga cukup besar, terutama dalam penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan masyarakat di rantai pasok bahan baku. Pertamina memperkirakan sekitar 2,9 juta kepala keluarga dapat terlibat dalam ekosistem penyediaan bahan baku, dan jumlah tersebut diproyeksikan terus bertambah.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menyebut produk utama dari fasilitas ini adalah bahan bakar berkelanjutan atau sustainable fuel yang pengembangannya telah dimulai sejak 2023. “Produk sustainable fuel sudah kami perkenalkan sejak 2023 dan terus dikembangkan. Sejumlah maskapai juga telah menjalin komitmen komersial,” ujarnya.

Pertamina Patra Niaga, kata Ega, telah menandatangani kerja sama dengan sejumlah maskapai penerbangan, baik dalam negeri maupun internasional, termasuk Pelita Air, Cathay Pacific  dan beberapa maskapai lainnya.

Dari sisi pasokan bahan baku, pengumpulan minyak jelantah dilakukan dengan melibatkan masyarakat melalui berbagai titik pengumpulan serta bekerja sama dengan asosiasi pengepul. Menurut Ega, kebutuhan bahan baku yang besar membuka peluang partisipasi luas masyarakat.

Ke depan, pengumpulan minyak jelantah akan terus diperluas sebagai gerakan nasional agar manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh warga.

Sementara Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto mengungkapkan  dari sisi teknologi, proyek tersebut didukung kemampuan dalam negeri, termasuk penggunaan katalis hasil karya anak bangsa yang diproduksi oleh Pertamina Group. “Sebagian besar teknologi dan desain sudah menggunakan sumber daya dalam negeri, meskipun lisensi teknologi tertentu masih berasal dari luar negeri,” jelasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya