Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BRIN mendorong pemerintah daerah mempercepat penerapan teknologi Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengelolaan sampah organik. Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah (RID) BRIN, Yopi, menjelaskan berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK tahun 2024, dari 342 kabupaten/kota yang melaporkan, hanya sekitar 32% atau 37,3 juta ton sampah per tahun yang terkelola dengan baik.
“Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan, komposisi sampah organik mendominasi timbunan sampah tersebut. Artinya, lebih dari separuh beban TPA bisa ditangani langsung dengan teknologi yang tepat,” ujar Yopi, Selasa (9/12).
Ia mengungkapkan, kondisi lapangan sangat berlawanan dengan potensi tersebut, karena lebih dari 70 TPA di Indonesia masih menggunakan open dumping dan banyak TPA di kota kecil maupun menengah telah mencapai kapasitas maksimum.
“Emisi metan gas rumah kaca yang muncul juga sangat berkontribusi besar untuk gas rumah kaca. Kemudian, beban penanganan sampah akan menghabiskan porsi dari APBD, dan kurang menciptakan berbagai macam nilai tambah,” terangnya.
Yopi menekankan persoalan sampah organik tidak hanya terkait lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat dan ekonomi daerah. “Dalam konteks inilah inovasi pengelolaan sampah berbasis BSF menjadi salah satu opsi yang semakin relevan pada saat ini,” ujarnya.
Menurutnya, teknologi BSF memiliki tiga keunggulan utama. “Pertama, bisa mengurangi efek gas sampah sampai 70–90% dalam waktu singkat,” ungkapnya.
Selain itu, teknologi ini menghasilkan produk bernilai tambah seperti maggot dan kompos. Yopi pun menyampaikan dorongan BRIN kepada pemerintah daerah agar memperkuat pengembangan produk unggulan lokal.
“Efek samping positif dari inovasi BSF ini seperti maggot dan kompos jelas akan memperkuat rantai nilai pertanian, peternakan dan perikanan, dan lain-lainnya,” tuturnya.
Ia berharap upaya ini dapat diadopsi lebih luas oleh pemda untuk menyelesaikan permasalahan daerah secara lebih efesien, efektif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Widyaiswara BPSDMD Provinsi NTB sekaligus Site Manager BSF Lombok, Aula Sakinah Muntasyarah, memaparkan sampah makanan masih menjadi penyumbang terbesar dalam komposisi sampah nasional.
“Menurut Data KLHK (2023) sampah makanan sebesar 41,4% dari total sampah di Indonesia. Setiap orang menyumbang sampah makanan sebesar 115–184 kg per tahun,” ujarnya.
Ia menegaskan tingginya potensi yang hilang akibat food waste. “Jika dimanfaatkan mampu mencukupi kebutuhan gizi 61–125 juta orang di Indonesia. Kerugiannya mencapai Rp 213–551 T per tahun, food waste menyumbang 7,29% emisi GRK per tahun. Indonesia merupakan negara penyumbang sampah makanan terbesar di ASEAN yaitu 14,73 juta ton per tahun,” papar Aula.
Aula juga membahas pola pengelolaan sampah Indonesia yang masih didominasi pembuangan ke TPA. Secara nasional 60%–70% sampah di Indonesia dibawa ke TPA, sisanya dibakar, dibuang secara ilegal, dan dikubur.
Peristiwa longsor TPA Leuwigajah disebut menjadi titik balik bagi banyak daerah dalam memperbaiki manajemen sampah dan mengadopsi konsep 3R. Aula mengungkap saat ini terdapat sekitar 59 ribu TPS di seluruh Indonesia, dengan pengelolaan yang dilakukan pemerintah daerah maupun sektor informal.
Ia menjelaskan bahwa efektivitas BSF terbukti tinggi dalam mengolah sampah organik. “Larva BSF dapat mengolah sampah organik hingga mencapai 56%, dan BSF Lombok pernah mencatatkan tingkat konversi sampah organik sebesar 50%,” ungkapnya.
Proses pengolahan berjalan cepat, kurang lebih 17 hari, pun dengan biaya pendirian fasilitas dan pengelolaannya relatif lebih murah. Hasil sampingnya berupa beberapa produk yang dapat digunakan kembali untuk ketahanan pangan. Sampah yang dapat diolah pun beragam, mulai dari sampah organik perkotaan hingga sisa pengolahan makanan dan limbah rumah potong hewan. Produk maggot juga dapat mendukung pelestarian ekosistem.
“Larva BSF merupakan pakan ternak berprotein tinggi dengan kandungan protein 45%–60% dengan harga terjangkau,” jelasnya.
Dari pengalamannya selama lima tahun mengelola fasilitas BSF Lombok, Aula menekankan pentingnya kesiapan organisasi lokal. Apabila ingin mereplikasi BSF Lombok, harus menyediakan kelompok pengelola fasilitas atau dibentuk bersamaan dengan proses pembangunan infrastruktur. Pun pembangunan fasilitas harus disertai peningkatan kapasitas komunitas pengelola.
“Pelibatan tokoh lokal adalah penting,” tuturnya sambil menambahkan bahwa faktor-faktor seperti waste assessment, regulasi pendukung, pasar, sarana prasarana, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan BSF.
“Integritas dan kolaborasi dengan berbagai pihak juga penting, serta monitoring dan evaluasi terus menerus dilakukan, dan sebagainya."(M-2)
"Ini gratis untuk masyarakat, sebagai wujud tanggung jawab pemerintah daerah. Ke depan, kami menargetkan Desa Kaliabu menjadi kampung mandiri energi,"
Hingga saat ini, belum ada sampah sisa MBG yang terbuang karena langsung diambil oleh pihak vendor, sehingga penanganan sampah masih berjalan dengan baik.
KEPALA Subdit Ditjen KLHK Yuli Prasetyo Nugroho menuturkan terdapat beberapa kearifan lokal dari masyarakat adat yang dapat menjadi contoh dalam pengelolaan sampah sisa makanan (food waste).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved